Berbagai Bencana Mendera, Rakyat Menanti Keseriusan Penanganan Negara


MutiaraUmat.com -- Terjadi banjir, longsor, hingga putingbeliung di beberapa daerah. Tanah longsor menerjang Desa Situkung, KecamatanPandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (15/11/2025) sekitarpukul 16.00 WIB. (Kompas.com, 17/11/2025)

Tanah longsor menimbun sejumlah rumah wargadi Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Puluhan warga dilaporkan masih hilang akibat bencana ini. (Detik.com, 14/11/2025)

Belum selesai bencana terjadi di Banjarnegara dan Cilacap. Bencana banjir bandang dan tanah longsor telah melanda sebagian besar wilayah Pulau Sumatera sejak akhir November 2025, memicu krisis kemanusiaan dan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Peristiwa bencana alam ini telah merenggut sedikitnya 62 nyawa, membuat puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, dan memutus akses vital di tiga provinsi utama: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. (Liputan6.com, 28/11/2025)

Bencana alam yang terus terjadi diberbagai wilayah di Indonesia seharusnya membuat kita berfikir lebih mendalam bahwa ini semua bukan semata terjadi karena kuasa Allah SWT. Melainkan bencana alam banyak terjadi akibat kesalahan tata kelola ruang hidup dan lingkungan yang dilakukan oleh manusia yang serakah. Sistem kapitalisme yang diterapkan dinegeri ini telah menciptakan berbagai kerusakan di alam. Alam telah kehilangan kesimbangan nya akibat eksploitasi yang berlebihan yang dilakukan oleh para pengusaha. Sistem ekonomi Kapitalisme telah memberikan ruang bebas pada pemilik modal untuk menguasai apa saja tanpa batas sekalipun dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Maka, bencana alam ini adalah bukti nyata adanya kerusakan lingkungan.

Selain itu, penanganan bencana yang lamban menunjukan sistem mitigasi masih lemah dan tidak komprehensif, baik pada tataran individu, masyarakat dan negara. Pemerintah sebagai penanggung jawab penanganan bencana tidak serius menyiapkan kebijakan preventif dan kuratif dalam mitigasi bencana. Akibatnya ketika bencana itu terjadi, memakan korban jiwa cukup banyak. Bahkan akibat dari bencana hingga saat ini masih dirasakan oleh masyarakat dengan sulit nya akses listri, komunikasi, keperluan kebutuhan makan dan lain-lain. Sungguh miris. Padahal seharusnya negara hadir sesegera mungkin memberikan berbagai pelayanan nya terbaiknya agar masyarakat segera pulih baik fisik maupun mental rakyat akibat bencana ini.

Sungguh jauh berbeda dengan Islam. Para
digma Islam soal bencana alam memiliki dua dimensi (ruhiyah dan siyasiyah). Dalam dimensi ruhiyah, memaknai bencana sebagai tanda kekuasaan Allah SWT yang tidak satu pun manusia mengetahui kapan datang nya bencana tersebut dan bagaimana cara nya. Masyarakat harus dipahamkan tentang ayat-ayat dan hadits terkait bencana akibat ulah manusia, merusak alam itu dosa dan membahayakan kehidupan. Sedangkan dari dimensi siyasiyah yaitu berkaitan dengan kebijakan, tata kelola ruang dan mitigasi bencana. Dengan begitu, masyarakat akan berusaha semaksimal mungkin menjaga keseimbangan alam dan jika terjadi bencana akan mengahadapi nya dengan sikap ridho.

Negara dalam Islam akan melakukan mitigasi bencana secara serius dan komprehensif dalam rangka menjaga keselamatan jiwa rakyatnya. Semua ini akan dilakukan oleh negara melalui berbagai kebijakan yang akan mendukung mitigasi bencana. Semua pihak harus mempunyai tanggungjawab yang sama untuk tidak merusak alam. Namun, saat bencana terjadi, pemerintah bertanggung jawab memberikan bantuan secara layak, pendampingan, hingga mampu menjalani kehidupannya secara normal kembali pasca bencana. 

Negara Islam (khilafah) harus hadir untuk menjalankan tanggungjawab mengurusi urusan rakyat baik dalam keadaan normal apalagi dalam keadaan tertimpa bencana. Khilafah juga akan mengawasi adanya perusak linkungan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Serta akan memberikan sanksi yang tegas jika terjadi pelanggaran. Khilafah akan selalu hadir memastikan keberlangsungan hidup masyarakat terlebih lagi saat terjadi bencana. Sebab, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di Yaumil Akhir.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Pipit Ayu
Aktivis Muslimah

0 Komentar