Islam Menjawab Fenomena Bunuh Diri Remaja


MutiaraUmat.com -- Remaja adalah masa penuh semangat dan energi, namun masih membutuhkan arah dan bimbingan agar potensi itu tidak hilang sia-sia, melainkan tumbuh menjadi kekuatan yang bermanfaat. Kondisi remaja saat ini, tak jauh dari ungkapan tersebut. Mereka begitu bersemangat dan penuh dengan kemauan, ketika melakukan apapun yang menjadi kegemaran mereka. 

Namun di sisi lain, ditemukan para remaja salah jalan dalam menindaklanjuti segala hal yang mereka hadapi. Benar adanya bahwa remaja masih memerlukan bimbingan untuk melangkah lebih jauh. Tanpa arahan dan bimbingan yang tepat, mereka akan menemukan pahitnya hidup, bahkan akibat fatal bisa terjadi kepada mereka.

Remaja adalah api yang menyala—penuh gairah, tapi belum tahu ke mana arah nyalanya.” (Aristoteles)

Kabar tentang remaja saat ini digemparkan dengan penemuan 2 remaja yang bunuh diri di Jawa Barat dan 2 yang lain di Sumatra Barat. Tanpa menelisik sebab kematian 4 remaja tersebut, bisa dipastikan bahwa mereka mempunyai masalah hingga memutuskan untuk bunuh diri. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (30/10/2025), mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang menunjukkan lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental. Data ini diperoleh dari sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa. Masalah memang tak memilih tuannya. Siapapun akan dihampiri, tak terkecuali remaja. 

Prof. Dr. Malik Badri (Bapak Psikologi Islam) mengatakan, “Orang yang merasa ingin mengakhiri hidup sesungguhnya sedang berteriak minta dipahami, bukan minta dihakimi.” Malik Badri menekankan bahwa keinginan bunuh diri adalah tanda penderitaan jiwa yang mendalam, bukan kelemahan iman semata. Ia berpendapat bahwa gangguan mental adalah bentuk ujian dan penyakit jiwa yang membutuhkan kasih sayang, bukan stigma. Dalam bukunya “The Dilemma of Muslim Psychologists”, ia menulis bahwa seorang muslim harus menyeimbangkan terapi psikologis dengan nilai spiritual, karena keduanya membantu menyembuhkan luka batin.

Solusi Belum Menyentuh Akar Masalah

Kejadian bunuh diri pada 4 remaja tersebut telah ditindaklanjuti oleh pemerintah untuk dengan cepat. Penyelidikan lebih lanjut terhadap kasus bunuh diri pelajar, dan menonaktifkan kepala sekolah sebagai bagian dari proses investigasi, langsung ditempuh oleh pihak yang berwenang dalam kasus ini. Upaya pencegahan juga telah dilakukan oleh pihak kesehatan daerah setempat dengan melakukan skrining gratis bagi remaja. Pengecekan tersebut meliputi kesehatan fisik dan mental. Pemda Jawa Barat juga mengadakan program edukasi dan kegiatan kesadaran kesehatan mental secara umum. Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat dan sekolah-kerjasama dengan Rumah Sakit Jiwa Prof. H.B. Saanin menggelar layanan deteksi dini gangguan mental emosional untuk remaja pada acara Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2025. BPJS Kesehatan di Sumatera Barat menyatakan bahwa layanan kesehatan jiwa kini dijamin dalam skema JKN, mempermudah akses untuk semua lapisan masyarakat. Berbagai upaya telah dilakukan oleh negara tapi sesungguhnya perlu adanya penguat dari aspek yang lain. 

Masalah remaja muncul dikarenakan banyak hal. Kehidupan kapitalis sekuler saat ini memungkinkan remaja menghadapi masalah dalam kehidupannya. Kehidupan yang jauh dari nilai-nilai agama, sikap individualis yang semakin menjerat manusia, juga gaya hidup hedon saat ini menambah runyamnya pikiran remaja. Keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, dan keimanan mungkin menjadi sumber masalah bagi para remaja. Semua aspek ini seharusnya disentuh oleh kebijakan negara sehingga dapat memberikan dukungan kuat bagi remaja dari segala sisi.

Sementara saat ini, kebijakan negara belum mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi remaja sehingga remaja masih merasa tertekan dengan berbagai masalah sehingga terbersit keinginan untuk bunuh diri. Kebijakan komprehensif sangat dibutuhkan untuk menuntaskan kasus bunuh diri pada remaja. Kebijakan parsial tak akan efektif, bahkan memicu datangnya masalah yang baru bagi remaja.

Islam Selalu Punya Solusi

Islam adalah agama yang mempunyai serangkaian aturan sebagai panduan hidup bagi manusia. Islam mempunyai tuntunan bagaimana manusia mampu menjalani hidup dengan bahagia, nyaman, dan aman. Untuk level negara pun, Islam mempunyai petunjuk bagaimana negara bisa memimpin dan melindungi rakyatnya sehingga kehidupan berjalan mulus.  

Pertama, keberadaan negara dalam Islam adalah untuk mengurus serta melindungi rakyatnya. Allah berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59).

Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan ulil amri (pemimpin atau pemerintah) adalah bagian dari tatanan Islam untuk mengatur urusan umat dan menegakkan keadilan, ketertiban, serta kemaslahatan masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis tersebut, terkandung maksud bahwa pemimpin (termasuk kepala negara) berkewajiban mengurus, melindungi, dan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, karena ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak.

Kedua, pendidikan diselenggarakan untuk menjadikan manusia menjadi hamba Allah yang taat. Pendidikan dijalankan dengan landasan Islam sehingga keimanan akan terbentuk sejak dini hingga pendidikan tinggi. Hal ini akan menjamin materi yang diberikan dalam semua jenjang pendidikan, akan sejalan dengan pemikiran Islam.

Ketiga, kehidupan sosial akan tegak dengan landasan Islam. Interaksi antara laki-laki dan wanita akan terjaga dengan aturan Islam yang ditegakkan oleh negara. Dengan begitu, pergaulan antara laki-laki dan wanita pun menjadi teratur, tidak campur baur. Kebijakan negara mengkondisikan masyarakat bermuamalah dengan tetap menjaga keimanannya, sehingga mereka menjalani hidup patuh dengan syari’at.

Keempat, terkait dengan pengurusan kepada keluarga, Islam menjadikan pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan, keamanan, kesehatan, dan pendidikan menjadi tanggung jawab negara. Sementara, negara tetap mewajibkan laki-laki dewasa untuk bekerja, menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya. Pengaturan ini menjadikan masyarakat, khususnya laki-laki, untuk semangat bekerja dan jauh dari sifat malas. Jaminan kebutuhan dasar dari negara juga memungkinkan orang tua tetap mempunyai waktu untuk bercengkrama dengan anak-anaknya sehingga masyarakat hidup harmonis dan kebutuhan tercukupi.

Demikianlah, ketika kehidupan ini dijalankan dengan menerapkan aturan Sang Pencipta, karunia dan rahmat akan tumbuh subur di kehidupan manusia. Kondisi ini akan menjadikan masyarakat hidup bahagia, aman, dan tentram. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A‘raf [7]: 96). []


Oleh: Dewi Susanti
Aktivis Muslimah

0 Komentar