Demokrasi Gagasan Utopis, Tidak Mungkin Mengakomodasi Aspirasi Rakyat

MutiaraUmat.com -- Direktur Mutiara Umat Institute Ika Mawarningtyas, menegaskan bahwa demokrasi hanyalah gagasan utopis yang tidak mungkin mampu mengakomodasi aspirasi rakyat.

"Gagasan demokrasi menyerap aspirasi rakyat ini adalah gagasan yang tidak pernah terjadi sepanjang perjalanan figur negara demokrasi. Bahkan Aristoteles mengatakan demokrasi adalah paham gagal," ujarnya dalam tayangan Youtube Tintasiyasi Channel bertajuk Mungkinkah Aspirasi Diakomodasi dalam Demokrasi? pada Kamis (4-9-2025).

Menurut Ika, demokrasi sering didengungkan sebagai sistem dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Namun, kenyataannya banyak kebijakan justru merugikan rakyat dan menguntungkan para kapitalis.

 “Adagium yang berlaku hari ini adalah dari uang, untuk uang, dan oleh uang. Alias dari kapitalis, untuk kapitalis, dan oleh kapitalis,” ujarnya.

Ia menambahkan, fakta nyata dari kondisi ini terlihat pada swastanisasi atau kapitalisasi sumber daya alam. Semestinya, barang tambang, sumber energi, atau kekayaan alam dikelola negara demi kesejahteraan rakyat. 

“Namun kenyataannya, hal itu justru diberikan konsensinya kepada kapitalis, bahkan kapitalis asing. Demokrasi akhirnya menjadi jalan eksploitasi sumber daya alam melalui UU Migas, UU Minerba, UU Cipta Kerja, dan sebagainya,” jelasnya.

Ika juga mengutip pandangan filsuf Yunani, Aristoteles, yang menilai demokrasi sebagai paham gagal. Aristoteles, kata Ika, mengkritik demokrasi karena di dalamnya terdapat potensi kesenjangan sosial dan kepentingan golongan, serta kecenderungan bergeser ke bentuk pemerintahan yang buruk seperti oklokrasi atau kekacauan massa, hingga kepemimpinan demagog yang memanipulasi rakyat.

Lebih jauh, Ika menekankan bahwa setiap manusia memiliki kepentingan yang berbeda, sehingga mustahil demokrasi dapat mengakomodasi semuanya. Jika pun ada, yang menang tetaplah kepentingan yang lebih kuat, yaitu para pemilik modal. 

“Di sinilah para kapitalis tampak lebih kuat karena memiliki kekuatan untuk menyingkirkan kepentingan rakyat jelata demi memuluskan keserakahan mereka menguasai sumber daya alam. Sekalipun rakyat melakukan aksi berjilid-jilid, tanpa dukungan pemilik kekuatan, kepentingan rakyat akan mudah sekali diabaikan," pungkasnya.[]Nabila Zidane

0 Komentar