Mutiaraumat.com -- Bukan cuma ibu, sosok ayah pun memiliki peran krusial dalam keluarga. Dengannya anak-anak akan meneladan dan menjadikannya figur pemimpin serta pelindung. Mereka akan merasa nyaman dan aman atas perlindungannya.

Namun apa jadinya, ketika tumbuh kembang anak luput dari pengasuhan seorang ayah, ataupun adanya seorang ayah secara fisik, namun mengabaikan peranannya?

Fenomena ini disebut fatherless. Yakni kondisi seorang seorang anak yang tidak mendapatkan pengasuhan dan perhatian yang cukup dari seorang ayah dikarenakan berbagai faktor. Fenomena fatherless di Indonesia kini tengah menjadi isu sosial yang mengkhawatirkan. 

Berdasarkan data UNICEF pada tahun 2021, sekitar 20,9 persen anak Indonesia kehilangan peran dan kehadiran ayah dalam keseharian mereka. Sementara itu menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam periode yang sama, hanya 37,17 persen anak usia 0-5 tahun yang diasuh secara penuh oleh kedua orang tuanya.

Fakta mengejutkan dari 15,4 juta anak yang tumbuh fatherless, 4,4 juta diantaranya tinggal di keluarga tanpa ayah. Dan 11,5 juta anak yang sebenarnya tinggal bersama ayah yang memiliki jam kerja lebih dari 60 jam per pekan atau lebih dari 12 jam per hari. Ini artinya, seorang ayah lebih banyak menghabiskan waktunya berada di luar rumah daripada bersama keluarganya (voi.id, 11/10/25).

Dampak Fatherless dan Pendapat Ahli

Dari berbagai pendapat para ahli di 16 kota di Indonesia, dampak fatherless pada anak adalah munculnya rasa minder atau sulit membangun kepercayaan diri dan mental yang labil. Seorang anak yang mengalami kondisi fatherless, di antaranya akan memicu tindakan negatif seperti kriminal, korban atau pelaku kekerasan, sulit berinteraksi sosial, dan menurunnya prestasi akademik.

Adapun berbagai pendapat para ahli bahwa yang melatarbelakangi kondisi ini ialah berakar dari dua faktor utama, yaitu budaya patriarki dan tuntutan ekonomi. Budaya patriarki telah menanamkan pandangan bahwa tugas seorang ayah adalah mampu bekerja keras menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga tanpa harus ikut terlibat dalam pengasuhan anak, menemani belajar, berbincang, atau sekedar bermain bersama. 

Kemudian tekanan ekonomi terutama di kota-kota besar yang menuntut seorang ayah bekerja lebih keras hingga lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah. Namun ironisnya, sebuah keluarga kerap kali terjebak pada kesibukan gawainya dibanding berkumpul dan berbincang bersama. 

Tentu, kondisi ini sangat memperihatinkan dan patut mendapat penanganan dari berbagai elemen yang terkait. Karena, masa depan sebuah bangsa terletak pada generasi muda yang akan datang. Maka untuk membentuk generasi berkualitas haruslah dimulai dari pendidikan dan pengasuhan keluarga yang berkualitas pula.

Kapitalisme Telah Merenggut Fungsi Ayah

Jika dicermati lebih dalam, kondisi gatherless tidak lahir dari ruang hampa, melainkan buah dari tatanan hidup yang tegak mengatur manusia yakni sekuler kapitalistik. 
Aturan hidup hanya berorientasi pada capaian materi dan kebebasan sebagai tolok ukur kebahagiaan. Menihilkan peran agama sebagai aturan yang mengatur kehidupan kecuali hanya sebagai praktik ibadah kerohanian semata. 

Walhasil, kesibukan mencari nafkah karena tekanan ekonomi kerap menyita waktu ayah untuk sekadar membersamai keluarga. Kemudian pola asuh yang salah dari orang tua menyebabkan seorang anak laki-laki tidak paham fungsinya sebagai qawwam (pemimpin) di kemudian hari setelah ia menikah. 

Pola patriarki yang salah menafsirkan keqowwam-an pada laki-laki menyebabkan adanya kesenjangan antara peran dan kedudukan suami-istri, bukan sebagai partner kehidupan. Pemahaman tersebut kemungkinan besar akan terulang ketika ia menjalani kehidupan rumah tangga. Kecuali ia mau berubah dan memahami Islam sebagai panduan hidup.

Kebahagiaan Keluarga Hakiki Hanya Dalam Islam 

Dalam Islam, ayah dan ibu sama-sama memiliki peran penting yakni ayah sebagai pemberi nafkah dan teladan dalam pendidikan bagi anak-anaknya.
"(ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, "wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan Allah itu benar-benar kezaliman yang besar.” (TQS. Al-Lukman :13).

Dalam Islam sistem perwalian akan menjamin setiap anak tetap memiliki figur seorang ayah yang mendidik, menafkahi, juga melindungi. Baik itu dari jalur ayah kandung atau ibu seperti orang tua ayah, saudara ayah, dan seterusnya. Semuanya memiliki peran dan tanggungjawab yang sama sebagai pengganti ayah. Begitu juga seorang ibu berperan penting dalam mengasuh, menyusui, mendidik, dan mengatur rumah tangga.

Negara juga tidak menitikberatkan tanggung jawab keluarga hanya pada individu orang tua semata. Karena, negara akan berperan dalam melindungi dan mensupport agar peran ayah bisa berjalan maksimal dengan membuka lapangan kerja dengan upah layak, memberikan jaminan kehidupan, memastikan setiap individu masyarakat terpenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan sehingga ayah memiliki waktu yang cukup bersama anak dan keluarga. 

Karena dalam hal ini penguasa adalah raa'in yakni pelindung dan penanggung jawab atas segala urusan umat. Ia menyadari tentang kedudukannya yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. sehingga memunculkan rasa takut dengan amanah yang dipikulnya.

Begitu juga dalam penerapan sistem ekonomi Islam dipastikan negara memiliki sumber pendapatan yang banyak serta pendistribusian harta yang adil. Rasulullah Saw. bersabda "Kaum muslim itu berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, Padang gembalaan, dan api. Menjualnya adalah haram". (HR. Ibnu Majah)

"Apa saja harta rampasan perang yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang muslim, dan orang-orang yang dalam perjalanan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu". (TQS. Al-Hasyr :7)

Negara juga berkewajiban mendidik semua masyarakat dengan tsaqofah Islam, agar masyarakat paham dan mengamalkan ajaran Islam dan memberlakukan sanksi tegas terhadap segala pelanggaran hukum syarak.

Hanya dengan penerapan Islam secara kaffah yang akan menjadikan bangunan keluarga kuat dan melahirkan generasi berkualitas. Sebagai penopang peradaban mulia dan penebar rahmat bagi seluruh manusia. Semua itu hanya akan lahir dari peradaban Islam bukan peradaban Sekuler-Kapitalisme. Wallahu alam bisshowwab[]

Oleh: Anggia Widianingrum
(Aktivis Muslimah)