Waktu: Karunia yang Tak Pernah Bisa Diulang
MutiaraUmat.com -- Waktu adalah satu-satunya nikmat yang Allah berikan kepada semua manusia secara adil. Tidak peduli status, profesi, kekayaan, atau gelarnya, semua orang mendapatkan jumlah jam yang sama setiap hari. Tapi yang membedakan adalah bagaimana kita mengisinya.
Dalam hidup ini, yang paling berharga bukan panjangnya usia, tapi bagaimana usia itu digunakan.nAllah berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-‘Asr ayat 1–3,
1. Wal-‘ashr
(Demi masa.)
2. Innal insaana lafii khusr
(Sungguh, manusia berada dalam kerugian.)
3. Illalladziina aamanu wa ‘amilus shoolihaat, wa tawaashau bil-haqqi wa tawaashau bis-shabr
(Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran).
Imam Syafi’i sampai berkata tentang surat ini, “Seandainya manusia merenungi surat ini saja, itu sudah cukup sebagai pelajaran.”
(Mafhum dari penjelasan Imam Syafi’i dalam tafsir-tafsir klasik).
Karena surat Al-‘Asr mengungkapkan sesuatu yang sangat tajam bahwa kita semua sedang mengalami kerugian, kecuali yang memanfaatkan waktu dengan iman, amal salih, kebenaran, dan kesabaran.
Waktu itu tidak bisa diputar ulang. Yang lalu jangan diingat-ingat terus, karena kita sudah tidak tinggal di sana. Yang kemarin sudah menjadi arsip takdir yang tidak bisa diedit, tidak bisa dihapus. Yang bisa kita edit hanyalah hari ini, dan yang bisa kita perjuangkan hanyalah hari esok.
Ulama besar Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Seorang hamba memiliki waktu yang jika hilang, tidak akan pernah kembali. Waktu adalah modal hidup. Jika modal itu habis, maka habislah keuntungan.” (Madarij as-Salikin, 3/187)
Artinya, waktu bukan sekadar angka, tapi modal utama manusia menuju akhirat. Semakin banyak waktu yang hilang sia-sia, semakin besar kerugian yang kita kumpulkan sendiri.
Makanya dalam hidup ini, kita harus belajar seni melepas. Masa lalu biarlah lewat. Luka lama biarlah mengering. Pintu yang sudah ditutup Allah jangan dipaksa dibuka lagi. Sadar! Kita sudah tidak tinggal di masa lalu, rumah baru kita adalah hari ini.
Yang harus dilakukan adalah
terus fokus memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki.
Tidak perlu menyesali yang sudah hilang. Tidak perlu menyiksa diri dengan “seandainya”. Karena sabda Nabi Saw,
“Seandainya membuka pintu perbuatan setan.”
(HR. Muslim)
Yang kita punya hanya sekarang. Hanya moment ini. Hanya detik yang sedang berjalan.
Waktu itu bukan sekadar menjalani hidup, sob, tapi kesempatan untuk bertobat, beramal, memperbaiki diri, dan berlomba mencari ridha Allah.
Harus paham, kita ini sedang berjalan menuju kematian, bukan menjauhinya. Setiap hari yang hilang, satu langkah lebih dekat pada pintu akhirat. Karena itu dunia tidak boleh menipu kita dengan kesenangannya.
Allah Swt sudah mengingatkan, “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (TQS. Ali ‘Imran: 185)
Dunia hanya sementara. Akhirat selamanya. Maka sangat bodoh jika kita menukar sesuatu yang abadi dengan sesuatu yang cuma sementara.
Terlalu banyak orang yang sibuk mengejar gemerlap dunia sampai lupa memperbaiki hatinya, lupa memperbaiki salatnya, lupa memperbaiki akhlaknya, lupa menghadirkan Allah dalam hidupnya.
Padahal waktu itu seperti pedang, kata para ulama salaf
“Jika kamu tidak memotongnya, waktu akan memotongmu.”
Dan benar saja, sang waktu terus bergerak lurus tanpa jeda. Tidak peduli apakah kita sedang bahagia, sedang patah hati, sedang sibuk, atau sedang terpuruk. Waktu tetap jalan, tidak menoleh ke belakang, dan tidak menunggu siapa pun.
Karena itu gunakan waktu untuk hal yang membawa pahala, bukan penyesalan.
Gunakan untuk memperbanyak sujud, bukan memperbanyak keluhan. Gunakan untuk mendekat kepada Allah, bukan semakin jauh dari-Nya. Gunakan untuk memperbaiki diri, bukan menyakiti diri.
Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dalam luka lama, drama manusia, atau urusan yang tidak punya nilai akhirat.
Waktu adalah karunia paling lembut sekaligus paling tegas. Kalau disia-siakan, ia pergi tanpa pamit dan tidak pernah kembali.
Maka hiduplah dengan kesadaran bahwa,
Setiap detik adalah bekal.
Setiap menit adalah peluang.
Setiap hari adalah kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Waktu tidak akan pernah kembali. Tapi kita masih bisa kembali kepada Allah, sebelum waktu kita beramal didunia fana ini habis.[]
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar