Anomali Cuaca, Kerusakan Hutan dan Bencana Hidrometeorologi: Sebuah Kritik


MutiaraUmat.com -- Apakah kita mulai tersadar bahwa alam sedang tak baik-baik saja? Tiba-tiba di perjalanan terjebak macet karena terkepung banjir. Banyak pula kejadian tak terduga di mana banyak kendaraan tertimpa pohon tumbang atau ada tetangga kita yang atap rumahnya hilang terbawa angin puting beliung. Meski tak separah dengan bencana hidrometeorologi yang menimpa saudara kita di Sumatra, kita perlu merenung dan introspeksi, apakah hutan di sekitar tempat tinggal kita mampu menjadi tameng bagi anomali cuaca yang kian tak menentu, di mana curah hujan dalam satu bulan bisa tumpah airnya hanya dalam waktu satu malam?

Masyarakat Individualistik dengan Kebijakan Kapitalistik

Masyarakat hari ini yang individualistik cenderung menutup mata dengan kondisi di sekitarnya. Kesadaran sosial acap kali datang terlambat atau baru mulai tumbuh saat dirinya menjadi korban dan terdampak secara langsung. Individualisme adalah kondisi yang by design dari sebuah sistem hidup yang lebih besar, dalam hal ini adalah kapitalisme. Kapitalisme membentuk cara pandang bahwa kebahagiaan diukur dari seberapa banyak nilai keuntungan materi yang bisa dikumpulkan, tanpa peduli halal haram dan dampak bagi sekitar. Lalu bagaimana jika manusia-manusia individualis ini diberikan wewenang untuk mengambil kebijakan? Tentu untung rugilah yang jadi patokan, bukan maslahat dan mafsadat bagi masyarakat.

Apabila berkaca dari sudut pandang kapitalis, tentu pembangunan bisa disesuaikan dengan dalih peningkatan pertumbuhan ekonomi. Namun, perlu disadari bahwa bencana banjir misalnya, yang bisa jadi bermula dari masifnya pembangunan ekonomi justru akan menghambat pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Harta, aset dan infrastruktur yang hancur tersapu bencana, seharusnya membuat kita berpikir, apalah arti pertumbuhan ekonomi jika malah mengundang bencana yang menimbulkan kerugian besar?

Belum lagi dampak dari pembangunan ekonomi kapitalistik yang lain, seperti climate change. Singkatnya, industri skala besar yang memang niscaya dalam sistem kapitalisme mendorong eksploitasi alam secara masif demi profit dan menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya, suhu bumi naik dan menyebabkan anomali cuaca yang ekstrem. Kondisi alam yang kian berubah ini seharusnya menjadi momentum untuk saling mengingatkan betapa pentingnya kesadaran sosial dan melek akan kebijakan publik. Memikirkan kondisi dan mengoreksi kebijakan publik juga adalah bentuk kepedulian kita sebagai sesama muslim yang saling menyayangi. Bahkan hal ini telah diperingatkan oleh baginda Rasulullah Saw. "Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun tidak memikirkan urusan umat Islam, maka dia bukanlah bagian dari umatku." (HR. Muslim).

Membangun Kesadaran Politik Islam dan Urgensi Kebijakan Politik Islam

Sebagai Muslim, sudah semestinya kita menumbuhkan kesadaran politik Islam dan memahamkan kepada masyarakat betapa pentingnya melek politik Islam. Tidak perlu menunggu bencana datang atau korban berjatuhan, justru segala potensi akal dan kemampuan kita seharusnya digunakan untuk melihat, menganalisis, sekaligus mencegah agar tidak terjadi bahaya di tengah-tengah masyarakat. Sebab syariat Islam sedari awal diterapkan memiliki tujuan untuk melindungi jiwa, agama, akal, harta dan keturunan.

Indikator keberhasilan suatu negara dalam pandangan Islam, tidak dilihat dari pertumbuhan ekonomi semata, melainkan terpenuhinya kebutuhan dasar tiap individu rakyat. Oleh karena itu, urgensi kebijakan politik Islam akan tampak tatkala negara secara langsung mengelola SDA untuk kepentingan rakyat, menjamin distribusi kekayaan yang adil dan mengintervensi ketika ada individu rakyat yang gagal memenuhi kebutuhan pokoknya. Ibarat bila ada bencana yang merenggut semua harta benda rakyat, maka ada Negara yang mengintervensi pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat yang terdampak bencana.

Dalam hal pengelolaan SDA, janganlah samakan Islam dengan paradigma kapitalisme yang tamak dan rakus. Kapitalisme meniscayakan pengelolaan SDA tambang, hutan dan air secara ugal-ugalan demi keuntungan. Maka Islam dengan kesempurnaan risalahnya justru mengelola SDA berdasarkan asas pemenuhan kebutuhan rakyat, bukan memenuhi segala keinginan dan segala kepentingan. Hal ini berarti pengelolaan SDA ala Islam juga memperhatikan kelestarian dan keberlangsungan hutan, misalnya. Dengan lestari dan terjaganya hutan, keberlangsungan hidup manusia pun dapat lebih terjamin dan terhindar dari bencana yang disebabkan oleh Kerakusan manusia terhadap alam.

Demikian sekelumit gambaran politik Islam (pengaturan urusan rakyat berdasarkan syariat Islam) yang harusnya makin membuat kita tersadar bahwa bukan saatnya kita berdiam diri, over thinking, bahkan sakit mental karena pesimis dengan kebijakan negara dalam menangani bencana. Justru kita harus survive, lebih serius lagi belajar Islam lebih dalam. Terutama dalam rangka membangun dan menumbuhkan kesadaran politik Islam di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lam bishshawab.[]


Oleh: Mimin Nur Indahsaru, S.Si.
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar