Zara Qairina dan Ketakutan Seorang Ibu


Mutiaraumat.com -- Zara Qairina. Nama itu nggak akan hilang dari kepala banyak orang tua, khususnya kita para emak-emak yang punya anak perempuan. Masih kecil, polos, lugu, lucu. Tapi jadi korban bully, dan tragisnya sampai meninggal. Ya Allah, ngeri banget.

Sebagai seorang ibu yang juga punya anak perempuan, saya ngeri bukan main. Saya jadi kepikiran, udah bener belum cara saya mendidik? Udah cukup terbuka belum komunikasi saya dengan anak? Kadang kan ya, kita tuh terlalu sibuk kerja, sibuk ngurus rumah, sibuk ngurusin drama hidup sampai lupa nanya apakah anak kita baik-baik aja atau enggak.

Padahal, bullying tuh nggak selalu kelihatan. Kadang anak pulang sekolah diam aja, kita kira dia cuma capek. Tetapi, siapa tahu hatinya sudah remuk. Siapa tahu, dia baru saja dibullying. Siapa tahu, dia lagi mikir untuk menyerah.

Zara ngajarin aku satu hal, 
kalau komunikasi dengan anak itu bukan sekadar nanya PR udah selesai atau belum. Tapi tentang jadi tempat paling aman buat dia cerita. Tentang hadir, dengerin, dan nggak nge-judge.

Dunia yang dipimpin sekuler ini emang sedang gila, tapi kita harus tetap waras. Bagaimana tidak? Kita hidup di zaman yang makin edan. Sekolah bukan lagi tempat paling aman. Medsos makin sadis. Anak-anak bisa kena mental dari komen netizen yang nggak mikir. Maka, sebagai orang tua, kita harus waras. Kita harus punya radar emosi anak. Kita harus peka dan gesit.

Gak bisa lagi kita cuma ngandalkan sekolah buat jaga anak. Apalagi berharap sama negara sekuler-liberal yang cuma sibuk mikirin ekonomi, tapi sistem pendidikan acak adul, moral generasi dibiarkan remuk. Hellooo, ini masa depan umat, bukan eksperimen gagal.

Makanya, kita harus ambil peran. Harus ada di sisi anak. Harus jadi tim paling solid buat anak sendiri. Nggak usah gengsi buat minta maaf kalau kita salah, peluk mereka kalau mereka rapuh, dan temenin mereka jalanin dunia yang udah penuh jebakan ini.

Oleh karena itu, sebagai seorang ibu hendaklah terus berusaha menjaga hubungan dengan anak perempuan, caranya?

Pertama, jangan jadi “Ibu sempurna”, jadilah “Ibu nyata.”
Anak butuh kita yang jujur, bukan yang sok tahu. Kadang ngaku aja, “Ibu juga pernah takut, pernah sedih, pernah gagal.” Itu bikin mereka relate dan nyaman.

Kedua, buat jadwal ‘ngobrol santai’ tiap minggu
Entah sambil minum teh, makan bakso, atau sekadar nyisir rambut mereka di malam hari. Itu bonding yang nggak bisa dibeli di marketplace.

Ketiga, dengarkan tanpa menyela. Jangan keburu nyalahin atau ngegas. Dengerin dulu, pahami, baru tanggapi. Kadang anak cuma butuh pendengar, bukan penasihat dadakan.

Keempat, jangan remehkan keluhannya, sekecil apapun
Bagi kita mungkin sepele, seperti 

"Aku dibilang caper karena lebih sering pake bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia di sekolah." Atau "Aku dipaksa ngomong pake bahasa Jawa padahal aku gak bisa."

Keluhan sederhana tapi buat dia itu bisa kayak akhir dunia. Validasi emosinya dengan mengatakan, 

"Ibu ngerti, itu pasti berat buat kamu. Namanya juga baru kenal, mereka tidak tau kalau kamu memang ada darah Belandanya yang memang asli gak bisa bahasa Jawa. Itu bukan caper, mereka aja yang belum kenal kamu, sabar ya."

Kelima, ajari keberanian untuk berkata "TIDAK" ke anak perempuan, ini vital. Berani bilang tidak pada tekanan, pertemanan toksik, dan perlakuan nggak pantas.

Keenam, doakan, salim dan peluk setiap hari saat hendak pergi ke sekolah. Ini bukan lebay. Ini investasi cinta dan perlindungan. Peluk dan doakan, walau mereka udah ABG sekalipun.

Zara Adalah Alarm Untuk Kita Semua

Zara seharusnya tidak pergi secepat itu. Tapi kepergiannya jadi alarm keras bagi kita semua. Bahwa ada yang harus kita benahi. Bahwa jadi orang tua itu bukan cuma urusan logistik dan biaya SPP. Tapi tentang hadir, jadi pelindung sejati.

Dan untuk negara ini, ayo sadar. Sistem pendidikan kita bukan cuma soal kurikulum dan nilai ujian. Tapi bagaimana mencetak manusia yang bertakwa dan beradab. Kalau sistem sekuler masih dipertahankan, ya jangan heran makin banyak “Zara-Zara” lain yang tumbang karena lingkungan yang nggak aman.

Seharusnya Islam jadi solusi. Dalam sistem Islam, negara wajib membangun pendidikan yang berlandaskan akidah, bukan cuma pencapaian akademik. Lingkungan pun dijaga agar nilai-nilai Islam tumbuh subur, bukan malah jadi ladang dosa kolektif.

Dan inilah yang akan membawa rasa aman sejati bagi anak-anak perempuan kita. Dalam naungan Islam, setiap perempuan dijaga, dihormati, dan dilindungi sejak kecil. Negara bukan hanya hadir saat krisis, tapi membangun perisai sistemik agar anak-anak tumbuh dengan jati diri Islami dan lingkungan yang mendukung kebaikan.

Zara telah pergi. Tapi jangan sampai kepergiannya cuma jadi berita sehari dua hari. Jadikan itu titik balik. Kita bangkitkan kembali kesadaran bahwa hanya Islam yang mampu melindungi anak-anak kita lahir dan batin, dunia dan akhirat.[]

Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar