Menikah karena Allah Bertahan karena Iman
MutiaraUmat.com -- Pernikahan bukan sekadar dua orang saling mencintai lalu hidup bersama. Pernikahan adalah ibadah panjang, tempat dua insan saling menundukkan ego, menyatukan niat, dan menapaki jalan kehidupan dalam bingkai pengabdian kepada Allah SWT. Lebih dari sekadar ikatan perasaan, pernikahan yang dibangun atas dasar akidah Islam adalah bentuk kesungguhan untuk meraih ridha dan surga-Nya.
Sebagaimana yang sering dikatakan para ulama, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua hati, tapi menyatukan visi ke akhirat. Ia seperti persahabatan yang ditambatkan dengan cinta yang tak goyah oleh sekadar masalah atau ujian duniawi. Apapun tantangannya, pasangan yang dibangun atas dasar iman akan terus berjuang untuk tetap bersama, bukan demi cinta semata, tapi demi menggapai pahala.
Pernikahan bukanlah surga tanpa ujian. Justru di situlah ladang kesabaran dibentangkan seluas-luasnya. Berapa kali disakiti, sebanyak itu pula memaafkan. Bukan karena bucin, tapi karena ada satu yang lebih besar dari rasa, yaitu mengharap ridha Allah.
Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Setiap tangis yang ditahan karena ingin menjaga rumah tangga. Setiap amarah yang disimpan karena ingin menjaga pasangan. Semua itu tidak pernah sia-sia dalam pandangan Allah. Bahkan saat hati tersakiti, jika dibalas dengan kesabaran dan doa, malaikat mencatatnya sebagai amal besar.
Dalam sistem Islam, cinta bukan sekadar perasaan, tetapi keputusan yang dituntun oleh iman. Oleh karena itu, pasangan yang menikah karena Allah akan selalu menjadikan akidah Islam sebagai poros rumah tangganya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ikatan cinta yang paling kuat dan paling kekal adalah cinta karena Allah. Sebab cinta karena Allah akan berakhir di surga, sementara cinta karena dunia akan sirna di dunia.”
Itulah mengapa pernikahan yang dibangun atas dasar akidah Islam tak akan mudah roboh hanya karena terpaan ego, kesibukan, atau perbedaan. Karena tujuan hidup mereka bukan saling menyenangkan hati, tapi saling menolong menuju keridhaan Allah.
Pernikahan Adalah Ibadah Terpanjang Menuju Surga
Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang wanita melaksanakan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, 'Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu sukai.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).
Begitu pula bagi suami yang bersabar, menafkahi, menjaga istri dan anak-anaknya, Rasulullah Saw bersabda, “Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar untuk memerdekakan budak, satu dinar untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim).
Dari dua hadis ini, kita mengerti bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua tubuh dan jiwa, melainkan menyatukan dua insan untuk saling menjadi pintu surga bagi yang lain.
Menjaga Pernikahan di Tengah Gempuran Ide Sekuler
Namun, di zaman yang diguncang arus liberalisme dan sekularisme, banyak pasangan kehilangan arah. Pernikahan dianggap semata urusan privat yang bebas nilai. Gaya hidup barat telah menjauhkan tujuan mulia pernikahan. Pasangan lebih sibuk memuaskan diri daripada berjuang bersama.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizham al-Ijtima’i fil Islam menyatakan, “Tujuan dari pernikahan dalam Islam bukanlah sekadar memenuhi kebutuhan biologis, tetapi membangun rumah tangga yang kuat sebagai fondasi masyarakat Islam.”
Oleh karena itu, pernikahan yang lahir dari sistem Islam akan melahirkan generasi taat, keluarga sakinah, dan masyarakat yang kokoh. Tanpa sistem Islam, rumah tangga hanya menjadi tempat kumpul dua individu yang rentan bertengkar dan tercerai berai karena perbedaan visi hidup.
Ketika Pernikahan Tanpa Akidah, Runtuh Seiring Ego
Tak sedikit pernikahan hari ini yang mudah hancur hanya karena perbedaan pendapat. Suami sibuk dengan dunianya, istri sibuk dengan dunianya. Saat terjadi konflik, bukan introspeksi yang dilakukan, tapi mencari pelarian, seperti curhat di sosial media atau bahkan pada orang lain yang bukan mahram yang berujung perselingkuhan, na’udzubillah.
Sebaliknya, pernikahan dalam Islam mengajarkan, suami adalah qawwam, pelindung, dan pemimpin (QS. An-Nisa: 34) dan istri adalah pakaian bagi suaminya, dan suami pun pakaian bagi istrinya (QS. Al-Baqarah: 187).
Keduanya adalah mitra dalam taat kepada Allah, bukan pesaing dalam popularitas dunia. Itulah sebabnya, hanya pasangan yang memahami Islam secara kaffah yang akan bisa tetap bersama dalam luka, dalam gembira, dalam duka, bahkan dalam kecewa. Karena mereka tahu, "Aku tidak mencintaimu karena kamu sempurna, tapi karena kamu adalah ladang pahala untukku."
Jangan pernah mengira bahwa pernikahan yang indah itu tanpa luka. Justru karena luka-luka itulah, kita punya peluang bertabur pahala. Suami yang sabar menghadapi istri, istri yang sabar menghadapi suami, semua itu dicatat sebagai amal jariyah selama mereka menjalaninya karena Allah.
“Bisa jadi kesabaranmu dalam rumah tangga adalah sebab Allah mudahkan jalan
mu ke surga.”
Maka, tetaplah bersama. Bukan karena saling cinta saja, tapi karena saling ingin melihat wajah Allah di surga nanti. Itulah pernikahan sejati, bertumbuh bersama dalam keimanan, melewati ujian dunia, dan bersama-sama menghadap Allah dengan hati yang tenang.
Wallahu a’lam bishshawab. []
Nabila Zidane
(Jurnalis)
0 Komentar