Konflik Sudan Dalam Kacamata Islam


MutiaraUmat.com -- Sudan kembali jadi sorotan dunia. Kota El Fasher Ibukota Darfur utara, kini porak-poranda. Setelah dikuasai oleh pasukan paramiliter (RSF). Dan dalam dua hari saja, ribuan warga sipil dilaporkan tewas. Termasuk ratusan orang yang dibunuh di rumah sakit. Dunia menyebutnya sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terburuk tahun ini. Rumah sakit dibakar, warga berbondong-bondong melarikan diri dan kota menjadi ladang kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengecam keras pembunuhan pasien dan tenaga medis. Sementara lembaga HAM internasional menyebut ada kejahatan perang. Krisis ini bukan sekedar konflik militer, tetapi juga pertempuran atas kemanusiaan. Ditengah abainya para pemimpin dunia, jeritan rakyat Sudan kian menggema. (Republika, 31 Oktober 2025)

Sudan adalah negara kaya akan sumber daya alam. Hasil tambang seperti minyak dan emas juga tanah pertanian yang subur dengan hasil yang melimpah ruah. Lokasi negaranya juga strategis secara geopolitik. Jika ini semua dikelola sesuai syariat Islam maka kekayaan Sudan akan menyejahterakan warganya. Sehingga tidak akan terjadi kelaparan dan konflik yang berkepanjangan sebagaimana yang terjadi saat ini.

Sebaliknya, karena konflik yang terjadi tidak diselesaikan dengan sistem Islam secara utuh, ditambah ikut campurnya negara Barat maka konflik di Sudan tetap berlangsung hingga saat ini. Sebagai umat muslim kita harus memahami bahwa konflik yang terjadi di Sudan hanya salah satu dari sekian banyak akibat dari penerapn sistem kapitalisme sekuler. Pemisahan agama dari kehidupan semakin menancapkan sekat-sekat nasionalisme. Pada akhirnya, berbagai negara adidaya saling berebut kekayaan alam di negeri-negeri muslim seperti Sudan.

Di balik perang yang terjadi antara militer Sudan dan paramiliter milik masyarakat Sudan yang memberontak, maka pelatihan, senjata yang mereka miliki dan pendanaan perang diduga adanya campur tangan dari negara-negara besar penjajah seperti Amerika maupun Inggris.

Negeri Sudan adalah negeri yang penuh keberkahan, karena ulama-ulamanya memiliki tsaqofah Islam yang sangat tinggi. Tetapi dengan adanya ulama dan orang-orang cerdas ini tentu belum bisa menjadi sumber solusi, tanpa adanya pemerintahan dan sistem politik yang menggunakan tsaqofah Islam secara menyeluruh.

Konflik di Sudan menunjukkan pada kita bahwa keberadaan negara adidaya seperti Amerika dan Inggris tidak boleh kita harapkan sebagai solusi menyelesaikan konflik yang terjadi. Intervensi negara Amerika Serikat dan Inggris di Sudan masuk melalui ide demokrasi dan alasan mengelola sumber daya alam dengan dalih investasi. Cara ini memang efektif untuk melakukan penjajahan, bukan penjajahan fisik tetapi penjajahan ekonomi. Yang membuat mereka leluasa menguasai sumber daya alam di negeri Muslim.

Setelah Myanmar, Uyghur, India dan Gaza, kini Sudan juga menjadi kawasan penderitaan umat Islam. Pasukan sokongan negara adidaya Amerika Serikat mencabik darah kaum Muslim di Sudan. Mereka melecehkan para muslimah disana. Padahal tak ada nyawa yang paling mahal nilainya disisi Allah SWT melainkan nyawa seorang mukmin.

Rasulullah bersabda: "Hancurnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada pembunuhan seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Ibnu Majah).

Faktanya yang terjadi saat ini adalah para pemimpin dunia muslim mengkhianati rakyatnya dengan menjalin hubungan mesra dengan negara kafir penjajah. Dan ironisnya lagi, sebagian umat Islam malah mendukung aktifitas tersebut. Padahal tindakan mereka telah menyalahi sunah Rasulullah SAW:

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya itu (disakiti).” (HR. Al-Bukhari).

Penjajahan terhadap kaum muslim tidak akan terjadi seandainya umat masih memiliki pelindung yang ditakuti penjajah yakni Khilafah. Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai, orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepada dirinya" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah SWT menyegerakan pertolongannya kepada umat ini agar Khilafah Islamiyah segera tegak. Karena hanya dengan itu kehormatan agama dan umat ini dapat terjaga.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Devi Anna Sari
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar