Ketika Jolly Roger Berkibar di Tanah Merdeka yang Masih Terjajah
MutiaraUmat.com -- Seruan untuk mengibarkan bendera bajak laut One Piece Menjelang HUT RI ke 80 bukanlah bentuk makar, melainkan simbol bahwa rakyat mencintai negeri ini, namun tidak rela jika negerinya terus-menerus di dera penderitaan akibat ulah oligarki. Ini merupakan ekspresi kekecewaan rakyat terhadap ketidakadilan.
Ketidakadilan di One Piece sering muncul dalam bentuk penindasan ekonomi (monopoli, pemerasan pajak), korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (pemerintah dunia, bajak laut tirani), diskriminasi rasial (manusia vs manusia ikan, Tenryuubito vs rakyat biasa), manipulasi media dan sejarah (menghapus fakta untuk mempertahankan kekuasaan).
Orang-orang yang sudah menonton ataupun membaca One Piece pasti akan berbagi value yang sama dari cerita One Piece. Mereka menjunjung tinggi kesetiakawanan, perbedaan, toleransi, dan diatas semua itu mereka menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan mereka semua anti kesewenang-wenangan.
Cerita One Piece mencerminkan kondisi di negeri saat ini, yang mana segelintir pejabat menikmati kekuasaan, sementara rakyat tertindas. Meski secara formal merdeka, tetapi rakyat belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan sejati dalam kehidupan mereka, karena kebijakan seringkali condong pada kelompok elit.
Akar masalah negeri ini sejatinya adalah diterapkannya sistem Kapitalisme. Penerapan sistem kapitalisme melahirkan kesenjangan sosial yang kompleks. Kebijakan dibuat hanya demi kepentingan elite meskipun harus mengorbankan kebutuhan rakyat. Sehingga rakyat terus tercekik oleh kezaliman struktural, taj jauh beda dengan sistem dunia didalam cerita One Piece yang penuh dengan korupsi, kolusi dan penindasan.
Umat harus disadarkan bahwa problem mendasar yang dihadapi saat ini karena diterapkannya sistem buatan manusia, bukan sistem kehidupan yang bersumber dari Allah. Padahal, manusia adalah makhluk yang lemah, terbatas dan serba kurang. Sehingga sampai kapanpun manusia tidak akan pernah mampu untuk membuat aturan sendiri atas kehidupan yang mereka jalani.
Allah sudah memiliki hukum-hukum syari'at yang diturunkan melalui Al-Qur'an untuk mengatur kehidupan manusia. Bahkan Allah mengutus seorang Rasul agar dapat menjadi suri tauladan, bagaimana seharusnya syari'at Allah dijalankan dan diterapkan dalam kehidupan.
Namun, sistem kapitalisme dengan asasnya 'sekularisme' telah memisahkan agama dengan kehidupan. Bahkan memisahkan agama dari negara. Padahal, agama akan menjadikan sebuah negara memiliki tujuan yang jelas, dan negara akan mampu menjamin terlaksananya hukum-hukum syari'at yang diatur dalam agama secara kaffah (menyeluruh).
Didalam Kapitalisme manusia telah memisahkan agama dari kehidupan, maka mau tidak mau manusia harus membuat peraturan sendiri tentang kehidupan. Karenanya peraturan dalam sistem Kapitalis diambil dari realita kehidupan manusia, dan dibuatlah aturannya sendiri berdasarkan akal manusia.
Tak heran, jika problem solving yang diambil untuk mengatasi problematika ditengah umat selama ini hanyalah solusi yang tambal sulam. Bahkan tak jarang solusi yang diambil justru menimbulkan masalah-masalah baru, karna tak menyentuh akar persoalannya.
Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan juga seringkali dipengaruhi oleh kepentingan segelintir pihak. Bukan murni untuk mengentaskan masalah ditengah umat.
Hakikat manusia pasti akan selalu condong pada kebenaran, sehingga rakyat sebenarnya sudah sangat peka bahwa kebijakan yang dibuat selama ini seringkali merugikan rakyat, dan menguntungkan penguasa dan oligarki. Jika kita mengkilas balik kebelakang, ada banyak sekali problematika yang terjadi di negeri ini.
