Era Baru Digitalisasi, Pembatasan Medsos jadi Solusi?
MutiaraUmat.com -- Anak-anak dan remaja saat ini tengah berasa diera gencarnya arus digitalisasi. Menurut penelitian bahwa anak-anak dan remaja telah menghabiskan waktu lebih dari 3 jam perhari untuk mengakses sosial media. Tentunya hal tersebut membawa dampak nyata mulai dari rapuhnya kesehatan mental, burn out hingga rentan terhadap pelecehan seksual. Mengatasi kondisi ini negara mengambil kebijakan membatasi akses media sosial bagi anak.
Menurut Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan (JPPI) Ubaid Matraji mengungkapkan rendahnya literasi generasi muda saat ini menjadi salah satu alasan kuat pembatasan akses media sosial bagi anak-anak. Menurutnya anak harus kembali “dipaksa” berinteraksi dengan buku, teks panjang, analitis, dan mendalam untuk meningkatkan kemampuan dalam berpikir kritis saat berinteraksi ditengah arus informasi & teknologi digital. (Kompas.com, 17/12/25)
Faktanya bahwa pembatasan akses media sosial bukanlah solusi hakiki atas permasalahan ini. Pembatasan sosial media hanya bersifat administratif. Anak masih bisa mengakses media sosial melalui fake account. Bahkan pembatasan akses ini telah mengecualikan game online yang seharusnya menjadi salah satu sumber permasalahan.
Hal ini tentunya tidak bisa lepas dari sistem kapitalisme yang mengontrol negeri ini. Pemikiran kapitalistik mengakibatkan pengambilan keputusan dan kebijakan tidak sepenuhnya untuk menyelesaikan masalah. Apa saja yang dipandang masih bisa untuk menghasilkan pundi-pundi keuntungan akan tetap dipertahankan meskipun mengorbankan masa depan.
Oleh karena itu generasi muslim harus diselamatkan dari bahaya digitalisasi kapitalis. Hal tersebut hanya bisa dilakukan dalam sistem Islam. Islam memiliki seperangkat aturan syariat yang akan menjaga, membina dan memuliakan generasi sehingga tidak menyia-nyiakan masa muda untuk sesuatu yang tidak berguna.
Upaya tersebut didukung oleh tiga pilar kehidupan. Mulai dari keluarga, masyarakat dan negara. Keluarga menjadi pilar awal pembentuk karakter, kepribadian hingga ketaqwaan individu. Masyarakat turut andil dalam amar ma’ruf nahi mungkar menjaga generasi agar tidak tergelincir kedalam jurang kemaksiatan.
Negara memiliki peran vital dalam menjaga generasi diruang digital. Dalam islam negara akan membangun back bone internet sendiri. Sehingga infrastruktur digital mulai dari properti digital hingga aksesnya berada dibawah kendali khilafah. Hal ini akan memutus ketergantungan kepada teknologi Barat.
Khilafah akan membangun teknologi mutakhir digital yang akan senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan guna menggetarkan musuh-musuh Allah dan kaum muslimin. Dalam hal penjagaan khilafah akan memasukkan literasi digital dalam kurikulum pendidikan guna melahirkan generasi berkualitas. Memberikan pemahaman tentang literasi digital kepada setiap individu muslim akan mendukung terciptanya ruang digital aman bagi generasi. Menguatnya akses digital yang dibarengi dengan literasi digital akan melahirkan generasi muda yang siap mencurahkan seluruh potensi besarnya untuk tegaknya kembali peradaban Islam. Wallahu a’laam
Oleh: Yosie Purwanti, S.E
Pemerhati Generasi
0 Komentar