MBG Sayang, Ananda Malang
MutiaraUmat.com -- Gratis, mendengarnya tentu kita merasa senang menerima. Apalagi kalau persoalan perut, tentu paling pertama alias diutamakan. Sebagaimana program pemerintah yaitu MBG (Makan Bergizi Gratis) telah berjalan dan hampir seluruh wilayah negeri ini mendapatkannya. Namun sayang, program tersebut ternyata kini mulai muncul masalah. Sebagian anak-anak mengalami keracunan setelah mengkonsumsi MBG.
Dikutip dari salah satu laman nasional menyebutkan bahwa Helmi Hasan (Gubernur Bengkulu) telah menegaskan kegiatan MBG di Kabupaten Lebong dihentikan untuk sementara waktu. Beliau menyampaikan bahwa akan memulihkan kondisi para siswa yang keracunan sembari menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang. Pengelola MBG ini seharusnya taat pada SOP yang telah ditetapkan bersama. (kompas.com, 30/08/2025)
Ironis memang, melihat fakta yang terjadi saat ini. Padahal secara riil, kegiatan MBG ini adalah salah satu bentuk usaha yang dilakukan oleh pemerintah guna terwujudnya Indonesia Emas 2045. Sekaligus mengatasi masalah stunting serta malnutrisi pada ibu hamil dan anak-anak. Namun yang terjadi justru sebaliknya, di luar dari ekspektasi. Bahkan kasus tersebut menjadi sesuatu yang akhirnya berbahaya bagi anak-anak di negeri ini.
Jujur, bagi seorang ibu tentu akan merasa was-was dan khawatir melihat fakta di atas tadi. Karena belum ada jaminan pasti bahwa makanan yang ada enak dan aman dikonsumsi oleh para generasi di negeri ini. Walaupun pemerintah sendiri mungkin sudah menetapkan sebuah lembaga untuk mengawasi jalannya program ini. Akan tetapi, masalah keracunan tadi tetap ada alias terjadi. Tidak hanya di satu wilayah saja, melainkan di beberapa wilayah mengalami kasus keracunan tersebut. Dapat kita pikirkan bersama bahwa ternyata begitu sulit untuk mengawasi kegiatan MBG ini. Belum lagi persoalan lain yang muncul. Mulai dari dana yang dipakai mengambil dari mana, hitam putih dengan penyedia MBG, dan yang lainnya.
Berbicara soal MBG, tentunya kita ingat benar dengan masa-masa kampanye pemilihan umum orang nomor satu. Dan MBG ini menjadi salah satu program andalan Presiden RI yang saat menjabat. Padahal belum tahu dana yang akan dipakai pelaksanaan program tersebut. Mengingat tumpukan utang negeri ini sudah sangat menjulang tinggi.
Jika kita telusuri mendalam, bahwa program yang disebutkan oleh calon pemimpin negeri ini masih seputar untuk memetik simpati masyarakat. Yang penting programnya bagus dan berjalan, tentu masyarakat akan gembira. Padahal belum tentu bisa berjalan dengan baik serta lancar dalam kurun waktu lama. Pasalnya, negeri ini dalam kondisi terpuruk dan belum mampu bangkit sempurna. Banyak orang yang di PHK dengan alasan krisis ekonomi di perusahaan dan belum mendapatkan pekerjaan kembali. Angka kriminalitas semakin tinggi, kemiskinan makin meroket, serta yang lainnya. Mungkin akan sangat wajar jika para calon pemimpin negeri ini merancang program-program yang dirasa akan membantu masyarakat. Walaupun pada kenyataan membuktikan sangat jauh dari kata 'membantu atau meringankan' masyarakat. Semua itu patut diduga karena pola pikir yang terbentuk sesuai dengan sistem yang ditetapkan saat ini. Sekuler telah membentuk manusia menjadi sosok yang mampu dengan tegas memisahkan persoalan agama dengan kehidupan ini. Sehingga yang terjadi adalah manusia jauh dari agamanya serta sibuk untuk mencari solusi atas seluruh persoalan kehidupan ini. Termasuk kapitalis telah membentuk manusia menjadi sosok yang terus saja berkecimpung dengan perihal untung rugi serta manfaat. Dengan begitu, maka sekali lagi penulis katakan bahwa amat wajar jika program atau kebijakan yang ada sangat jauh dari kata penyelesaian masalah manusia. Ibarat gali lubang tutup lubang, tak akan pernah selesai. Satu dapat diatasi, namun muncul dja atau tiga masalah lagi. Artinya sama saja belum bisa mencari akar persoalannya. Lagi dan lagi, yang menjadi korban adalah rakyat kecil.
Tentu akan berbeda jika Islam dijadikan sebagai sistem kehidupan manusia. Islam telah mendidik para muslim untuk senantiasa taat dan patuh terhadap Allah Swt. dengan memakai hukumNya untuk seluruh urusan kehidupan manusia tanpa kecuali. Dengan landasan keimanan tadi, akan membentuk insan yang taat sekaligus mempunyai cara pandang hanya pada Islam. Seluruh kegiatan yang akan dilakukannya tentu akan merujuk ke sana. Termasuk juga bagi seorang pemimpin, maka ia akan selalu berkaca dengan sandaran Islam saja, bukan yang lainnya. Berbagai kebijakan serta program yang ada ditimbang dengan Islam sebagai barometernya. Termasuk juga menilik akar masalah yang ada dalam kehidupan harus dapat sampai pada akarnya, bukan ranting atau dahannya saja. Sehingga program yang ada tidak bersifat teknis semata atau menguntungkan sebagian pihak saja. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah saw.
"Imam adalah raa'in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. " (HR. Imam Bukhari)
"Sesungguhnya al Imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya." (HR. Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)
Dipertegas dengan hadis di atas bahwa pemimpin adalah pelindung rakyat yang nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di Yaumil Akhir. Maka pemimpin harus sungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya dan mengurusi seluruh urusan rakyatnya. Apalagi yang berbau kebutuhan pokok, maka wajib segera untuk dipenuhi tanpa basa basi. Pemimpin juga berkewajiban untuk membuka lapangan pekerjaan secara luas, agar para penanggung nafkah dapat menunaikan amanahnya dengan baik. Mampu memenuhi kebutuhan keluarganya dengan baik dan sempurna. Nah, inilah yang seharusnya dijalankan oleh para pemimpin, bukan solusi praktis yang terlihat bagus namun hasilnya menuai banyak masalah baru. Nah, ini menjadi tugas pemimpin untuk dapat membaca seluruh masalah yang ada dengan memunculkan solusi hakiki yang seharusnya dijalankan. Tentu semua itu harus merujuk kepada Islam agar keberkahan itu turun dari langit dan keluar dari perut bumi. Tak lupa adalah agar rida Allah Swt. dapat kita Terima dan rasakan selama hidup di dunia ini.
Terakhir, semua akan dapat terwujud sesuai dengan harapan manakala Islam ditetapkan dalam kehidupan. Dalam bingkai sebuah institusi yang akan menerapkan Islam secara sempurna dan menyeluruh. Termasuk pemimpin yang ada akan amanah serta taat hanya pada Allah semata. Dan insyaAllah tak akan lagi ada masalah keracunan dalam makanan karena ada yang mengontrol itu semua.
Wallahu a'lam bishshawab. []
Oleh: Mulyaningsih
Pemerhati Anak dan Keluarga
0 Komentar