Fokus Kepada Nikmat, Bukan Musibah



Mutiaraumat.com -- Kadang hidup ini kayak drama FTV sore, penuh lika-liku, tapi bedanya, kalau FTV ujung-ujungnya happy ending, sedangkan hidup di bawah sistem kapitalis Ujung-ujungnya rakyat pusing tujuh keliling.

Coba deh lihat realitas sehari-hari. Harga bahan pokok naik turun kayak roller coaster. Pajak mencekik, seolah-olah rakyat itu ATM berjalan. Lapangan kerja sempit, sementara pemodal besar seenaknya monopoli pasar.

Alhasil? Rakyat dipaksa bersaing di arena kapitalisme yang keras kepala, kayak masuk ring tinju tanpa pelindung, sementara lawannya raksasa kaya raya. Capek lahir batin. Banyak yang akhirnya menyerah sampai bunuh diri karena merasa nggak kuat lagi hidup dari gali lubang tutup lubang. 

Tapi di tengah semua hiruk pikuk ini, ada satu kunci sederhana biar kita nggak gampang stres, yaitu terus fokus kepada nikmat, bukan musibah. Lho, gimana maksudnya?
Ya gini, coba cek list kecil dalam hidup kita sekarang,

Bangun pagi masih bisa tarik napas lega tanpa alat medis nempel di hidung. Anak-anak sehat, ketawa pecah rumah. Dapur masih ngebul, walau cuma sayur bening sama tempe goreng. Ada listrik. Kuota internet masih nyala. Bahkan ada duit bensin buat motor, ada duit buat saku anak-anak sekolah dan lain-lain. Meski pas-pasan tetap bersyukur alhamdulillah. 

Kalau mau jujur, nikmat Allah itu masih banyak banget. Kita aja yang kadang lebih rajin menghitung musibah ketimbang menghitung nikmat. Padahal, kata Syaikh Ibnu ‘Atha’illah dalam al-Hikam,

“Janganlah kesibukanmu mencari tambahan rezeki membuatmu lalai dari syukur atas rezeki yang sudah ada.”

Nah, ini yang sering kelewat. Fokusnya ke yang kurang, bukan ke yang ada. Akhirnya, hidup kayak main game level susah, padahal kuncinya ada di tombol “Pause” alias berhenti sebentar untuk melihat nikmat yang Allah kasih.

Ngaji Demi Menjaga Kewarasan Mental

Makanya nggak heran kalau banyak orang yang masih mau ngaji Islam itu bilang, 

“Ini demi kewarasan mental, Mbak.” 

Karena serius, ngaji itu bukan sekadar nambah ilmu, tapi juga semacam terapi jiwa. Bayangin, tiap hari digempur berita harga sembako naik, PHK dimana-mana, utang negara numpuk, konflik politik nggak kelar-kelar. Kalau hati nggak diisi dengan iman, ya bisa-bisa mental ikut jebol.

Dengan ngaji, kita jadi ingat bahwa dunia ini memang cuma panggung ujian. Hidup bukan sekadar kerja–makan–bayar pajak–tidur. Tapi ada misi besar, yaitu ibadah dan mencari ridha Allah. Itu bikin hati jadi tenang, karena ukuran bahagia bukan lagi materi, tapi makna.

Kapitalisme Biang Kerok Masalah

Tapi jangan salah, Sob. Semua motivasi dan syukur itu bukan berarti kita menutup mata dari biang kerok masalah, yaitu kapitalisme. 

Sistem ini bikin rakyat diperas habis-habisan, sementara negara yang seharusnya jadi perisai malah berubah jadi pedagang. Rakyat dilepas begitu saja, disuruh “Tahan banting” di tengah pasar global.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sudah lama mengingatkan,

“Negara dalam Islam bukan sekadar institusi administratif, tapi perisai yang melindungi umat, mengatur urusan mereka dengan syariah, dan menghalangi dominasi kafir atas mereka.”

Jadi kalau negara cuma jadi agen pajak, agen investor, dan agen utang, ya jelas rakyatnya akan jadi korban terus. Bukannya diurus, tapi digerus. 

Solusi Islam: Bukan Sekadar Waras, Tapi Tuntas

Fokus pada nikmat itu bikin hati waras, tapi kita nggak boleh puas cuma sampai situ. Islam kasih solusi yang lebih dari sekadar motivasi personal, yaitu mengganti sistem bobrok ini dengan sistem yang benar.

Pertama, dalam Islam, SDA (minyak, gas, listrik, air) bukan milik penguasa atau korporat, tapi milik umum (milkiyah ‘ammah). Negara wajib mengelola dan hasilnya untuk rakyat. Jadi, listrik dan BBM bukan lagi komoditas mahal yang bikin kantong bolong.

Kedua, pajak? Dalam Islam, rakyat tidak dipaksa bayar pajak rutin. Pemasukan negara cukup dari zakat, kharaj, fai’, jizyah, dan hasil pengelolaan SDA. Jadi rakyat bisa hidup lega tanpa tiap hari dihantui tagihan.

Ketiga, negara Islam (khilafah) juga jadi perisai yang melindungi rakyat, bukan malah mengorbankan rakyat demi investor asing. 

Rasulullah Saw bersabda,

“Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai. Umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim)

Artinya, dalam sistem Islam, rakyat nggak dibiarkan sendirian menghadapi badai ekonomi. Ada negara yang benar-benar jadi pelindung.

Jadi, fokus pada nikmat memang penting biar hati tetap tenang, jiwa tetap waras. Tapi jangan lupa bahwa syukur sejati itu bukan cuma nerima keadaan, melainkan juga memperjuangkan perubahan agar nikmat bisa dirasakan lebih luas oleh umat.

Selama kita masih hidup di bawah kapitalisme, rakyat akan terus dipaksa berjuang sendiri. Maka solusinya bukan sekadar

“Ayo sabar dan syukur”, tapi juga "Ayo tegakkan Islam kaffah yang membawa keadilan sosial, distribusi ekonomi yang merata, dan jaminan hidup yang layak."

Karena syukur yang paling keren itu bukan cuma bilang “Alhamdulillah masih ada tempe goreng”, tapi juga berjuang biar seluruh umat bisa bilang “Alhamdulillah hidup dalam naungan Islam yang menyejahterakan.”

Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar