Kemerdekaan Hakiki
MutiaraUmat.com -- Sebagai penulis, saya resah setiap kali menyaksikan perayaan kemerdekaan negeri ini. Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka dari penjajahan fisik, tetapi rasa merdeka yang hakiki terasa masih jauh dari genggaman.
Hakikat kemerdekaan, yaitu hidup bermartabat tanpa dikuasai ideologi asing masih belum kita miliki.
Realitas Indonesia hari ini masih bergantung pada utang luar negeri, investasi asing menguasai sumber daya vital seperti nikel dan emas, hukum sering tajam ke bawah namun tumpul ke atas, dan kebijakan publik kerap mengikuti arus liberalisme global. Pendidikan pun lebih menekankan kompetisi materi daripada pembentukan akhlak. Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan kita belum hakiki. Kita hanya bebas secara teritorial, tetapi terikat secara ideologi.
Dilansir dari bpn.go.id (25/7/2025), data terbaru 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kemiskinan tetap bertahan di angka 9,3%, pengangguran terbuka 5,4%, dan utang negara melampaui Rp8.400 triliun. Di sisi lain, 1% kelompok terkaya menguasai hampir setengah aset nasional, terutama dari sektor tambang, migas, dan perkebunan. Jurang kesenjangan makin terasa, sementara korupsi dan ketidakadilan hukum terus menghantui.
Lebih memprihatinkan lagi, moral generasi muda terguncang. Fenomena bullying meningkat 12% dibanding tahun lalu, tren seks bebas dan LGBT kian marak di media sosial, serta kasus kekerasan remaja dan narkoba semakin sering terjadi. Negeri ini merdeka secara fisik, tetapi batinnya terjajah oleh pemikiran kapitalisme-sekularisme yang menuhankan materi dan menyingkirkan nilai tauhid.
Tauhid sebagai Fondasi Kemerdekaan
Islam mengajarkan bahwa penjajahan baik fisik maupun nonfisik, adalah bentuk isti’bad perbudakan manusia atas manusia.
Seharusnya manusia hanya boleh patuh dan tunduk kepada Allah Swt sebagaimana firmanNya dalam Al-Qur'an surah Thaha ayat 14 yang artinya, “Sungguh Aku adalah Allah, tidak ada ilah selain Aku, maka sembahlah Aku.”
Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini sebagai seruan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah, menolak penghambaan kepada selain-Nya. Ketika tauhid menjadi pusat kehidupan, manusia terbebas dari sistem dan ideologi yang zalim.
Rasulullah Saw, bersabda, “Sesungguhnya tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa kemerdekaan hakiki lahir dari kesetiaan penuh kepada Allah, bukan kepada ideologi kapitalis atau kekuatan global.
Sejarah mencatat kalimat sahabat Rub’i bin Amir di hadapan panglima Persia Rustum, “Allah mengutus kami untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah, dari sempitnya dunia menuju keluasannya, dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam."
Sehingga dapat dipahami bahwa kemerdekaan hakiki adalah tunduk sepenuhnya kepada Allah, keluar dari kegelapan menuju cahaya sebagaimana firman-Nya, “… agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dengan izin Tuhan mereka…” (TQS. Ibrahim:1)
Mujtahid Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizb ut‑Tahrir, menghidupkan semangat ini dalam karya-karyanya seperti Nidzamul Islam dan Muqaddimah ad-Dustur. Beliau menegaskan bahwa kemerdekaan hakiki hanya terwujud dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah. Sistem ini bukan nostalgia masa lalu, tetapi jawaban bagi keterpurukan umat akibat dominasi kapitalisme dan sekularisme.
Oleh karena itu, kemerdekaan hakiki menuntut keberanian untuk:
Pertama, mengembalikan hukum Allah sebagai dasar negara.
Kedua, mengelola kekayaan alam untuk kepentingan rakyat, bukan oligarki.
Ketiga, membebaskan kebijakan dari tekanan Asing.
Keempat, membangun generasi muda bertauhid melalui pendidikan Islam.
Kelima, menerapkan sistem sosial, politik, dan ekonomi yang selaras dengan syariat.
Namun Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menyebut, “Tidak mungkin umat ini bangkit kecuali dengan ideologi Islam yang diterapkan secara total.”
Tanpa itu, setiap perayaan kemerdekaan hanya akan menjadi ritual seremonial tanpa makna substantif.
Sebagai penulis, keresahan ini adalah panggilan untuk tafakur, apakah kita benar-benar merdeka atau hanya berganti bentuk penjajahan dari penjajahan Belanda beralih ke penjajahan pemodal?
Tanpa kembali pada tauhid dan syariat, kemerdekaan kita akan selalu semu. Saatnya Indonesia berani memerdekakan diri, bukan hanya dari penjajah fisik, tetapi dari belenggu ideologi kapitalisme-sekularisme yang mengekang jiwa bangsa. []
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar