Solusi Islam Atas Zona Genosida Gaza
TintaSiyasi.id -- Delegasi Hamas yang dipimpin langsung oleh pejabat senior Hamas, Khalil al-Hayya, akhirnya tiba di Kairo untuk membahas proposal baru gencatan senjata selama 60 hari di Jalur Gaza bersama mediator Mesir dan Qatar.
Kehadiran Hamas di Kairo dianggap momentum penting di tengah eskalasi konflik yang terus berlangsung. Rencananya, setelah para delegasi tiba, mediator Mesir, Qatar, dan perwakilan Amerika Serikat akan menjembatani serta membantu Hamas dan Israel untuk merundingkan rencana gencatan senjata sementara (Tribun, 13/08/2025).
Negeri-negeri Islam hingga hari ini masih menganggap perundingan sebagai solusi penderitaan Gaza. Upaya menarik militan Hamas ke meja perundingan pun terus dilakukan. Padahal telah terbukti selama ini, perundingan dan gencatan senjata tidak mampu menghentikan kebiadaban Zionis.
Pengkhianatan Negeri Islam
Sungguh sebuah pengkhianatan yang nyata, negeri-negeri Islam menyerukan Hamas ke meja perundingan saat muslim Gaza terus berjuang mati-matian demi mempertahankan hidupnya. Padahal, seharusnya seruan itu adalah menggalang kekuatan militer dunia Islam untuk membantu saudaranya di Gaza dan menghentikan kebiadaban Zionis.
Seruan untuk melakukan perundingan gencatan senjata justru datang saat kekejaman Israel tidak berhenti membantai. Jurnalis dibunuh, infrastruktur dihancurkan, rakyat Gaza dilaparkan. Gaza tetap bertahan meski kematian setiap saat siap merenggut hidup. Akan tetapi, dunia seolah menutup mata. Tanpa malu dan tanpa rasa takut kepada Allah, justru membuat kesepakatan yang menyakitkan bagi muslim Gaza dan umat Islam.
Muslim Gaza benar-benar sekarat. Makanan dan minuman yang minim, kelaparan yang melilit dan menggerogoti tulang, ternyata semua ini belum mampu membukakan mata dunia untuk bergerak. Dunia tetap saja bisu dan diam atas kebiadaban Zionis. Naluri kemanusiaan pun perlu dipertanyakan. Sampai kapan Gaza akan berjuang sendiri? Sampai kapan Gaza menanti pembebasan yang tak kunjung hadir?
Kejahatan Dunia Atas Gaza
Gaza tetap nyaring bersuara meski dunia abai. Para jurnalis tetap berjuang menyampaikan pesan-pesan perjuangan dari Gaza meski nyawa taruhannya. Bahkan, tercatat 200 jurnalis telah syahid. Berita kelaparan, genosida, kehancuran terus tersebar meski dunia tidak peduli. Negeri-negeri Islam belum menjalankan perannya yang semestinya terhadap Gaza. Mereka membatasi diri dengan bantuan kemanusiaan, meski bantuan ini pada akhirnya banyak yang tidak sampai ke tangan rakyat Gaza, sebab dihalangi oleh Zionis dan dibiarkan membusuk sementara rakyat Gaza tetap kelaparan.
Sementara itu, pusat distribusi bantuan legal yang dikelola oleh AS dan Israel justru menjadi perangkap mematikan bagi rakyat Gaza. Sebab banyak yang terbunuh justru saat mencari bantuan. Human Rights Watch pada hari Jumat (1/8/2025) menyampaikan bahwa pasukan Israel yang beroperasi di luar pusat-pusat bantuan yang didukung AS di Gaza yang dilanda perang, secara rutin membunuh warga sipil Palestina yang mencari makanan. Zionis menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Pasukan Israel yang didukung AS menjadikan sistem distribusi bantuan yang cacat dan telah mengubah distribusi bantuan menjadi perangkap kematian.
Islam Menyelamatkan Gaza
Kondisi Gaza yang semakin tragis membuka mata dunia akan pentingnya perisai dan pelindung. Umat Islam tidak bisa berharap pada negara Barat, terutama AS, sebab negara inilah yang menjaga eksistensi Yahudi hingga hari ini. Bahkan, Zionis tidak akan mampu bertindak biadab jika tanpa dukungan dari AS.
Islam adalah agama yang sempurna. Syariat Islam mencakup semua aspek kehidupan sebab syariat ini berasal dari Zat yang menciptakan manusia. Syariat Islam juga mengatur pembebasan dunia dari penjajahan. “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu.” (QS. Al-Baqarah: 190). Ayat ini dengan jelas memerintahkan umat Islam membalas kejahatan Israel dan menunaikan jihad dalam membela Palestina.
Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni menyebutkan, “Jika Imam (Khalifah) tidak ada, maka jihad tidak boleh ditunda, karena kemaslahatan jihad akan lenyap dengan penundaan jihad itu.” Ini menunjukkan jihad tetap ditunaikan meskipun Khilafah belum tegak. Sayangnya, hari ini negeri-negeri Islam enggan menjadikan jihad sebagai jalan mengusir Zionis.
Syaikh Taqiyuddin dalam kitabnya Mafahim Siyasiyah telah menegaskan bahwa persoalan Palestina tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh dunia dan hanya Khilafah yang mampu menyelesaikan dan mengusir Zionis dari Palestina. Hanya Khilafah yang akan mampu mengorganisir para tentara itu untuk menghentikan kebiadaban Zionis. Khilafah akan menyambut seruan jihad dari Allah dan menggerakkan pasukan untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang terjajah, termasuk Gaza.
Wallahu a’lam.
Oleh: Nurjannah S.
Aktivis Muslimah
0 Komentar