Meneruskan Suara Gaza



Tintasiyasi.id.com -- Dunia pernah melihat keheningan yang membunuh. Bukan karena tak ada suara, melainkan karena suara-suara itu dibungkam. Gaza adalah satu dari sekian banyak tempat di muka bumi yang menjadi saksi bahwa kebenaran bisa ditekan, tetapi tidak bisa dipadamkan.

Dalam setiap ledakan yang mengguncang reruntuhan, dalam setiap tangis anak-anak yang mencari ibunya di balik puing-puing, ada suara yang tidak boleh dilupakan, yaitu suara para jurnalis Gaza.

Merekalah yang selama ini menjadi saksi sejarah, pembawa pesan dari tanah terjajah kepada dunia yang lama terlelap dalam kenyamanan. Di tengah desingan peluru dan dentuman bom, para jurnalis di Gaza tetap menggenggam erat kamera dan pena mereka, demi satu tujuan, agar dunia tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Tapi harga yang mereka bayar bukan sekadar kelelahan atau kehilangan pekerjaan. Lebih dari itu, mereka mempertaruhkan dan bahkan menyerahkan nyawa mereka.

Menurut laporan lembaga internasional, dilansir dari antaranews.com (31/7/2025) lebih dari 100 jurnalis gugur dalam agresi Zion*s sejak Oktober 2023. Mereka dibunuh bukan karena salah sasaran, tetapi karena memang menjadi target. 

Jurnalis yang mengungkap kebenaran dianggap musuh. Suara mereka dianggap lebih membahayakan daripada senjata. Maka, membungkam mereka adalah strategi Zion*s untuk mematikan kesadaran dunia.

Namun, kematian mereka bukanlah akhir. Justru dari darah mereka, muncul kewajiban baru bagi umat Islam di seluruh dunia. Suara Gaza tidak boleh berhenti. Ia harus diteruskan. Disuarakan lebih keras. Digelorakan lebih kuat.

Bahkan, tidak hanya disuarakan, tetapi juga diarahkan. Sebab jika suara Gaza hanya digaungkan dalam bentuk simpati dan duka, tanpa arah yang benar, maka perjuangan mereka akan berakhir sia-sia.

Suara Gaza harus diteruskan dalam rangka mengarahkan umat kepada solusi hakiki atas penderitaan Palestina. Yaitu solusi Islam, khilafah dan jihad fi sabilillah.

Suara yang Harus Diarahkan

Hari ini, dunia dijejali dengan berbagai narasi. Ada yang memosisikan Palestina sekadar konflik kemanusiaan, lalu menyerukan perdamaian tanpa keadilan. Ada pula yang menyebut perjuangan rakyat Gaza sebagai aksi ekstremisme, lalu membela agresi Zion*s sebagai langkah membela diri. Narasi-narasi ini terus disebar oleh media internasional, demi memutarbalikkan kebenaran.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam menegaskan bahwa salah satu bentuk penjajahan modern adalah melalui narasi dan opini publik yang dikendalikan oleh negara-negara kafir penjajah. Maka melawan penjajahan hari ini tidak cukup dengan membawa senjata atau berdiplomasi, tetapi juga dengan meluruskan opini. 

Dalam konteks inilah suara Gaza harus diarahkan agar menjadi bagian dari perjuangan ideologis, bukan sekadar teriakan emosional. Umat harus disadarkan bahwa penderitaan Gaza bukan hanya soal blokade atau bantuan kemanusiaan, tetapi soal absennya institusi pelindung umat, yaitu Daulah Khilafah. 

Tanpa khilafah, umat Islam di Palestina dan di seluruh dunia akan terus tercerai-berai, lemah, dan tak memiliki daya untuk membela diri.

Khilafah dan Jihad Solusi Hakiki

Islam tidak pernah membiarkan darah Muslim tumpah sia-sia. Dalam sistem khilafah, darah kaum Muslim adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Jika ada satu saja Muslim yang disakiti, maka khalifah wajib menggerakkan pasukan untuk membelanya.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab Muqaddimah ad-Dustur bahwa salah satu fungsi utama khilafah adalah menjaga kehormatan, darah, dan harta kaum Muslim. Oleh karena itu, jihad bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban negara khilafah untuk mengangkat senjata melawan penjajah.

Dalam konteks Palestina, khilafah akan menghimpun kekuatan militer dari seluruh negeri-negeri Islam. Menutup kedutaan besar Zionis dan negara pendukungnya. Menghapus batas nasional yang memisahkan umat. Menjadikan pembebasan Palestina sebagai prioritas negara.

Inilah solusi hakiki yang tidak bisa ditunaikan oleh negara-negara sekuler saat ini. Sebab mereka tunduk pada hukum internasional, takut kepada embargo Barat, dan tunduk kepada sistem kapitalisme global yang menguntungkan penjajah.

Suara yang Harus Dihidupkan Kembali

Setiap darah jurnalis Gaza adalah amanah. Mereka bukan hanya pewarta, mereka adalah mujahid pena. Kini, setelah mereka gugur, amanah itu berpindah kepada kita. Bukan untuk menjadi jurnalis seperti mereka, tapi untuk melanjutkan misi mereka, yaitu mengabarkan kebenaran dan mengarahkan umat menuju kemenangan.

Jangan biarkan suara mereka lenyap dalam kesibukan dunia. Jangan biarkan gambar-gambar mereka hanya menjadi kenangan dalam galeri gawai kita. Hidupkan kembali suara Gaza dengan dakwah, tulisan, orasi, dan pergerakan yang terorganisir dalam jalan Islam.

Wahai umat Islam, jangan biarkan darah itu mengering tanpa makna. Teruskan suara Gaza. Hidupkan kembali suara kebenaran. Bangkitkan kembali kesadaran. Dan arahkan langkah umat menuju khilafah yang akan memimpin jihad pembebasan Palestina bukan dengan slogan kosong, tapi dengan kekuatan nyata.

Mereka telah gugur membawa kebenaran. Kini giliran kita yang hidup untuk memperjuangkannya. Suara Gaza adalah suara Islam yang terjajah, suara umat yang tertindas, dan suara akidah yang belum dibela. Mari kita menjadi penyambung lidah mereka, bukan hanya dengan kata, tapi juga dengan sikap, perjuangan, dan komitmen ideologis.

Khilafah bukan sekadar harapan. Ia adalah jawaban. Jihad bukan sekadar slogan. Ia adalah kewajiban dan suara Gaza bukan sekadar berita. Ia adalah panggilan sejarah yang harus kita jawab sekarang.[]

Oleh: Nabila Zidane 
(Jurnalis)

0 Komentar