Keracunan MBG Terus Berulang, Hanya Islam Mampu Atasi Hingga Tuntas
MutiaraUmat.com -- Kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berulang sejak program ini diluncurkan. Wilayah dan jumlahnya yang terkena kian melebar dan bertambah. Kasus terbaru terjadi di Sleman dan Lebong pada akhir Agustus 2025, yang mengenai ratusan siswa.
Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mencatat sebanyak 4.000 siswa menjadi korban keracunan program ini dalam delapan bulan terakhir. “korban keracunan tidak bisa dianggap sekedar angka statistic. Ini menunjukan lemahnya perencanaan dan pengawasan program, “ kata Izzudin dalam diskusi daring bertajuk Menakar RAPBN 2026 : Arah kebijakan UMKM, Koperasi dan Ekonomi Digital, Kamis, 4 September 2025.
Padahal di satu sisi program MBG ini sejatinya menggurangi malnutri, stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (generasi muda) dan diharapkan memperkuat ekonomi melalui keterlibatan masyarakat dalam UMKM sehingga harapannya memberikan stabilitas harga pangan. Namun pada prakteknya program ini masih jauh dari tujuannya.
Kapitalisasi Program MBG semakin terlihat ini ditandai dengan adanya berbagai praktek penyelewengan di antaranya:
Pertama adanya keterlibatan pihak ketiga yang pastinya akan mengambil keuntungan, kedua membuka peluang indutrialisasi agrikultur, ketiga pemangkasan anggaran disektor strategis, keempat membuka peluang bagi korupsi sistemik akibat lemahnya tata kelola.
Program MBG sebenarnya bukan sebuah solusi preventif. Kasus stunting sebenarnya adalah efek dari kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Stunting bisa diatasi jika ibu semasa kehamilan terpenuhi gizinya. Hal ini tidak semua masyarakat mampu memenuhinya sebab harga barang yang terus menjulang tinggi dengan daya beli yang kecil akibat kemiskinan.
Faktor lain adalah praktik pengasuhan yang buruk, kondisi lingkungan yang tidak sehat sehingga banyak anak balita yang terjangkiti berbagai penyakit. Belum lagi akses Kesehatan tidak merata dan memadai menjadi pemicu tingginya angka stunting.
Dari paparan hal yang tidak mungkin jika stunting bisa diatasi namun program yang dilaksanakan tidak solutif. Negara yang berazaskan kapitalis tentu tidak akan menjadikan rakyat sebagai tujuan dalam setiap regulasinya. Kepetingan dan keuntungan akan menjadi ciri didalamnya.
Namun sebaiknya Islam akan hadir sebagai sebuah solusi yang solutif dengan mencari pokok permaslahan hingga akar, dan memberikan penanganan terhadap permasalahan menurut perspektif Islam.
Pertama. Sistem kepemerintahan Islam akan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu rakyat yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Pada sektor pangan negara harus memastikan bahwa harga barang yang beredar tidak menzalimi rakyatnya.
Melakukan pengelolaan sumber daya alam secara mandiri oleh negara akan membuka peluang pekerjaan bagi rakyatnya. Keuntungannya dikembalikan kepada masyarakat. Sehingga setiap masyarakat pasti akan mampu membeli kebutuhan keluarganya.
Kedua. Peningkatan sumber daya manusia dengan pendidikan yang terbaik dari segi kurikulumnya, penyediaan akses yang merata dan memadai serta penyediaan tenaga pengajar yang kompatibel. Output dari Pendidikan akan menghasilakn ilmuan yang dapat berkontribusi bagi negara ini.
Ketiga. Negara menyediakan pelayanan kesehatan secara gratis dan berkualitas dengan mekanisme pelayanan yang mudah diakses dan tidak dikomersialisasikan.
Keempat. Negara mampu menghadirkan pengembangan teknologi digital yang sesuai dengan nilai agama Islam dengan mendorong membuat konten yang bermanfaat dan mendidik dengan mencegah penyebaran konten negatif yang berbau pornografi. Sehingga dengan hadirnya media sosial ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi generasi muda.
Di dalam peradaban Islam sejarah mencatat banyak sosok pemimpin yang berhasil mensejahterkan rakyatnya melalui kebijakannya yang berlandaskan nilai Islam. Dimulai pada masa kepemimpinan rasulullah yang mampu mengajarkan bekerja keras, pola hidup sederhana serta mendorong kedermawan dengan konsep tolong menolong. Konsep penanaman akidah yang benar akan mengarahkan setiap masyarakat mampu berpikir dan bersikap berstandarkan Islam.
Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang dengan waktu yang singkat mampu mereformasi sistem ekonomi masyarakatnya dengan menciptakan kesejahteraan yang merata dengan memastikan penyebaran zakat. Dalam beberapa sejarah mencatat hampir tidak ada lagi orang miskin yang mau menerima zakat karena kesejahteraan yang sudah merata. Kesejahteraan itu tidak hanya dirasakan oleh manusia, beliau pernah melakukan pembagian gandum di atas gunung untuk makan burung-burung yang ada di sana.
Pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah pernah mengadakan dapur umum yang menyediakan makanan bagi masyarakat yang membutuhkan secara gratis yang dikenal sebagai Imaret. Ini merupakan salah satu bentuk perhatian Daulah terhadap kesejahteraan rakyatnya. Wallahu a'lam bishshawab. []
Putri Rahmi D.E., S.ST
Aktivis Muslimah
0 Komentar