Di bidang ekonomi, pertamax yang dioplos pertalite, minyak goreng oplosan (tidak sesuai beratnya dengan tulisan yang ada dikemasan), beras oplosan, kenaikan harga beras disaat stok negeri surplus, pemungutan pajak dari berbagai sektor.
Di bidang pendidikan, angka bullying tinggi (bahkan banyak yang berujung pada kematian), angka buat huruf tinggi, angka literasi rendah, kurangnya SDM, kurangnya fasilitas, pelecehan seksual dilingkungan sekolah, biaya pendidikan tinggi (dampak dari kapitalisasi dunai pendidikan), kesenjangan sosial antara orang kaya, menengah keatas dan masyarakat miskin.
Di bidang kesehatan, biaya kesehatan yang mahal, terjadi kekosongan obat-obatan di beberapa tempat, kurangnya fasilitas, pelecehan seksual oleh oknum-oknum nakes, kesenjangan fasilitas antara orang kaya, menengah keatas dan masyarakat miskin.
Di bidang sosial dan masyarakat, penyitaan tanah terlantar (yang tidak dimanfaatkan lebih dari dua tahun) oleh negara disaat tanah milik negara juga banyak yang terlantar, pemblokiran rekening masyarakat yang tidak aktif lebih dari 3 bulan, bahkan kabarnya data pribadi WNI akan diserahkan dan dikelola oleh AS.
Melihat kondisi negeri saat ini, rasanya tak layak jika kita dikatakan telah merdeka. Kita memang merdeka dari penjajahan fisik, tetapi kita dijajah oleh bangsa sendiri.
Berbagai kebijakan juga banyak yang dipengaruhi oleh asing dan oligarki. Eksploitasi Kekayaan SDA dibawah kaki tangan asing, segelintir konglomerat atau sekelompok kecil yang diistilahkan sebagai oligarki. Bentuk Penjajahan ini memang tidak ketara dan tidak nampak secara fisik.
Belum lagi ditambah dengan adanya perang pemikiran yang dihembuskan oleh asing untuk mempengaruhi generasi tergerus arus liberalisasi yang menyenangkan diri tanpa peduli nasib orang lain.
Umat hanya akan terbebas dari kemudharatan sistem kapitalisme, dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah.
Islam diturunkan bukan sekadar ajaran spiritual yang mengatur ibadah mahdho semata, melainkan sebagai sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Inilah yang akan menjadikan umat Islam sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang mampu menegakkan keadilan juga menolak segala bentuk penindasan.
Rakyat harus sadar dan memfokuskan perhatiannya pada perjuangan hakiki. Yakni mengubah sistem kapitalisme menuju penerapan sistem Islam di bawah naungan khilafah. Bukan sekadar simbolik, melainkan perlawanan yang terarah dan terukur melalui dakwah dan perubahan sistemik.
Memerdekakan umat manusia dari dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah swt, dan penghambaan kepada sesama manusia merupakan salah satu misi mengapa Islam diturunkan dimuka bumi ini.
Dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada penduduk Najran oleh Rasulullah SAW, memuat pesan yang menceritakan tentang misi Islam itu sendiri, diantaranya berbunyi:
“Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri hanya kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia). Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah. v/553
Karena pada hakikatnya manusia sejak dulu memang menyembah kepada selain Allah SWT. Maka seruan untuk tidak menyembah sesama manusia juga sudah diperingatkan oleh Rasulullah saw sejak dulu.
Mirisnya lagi, banyak diantara manusia yang hanya menjadikan Allah swt sekedar sebagai pencipta tanpa mau melakukan apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Sehingga lahirlah para penguasa yang tidak takut berbuat dzalim dan tidak malu melakukan korupsi. Karena jabatan yang diembannya tidak dijadikan sebagai amanah yang harus dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Melainkan jabatan hanya dianggap sebagai profesi yang diperoleh dengan modal besar untuk mendapatkan kekuasaan dan materi semata. []
Oleh: Marissa Oktavioni, S.Tr.Bns.
Aktivis Muslimah
0 Komentar