AI Bisa Jadi Artificial Iblis Jika Digunakan Tanpa Iman


MutiaraUmat.com -- Hari ini iseng-iseng pasang foto pake teknologi AI, eh fotonya beneran bisa gerak. Awalnya cuma iseng, lama-lama malah jadi bikin geleng-geleng kepala. Bayangin, foto pejabat yang diam saja, tiba-tiba bisa joget-joget atau foto ustaz atau ustazah yang diam saja, tiba-tiba bisa kungfu. Hadeuh, kok bisa segitunya?

Teknologi hari ini udah kayak jin yang baru keluar dari lampu Aladin. Canggih, tapi kalau dipakai sama orang yang nggak punya iman, siap-siap aja dunia bisa jungkir balik. AI bisa dipakai untuk bikin deepfake, hoax, bahkan kriminalitas. Misalnya bikin video ustaz ngomong aneh-aneh padahal nggak pernah, atau pejabat negara kelihatan terima duit sogokan padahal hasil editan. Bisa bikin gaduh satu negeri.

Allah Swt udah ngingetin jauh-jauh hari, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (TQS. Al-Hujurat: 6).

Lihat kan? Pesan Al-Qur’an jelas banget, jangan gampang percaya. Zaman dulu aja Allah udah wanti-wanti soal berita, apalagi sekarang di era AI, di mana foto bisa hidup, suara bisa dipalsukan, dan video bisa dimanipulasi.

Rasulullah Saw juga bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Artinya, kalau kita asal share tanpa mikir, bisa-bisa kita jadi agen penyebar dusta. Dan di akhirat nanti, itu bisa jadi beban dosa. Ngeri, kan?

Teknologi Itu Netral

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa teknologi itu netral. Ia hanyalah wasilah alias sarana. Sama kayak pisau dipakai buat masak bisa jadi ladang pahala, tapi kalau dipakai buat nusuk orang, ya jatuhnya dosa. Jadi masalahnya bukan di teknologinya, tapi di siapa yang pegang kendali.

Nah, masalahnya sekarang kita hidup di bawah sistem kapitalisme-liberal. Di sini, teknologi dikembangkan bukan buat iman, bukan buat maslahat, tapi buat cuan. Selama bisa menghasilkan uang, viral, dan trending, moral dan akhlak bisa dicuekin. Jadinya, AI dipakai untuk konten receh, buat ngerjain orang, bahkan buat penipuan.

Padahal kalau teknologi ada di tangan Islam, beda banget ceritanya. Khilafah akan mengarahkan teknologi buat kepentingan umat, seperti kesehatan, pendidikan, pertahanan, bahkan dakwah.

Bayangin kalau AI dipakai buat ngaji online yang interaktif, atau bikin aplikasi belajar Al-Qur’an yang bisa langsung koreksi bacaan kita secara otomatis. Mantep kan?

Bahaya Nyata Teknologi Tanpa Iman

Coba kita bikin daftar singkat:

Pertama, deepfake dan hoax politik. Tiba-tiba ada video pejabat ngomong “Saya korupsi atas perintah presiden” padahal hasil editan. Rakyat bisa demo, negara bisa ricuh.

Kedua, fitnah ustaz dan ulama. Bayangin ada video kyai terkenal seolah-olah dukung maksiat, padahal nggak pernah. Murid-muridnya bisa kecewa, umat bisa bingung.

Ketiga, kejahatan digital. Foto kita dipakai buat bikin akun palsu, terus nipu orang minta pulsa. Kalau nggak hati-hati, kita bisa jadi korban sekaligus dituduh penipu.

Keempat, rusaknya kepercayaan sosial. Kalau semua bisa dipalsukan, orang jadi sulit percaya mana yang asli, mana yang bohongan. Masyarakat bisa hancur pelan-pelan.

Makanya, iman itu penting banget. Iman tuh kayak helm kalau naik motor. Mau motor secanggih apapun, kalau nggak pakai helm, kepala bisa pecah. Sama juga, teknologi secanggih apapun kalau nggak dikawal iman, bakal bikin dunia berantakan.

Solusi ala Islam

Lalu gimana biar kita nggak jadi korban dan nggak jadi pelaku kejahatan teknologi? Nih, tips ala Nabila Zidane:

Satu, saring sebelum sharing.
Ingat Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 6. Jangan gampang percaya dan jangan asal sebarkan.

Dua, pegang standar Islam. Jangan gampang terkecoh. Ingat, kebenaran itu ukurannya wahyu, bukan algoritma medsos.

Tiga, gunakan teknologi buat kebaikan. Misalnya bikin konten dakwah, berbagi ilmu, atau menolong orang. Jangan buat tipu-tipu.

Empat, ngaji Islam kaffah. Karena dengan ngaji, kita jadi paham bahwa tujuan hidup bukan buat viral, tapi buat ridha Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Lima, dukung tegaknya sistem Islam. Karena cuma dengan sistem Islam, teknologi bisa diarahkan secara serius untuk maslahat, bukan sekadar cuan atau hiburan.

Jadi, teknologi AI yang bisa bikin foto bergerak emang keliatan keren. Tapi ingat, keren itu bukan berarti aman. Kalau tanpa iman, AI bisa jadi bencana. Hoax bisa menyebar, fitnah bisa merajalela, dan kriminalitas bisa naik kelas.

Islam udah kasih solusi jelas, jangan asal percaya berita, jangan asal sebar, gunakan standar wahyu, dan pastikan teknologi dikawal iman. Dan kalau mau lebih aman lagi, tentu kita butuh sistem Islam yang ngatur arah penggunaan teknologi.

Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Tapi iman adalah kendali. Tanpa iman, AI bisa jadi “Artificial Iblis.” Tapi dengan iman, AI bisa jadi “Alat Istimewa” untuk dakwah dan kebaikan. []


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar