Kemerdekaan Sejati bagi Umat
TintaSiyasi.id -- Tak terasa 80 tahun Indonesia dinyatakan merdeka. Peringatan kemerdekaan selalu dipenuhi dengan seremonial kemeriahan. Mulai dari semarak pengibaran simbol nasionalisme di berbagai penjuru negeri, lomba-lomba, dan upacara kenegaraan. Namun, adanya perayaan tiap tahun apakah cukup menggambarkan bahwa negeri ini sudah benar-benar merdeka?
Bagi sebagian orang, kemerdekaan tidak hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari penjajahan aspek ekonomi, politik, budaya, sosial, hukum, dan aspek ideologi. Apakah kita telah mencapai kemerdekaan yang sebenarnya?
Jujur, kemerdekaan yang kita rayakan dan suarakan tiap tahunnya itu sifatnya semu. Kita tampak merdeka, tetapi realitasnya masih terjajah. Ya, penjajahan itu masih ada, bukan secara militer atau fisik, tetapi secara pemikiran. Terjerat oleh sistem yang rusak dan merusak.
Kemerdekaan Semu
Ironi, 80 tahun Indonesia dinyatakan merdeka, tetapi keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan masih belum dirasakan masyarakat. Realitasnya angka kemiskinan masih tinggi, pengangguran tiap tahun merangkak naik, biaya pendidikan, kesehatan, dan bahan pokok sangat mahal. Belum lagi aneka pajak yang terus mencekik.
Dilansir oleh Detik.com (6-5-2025), berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran pada Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang, meningkat 1,11% dibandingkan Februari 2024. Nah, dari hal ini kesulitan ekonomi menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka pengangguran di negeri ini.
Di sisi lain, sumber daya alam yang melimpah ruah hanya dirasakan oleh segelintir orang. Hanya dikuasai para pengusaha, pemilik modal, dan asing. Masyarakat hanya kebagian remah-remahnya saja. Inilah yang menyebabkan kesenjangan ekonomi makin melebar. Akibat kemiskinan, kebutuhan tidak terpenuhi dengan baik, kejahatan merajalela, banyak anak putus sekolah, dan pelayanan kesehatan tidak bisa dinikmati.
Pada saat yang sama, utang negara makin menumpuk dan korupsi makin membabi buta. Sementara itu, ketidakadilan makin terpampang nyata. Para koruptor dihukum ringan, sedangkan orang kecil mencuri sedikit dihukum berat. Belum lagi kalau bicara moral. Banyak remaja terjerat narkoba, seks bebas makin liar, dan bullying yang makin marak. Bahkan para remaja juga ikut terseret kasus kejahatan yang makin hari makin mengerikan dan beragam.
Kapitalisme
Sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan di negeri ini telah menjauhkan agama dari kehidupan. Agama hanya sebatas urusan pribadi, tidak boleh dibawa dalam urusan masyarakat dan negara. Kapitalisme telah melahirkan penguasa yang pro rakyat. Oleh karena itu, banyak kebijakan yang diambil justru merugikan rakyat, seperti UU Cipta Kerja, UU kesehatan tentang BPJS, kurikulum pendidikan dan sebagainya.
Kapitalisme berasas liberalisasi atau kebebasan telah menjadikan sumber daya alam dikuasai para pengusaha, pemilik modal, dan asing dengan dalih investasi. Tanpa sadar bahwa itu adalah bentuk penjajahan gaya modern. Dengan dalih investasi, kekayaan alam dijarah seperti tambang emas Irian Jaya dan nikel di Raja Ampat. Sementara itu, masyarakat yang merasakan dampak kerusakan ekosistem, seperti banjir dan longsor.
Asas kebebasan ini juga berdampak pada generasi muda. Ide sesat ini menyebabkan remaja melakukan sex bebas, judol, mengonsumsi narkoba, alkohol, tawuran, LGBT, dan lainnya. Oleh karena itu, agar bangsa ini terlepas dari penjajahan pemikiran atau ideologi sesat, masyarakat harus memahami Islam sebagai pandangan hidup.
Kemerdekaan Sejati
Ada seseorang yang mengatakan bahwa ‘ketaatan pada Islam’ itu sama saja ‘mengekang kemerdekaan’. Tentu saja ungkapan tersebut merupakan kesalahan. Karena sesungguhnya, Islam datang untuk memberi kemerdekaan sejati kepada manusia. Islam datang di tengah penderitaan masyarakat akibat penguasa yang zalim dan sistem perbudakan yang berlaku. Kemudian Islam membebaskan dari semua itu.
Dalam Islam penjajahan hukumnya haram sebagaimana Allah telah menyampaikan dalam surah Thaha ayat 14 :
“Sungguh Aku adalah Allah. Tidak ada tuhan yang lain, selain Aku. Oleh karena itu, sembahlah Aku.”
Pada ayat tersebut jelaslah bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, diyakini dan dibuktikannya dengan perbuatan dengan menjalankan semua peraturannya. Inilah sebuah kalimat tauhid, pokok dari segala pokok dan wajib diajarkan pertama kali pada manusia. Kalimat tauhid ini jika dipahami dengan baik, akan memberi spirit seseorang untuk melawan segala bentuk penjajahan fisik maupun pemikiran yang rusak.
Islam datang untuk menghapuskan sikap tirani para penguasa dan para bangsawan. Dalam Islam, kesetaraan dan kemuliaan ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah. Sebagaimana telah dipertegas dalam surah Al-Hujurat ayat 13 :
“Sungguh yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
Berbeda dengan sekuler kapitalisme justru membeda-bedakan, orang yang punya modal diberi pelayanan khusus dan ruang untuk menguasai sumber daya alam dan menentukan suatu hukum. Sementara itu, pelayan kepada masyarakat hanya sekadarnya saja bahkan diabaikan.
Islam juga membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Sebagian besar manusia berpikir hidup bebas tanpa ada aturan adalah kemerdekaan. Padahal ketika mengikuti hawa nafsu mereka akan mengalami kesengsaraan. Oleh karena itu, ketika ingin selamat dan bahagia harus bisa menundukkan hawa nafsunya pada aturan Allah.
Khatimah
Wahai saudaraku seiman! Sesungguhnya negeri ini belum merdeka. Perbudakan pada pemikiran atau ideologi sesat masih terjadi. Sumber daya alam masih terus dijarah oleh asing. Sementara itu, masyarakat hidup dalam kemiskinan di tengah negeri yang kaya ini.
Sekuler kapitalisme menyeret masyarakat supaya jauh dari aturan yang shahih. Islamfobia terus dikobarkan hingga banyak yang takut dengan agamanya sendiri. Oleh karena itu, mari mengukuhkan ketaatan kepada Allah dengan mengambil semua aturan-Nya dan diterapkan dalam sebuah negara (Khilafah). Wallahua’lam bisshawab.
Oleh: Rastias
Aktivitas Muslimah
0 Komentar