Jurnalis: Pena Tajam, Amal Jariyah, dan Jalan Istiqamah


MutiaraUmat.com -- Kalau ditanya kenapa profesi jurnalis itu menarik bagiku?Jawabannya simpel, karena kita bukan sekadar nulis berita, tapi lagi bikin ladang pahala jariyah.

Setiap huruf yang ditulis dengan niat amar makruf nahi mungkar bisa jadi “koin surga” yang nggak ada inflasinya.

Di tengah dunia yang makin absurd orang bisa rela antri iPhone semalaman tapi malas hadir kajian satu jam, namun jurnalis justru punya jalan mulia, yaitu mengungkap kebenaran, nyadarin umat, sekaligus menampar wajah penguasa zalim.

Pena Lebih Tajam dari Pedang

Kalau dulu jihad itu turun ke medan perang dengan pedang, sekarang ada jihad model pena. Nabi Saw pernah bersabda, “Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Nah, jurnalis sejati itu bukan sekadar nyari berita “artis cerai” atau “influencer buka bisnis baru.” Tapi nulis fakta pahit yang orang lain ogah bahas, seperti tragedi Gaza, rakyat miskin kehabisan oksigen, pejabat makan gaji buta, sampai DPR yang hobi ngeluh gaji kecil padahal tunjangannya setinggi langit.

Pena itu tajam kalau dipakai ngelawan kezaliman, maka itulah yang bikin profesi ini bernilai.

Wanita Cerdas Lebih Mahal dari Tas Branded

Di era flexing, ukuran nilai perempuan kadang nyasar tas Hermes, skincare Korea, atau liburan ke Eropa. Padahal nilai sejati ada di otaknya.

Perempuan yang paham politik Islam, yang bisa jelasin kenapa pajak zalim dan zakat mulia, jauh lebih berharga ketimbang selebgram yang kerjaannya cuma jual mimpi.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an Az-Zumar ayat 9 yang artinya, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” 

Jawabannya jelas nggak sama dan jurnalis Muslimah yang nulis dengan ilmu itu lebih elegan ketimbang 1000 feed Instagram penuh filter.

Melihat Penderitaan Membuat Hati Lembut

Banyak orang hidupnya sibuk bandingin motor tetangga, iri sama cincin teman, atau pusing mikirin likes. Tapi jurnalis sering ngadepin realita getir, balita mati karena gizi buruk, rumah rakyat rata sama banjir, atau Gaza dibombardir tanpa henti.
Justru di situlah hati jurnalis ditempa. Lebih tenang, lebih lembut, karena setiap hari diingatkan bahwa hidup bukan soal flexing, tapi soal memperjuangkan nasib umat.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa tugas kita adalah mengembalikan umat pada Islam kaffah, bukan larut dalam sistem kapitalis yang bikin kaya makin kaya dan miskin makin miskin. 

Jurnalis yang istiqamah itu ibarat “corong ideologis” yang nggak cuma ngasih fakta, tapi juga solusi khilafah yang akan menghapus ketidakadilan.

Jurnalis Ideologis Sang Penjaga Kebenaran

Jangan kaget kalau media mainstream sering pura-pura buta. Israel disebut “Membela diri”, padahal mereka penjajah. Rakyat demo dibilang rusuh, padahal cuma teriak perut lapar. Di sinilah jurnalis ideologis beda kelas. Kita nggak bisa tutup mata. Kita tulis apa adanya, meskipun pahit. Karena itu bukan cuma berita, tapi amanah akhirat.

Jadi jurnalis itu capek, iya. Kadang dituduh provokator, difitnah radikal, atau dicap anti-pemerintah. Tapi inget, Sob, tinta kita bisa jadi saksi di akhirat.

Bayangin pas di hadapan Allah Ta'ala, ada orang bilang, “Ya Allah, aku dulu berhenti jadi budak branding karena baca tulisannya dia.” Itu kan pahala ngalirnya kayak debit auto tiap bulan, bedanya ini nggak pernah habis.

Profesi jurnalis itu bukan cuma keren, tapi jihad elegan. Jadi kalau orang lain bangga flexing barang dunia, kita bisa tenang bilang, “Aku jurnalis. Karyaku, amal jariyahku dan pena ini jalanku menuju ridha Allah.” []


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar