Menolak Nasionalisme, Mengembalikan Peran Generasi pada Jalan Islam


MutiaraUmat.com -- Dalam rangka acara memperirngati hari Santri, Presiden Republik Indonesia, menyampaikan selamat hari Santri Nasional Tahun 1447 Hijriah. Dalam momen ini Presiden Republik Indonesia mengajak para santri di seluruh Indonesia untuk memiliki semangat juang dengan ilmu pengetahuan, iman, taqwa, dan memiliki kecintaan terhadap tanah air, serta turut merebut, mempertahankan dan menjaga kemerdekaan Indonesia,” ujar Presiden Prabowo dalam video yang ditayangkan pada kanal Youtube Sekretariat Presiden, pada Jumat (24/10/2025).

Namun dalam acara tersebut banyak perhatian publik dengan serangkaian acara seremonial, seperti upacara, kirab, baca kitab sampai festival sinema. Dalam acara tersebut Presiden Republik Indonesia menyampaikan pidato dengan tema, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia”, Presiden Prabowo menggambarkan sebagai cerminan tekad santri masa kini untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Meski demikian, Presiden Prabowo menekankan bahwa seorang santri juga harus siap menjadi bagian dari kemajuan global tanpa melepaskan akar nilai keislaman dan keindonesiaan.

Permainan dalam Sitem Kufur

Perlu kita pahami bahwa memperingati hari santri seharusnya dijadikan momentum untuk membangkitkan semangat perjuangan pada diri santri dan mendorong untuk menjadi agen perubahan di tengah-tengah umat umat. Namun disayangkan dalam acara memperingati hari santri tersebut hanya dijadikan sebagai penanaman ide kapitalis yaitu dengan mendorong para santri menjungjung tinggi nilai nasionalisme (kecintaan terhadap tanah air). Momen hari santri dijadikan sebagai peluang untuk mempengaruhi pemikiran kaum muslim, maka jelas tujuannya bukan untuk membangkitkan umat tetapi menjadi sarana barat masuk dalam tubuh kaum muslim. Sejak Islam runtuh pada tahun 1924 kehidupan Islam runtuh dari akarnya. Setalah ini Islam hanya dianggap sebatas ibadah ruhiyah dan muncullah sistem kufur. Dalam sistem inilah lahir ide nasionalisme dalam tubuh kaum Muslim. 

Ide nasionalisme tentu memiliki bahaya bagi generasi jika ide pemikiran tersebut ditanamkan di tengah-tengah dunia pendidikan. Nasionalisme tentu jelas memiliki dampak yang besar pada diri kaum muslim. Ide ini muncul dari sudut pandang barat yang memiliki visi menghancurkan pemikiran kaum Muslim di seluruh dunia. Ide ini menciptakan perpecah belahan kaum Muslim di seluruh dunia. Sehingga lahir generasi yang di tidak memiliki kepekaan pada kondisi umat di seluruh dunia. Mendorong para santri untuk berkiblat kepada barat. Santri tidak diarahkan memiliki visi dan misi jihad melawan para penjajah. Peran strategis santri dan pesantren justru dibajak untuk kepentingan mengokohkan sistem sekuler kapitalisme yang kufur. 

Jika kita memerhatikan lebih lanjut, sebenarnya nasionalisme merupakan suatu konsep asing yang menyimpang dari Islam. Ide nasionalisme menyerukan kepada persatuan dalam lingkup yang kecil bukan pada lingkup yang menyeluruh yang didasarkan kepada ikatan kekeluargaan dan kesukuan. Sedangkan seharusnya dalam Islam justru menyatukan seluruh manusia berdasarkan akidah Islam, yaitu keimanan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, tanpa memandang suku, bangsa ataupun warna kulit. Bahkan, Islam sangat melarang persatuan berdasarkan ikatan kesukuan karena ikatan ini dapat memecahkan kaum Muslim di seluruh dunia.

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kalian mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam. Berpeganglah kalian kepada tali (agama). Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliah). bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan amarah hati kalian, lalu menjadikan kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” (TQS Ali Imran: 102–103).

Situasi dalam Islam

Dalam Islam peran strategis pesantren tidak boleh dialihkan. Visi pesantren harus tetap lurus pada jalan politiknya sebagai wadah bagi generasi Islam untuk membangun pemikiran Islam dan peradaban Islam. Pemimpin akan mendorong generasi muda untuk berkepribadian Islam dan memiliki tekad dalam membela islam. Pasantren akan membentuk pemikiran Islam yang berlandaskan kepada aqidah Islam. Seseorang akan dibentuk menjadi seorang yang bersaksiyah islam yang tidak hanya paham masalah ibadah spiritual tapi bagaiamna menjadi seorang pejuang Islam yang sejati dan tidak menjadi sosok yang abai terhadap kondisi permasalahan yang terjadi. 

Tentunya dalam Islam akan dibentuk sosok pejuang yang tangguh tidak mengenal lelah dalam menjaga Islam. Tentu sosok pejuang yang lahir dalam sistem islam telah tergambarkan pada sosok pejuang islam yang tangguh yaitu Muhammad al fatih. Sosok yang berhasil menaklukkan konstatinopel di turki dengan Islam. Tentu keberhasilan ini dihasilkan dari sosok yang dalam pendidikannya ditanamankan jiwa pejuang. Sosok seperti ini tentu di didik dengan tsaqofah Islam dan jiwa yang ditanamkan jiwa yang tangguh dan mendedikasikan hidupnya untuk membela kebenaran. Negara bertanggungjawab penuh untuk mewujudkan tujuan, menjadikan pasantren untuk mencetak para santri fakih fiddin yang siap melawan penjajah dan kezaliman yang ada di muka bumi ini. Para santri akan menjadi garda terdepat jika hal yang bertentangan dengan Islam terjadi. 

Negara berperan dalam menjamin hak pendidikan, menyusun kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam, dan menciptakan lingkungan dengan ketakwaan melalui sistem pergaulan Islam. Tidak kalah penting, orang tua harus memiliki bekal pemahaman Islam secara kafah agar tidak salah dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Dengan begitu, anak-anak tumbuh dalam suasana kondusif dan tercipta kepribadian Islam yang unik dan khas. Momen memperingati hari santri dijadikan sebagai wadah untuk mendorong para santri menjadi oleh negara Islam. Tentu sebagai kaum muslimin kita terus melakukan dakwah di tengah-tengah kaum muslimin, agara para umat paham bahwa problem yang terjadi hari ini bisa diselesaikan dengan kembalinya sistem Islam. []


Apriani
Aktivis Muslimah

0 Komentar