Kelaparan di Gaza, Genosida Tersistem oleh Zionis
MutiaraUmat.com -- Derita masyarakat Gaza masih belum berakhir hingga saat ini dan semakin menyakitkan. Pada Maret 2025, Israel memblokir seluruh akses ke Gaza. Sebagai dampaknya, barang-barang seperti makanan, bahan bakar, dan obat-obatan tidak dapat masuk ke wilayah Gaza. Blokade ini telah menghentikan aliran pasokan makanan, obat-obatan yang sangat diperlukan, vaksin, dan peralatan medis yang krusial bagi sistem kesehatan Gaza yang sudah terbebani. Konsekuensinya, angka malnutrisi meningkat, terutama di kalangan wanita dan anak-anak yang sangat memerlukan perawatan. Hampir sepertiga dari populasi tidak mendapatkan makanan dalam beberapa hari. Kelaparan yang melanda Gaza saat ini bukan disebabkan oleh bencana alam, melainkan akibat dari sistem yang ada.
Laporan dari pihak berwenang Gaza menyebutkan bahwa 87 warga Palestina kehilangan nyawa dan 570 lainnya mengalami cedera saat berusaha mendapatkan bantuan kemanusiaan dalam satu hari terakhir. Dengan demikian, total jumlah warga Palestina yang tewas dalam upaya mencari bantuan kini mencapai 1.655 orang, sementara lebih dari 11.800 lainnya terluka sejak tanggal 27 Mei (Tempo, 6/8/2025).
Kekejaman Zionis Yahudi semakin parah, bahkan sudah melampaui batas kewarasan manusia seolah mereka tidak lagi terlihat sebagai manusia, membiarkan krisis kelaparan yang sangat mengerikan tanpa memperhatikan anak-anak yang menderita akibat kelaparan. Selain itu, kondisi kelaparan ini dijadikan sebagai metode genosida baru mereka. Hingga saat ini, sekitar 2 juta orang harus bertahan hidup di tengah situasi kelaparan yang parah hingga banyak yang menjadi korban. Sejak Maret 2025, bantuan dalam bentuk truk hanya diizinkan masuk dalam jumlah yang sangat terbatas. Sangat jelas bahwa tindakan ini dilakukan dengan sengaja sebagai genosida baru yang dikenal dengan kelaparan (genosida melalui kelaparan).
Kekejaman yang dilakukan oleh Zionis terhadap umat Muslim di Gaza semakin jelas terlihat. Oleh karena itu, untuk memerdekakan Palestina yang telah dijajah selama puluhan tahun, tidak cukup hanya dengan kecaman, pernyataan berapi-api, dan bantuan kemanusiaan. Saat ini, semua ini sudah dilakukan, namun Palestina masih tetap terjajah. Terlebih lagi, Zionis selalu mendapatkan dukungan, perlindungan, dan pembelaan dari Amerika Serikat serta hak veto yang digunakan oleh AS.
Keberadaan PBB sebagai organisasi global juga tidak efektif, tidak memberikan dampak nyata bagi penderitaan umat Muslim. Kita bisa menyaksikan berbagai kekejaman yang dilakukan oleh Zionis yang secara terang-terangan melanggar hak asasi manusia yang sering diusung oleh negara-negara Barat, tetapi PBB tampaknya acuh tak acuh. Oleh karena itu, wajar jika disebutkan bahwa PBB tidak berfungsi dengan baik.
Apalagi posisi para pemimpin muslim di negara-negara umat Islam telah kehilangan kepedulian, tidak memiliki kekuatan, dan acuh tak acuh terhadap panggilan Allah SWT dan Rasul-Nya. Sementara itu, masyarakat Gaza sangat mendambakan bantuan dari saudara-saudara sesama Muslim yang berada di penjuru dunia lainnya. Namun, adanya pembatasan nasionalisme inilah yang membuat para penguasa di negara-negara Muslim tidak bersuara.
Berbagai bentuk pengaruh dari Barat telah masuk ke dalam pemikiran komunitas Muslim. Ide-ide seperti sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme, serta beberapa kesepakatan normalisasi antara negara-negara Barat dan pemimpin Muslim, telah menyebabkan pengkhianatan terhadap sesama Muslim yang sedang mengalami penindasan. Demikian juga, para pemuka agama, pasukan, dan umat pun akhirnya menyerah karena merasa tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Gaza. Sementara itu, komunitas ini sebenarnya memiliki potensi kekuatan yang sangat besar yang berasal dari keyakinan yang kuat.
Sejarah yang panjang juga menunjukkan bahwa umat Islam memiliki kekuatan yang signifikan untuk menjadikan Khilafah sebagai kekuatan global dan terbukti bahwa angkatan bersenjata khilafah tak pernah mengalami kekalahan selama 13 abad. Mereka bahkan berhasil membebaskan Palestina dari kekuasaan musuh. Situasi kelaparan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Gaza saat ini seharusnya menjadi pengingat bagi umat untuk menyadari solusi yang sebenarnya bagi Palestina, yaitu melalui jihad dan berdirinya khilafah. Oleh karena itu, mendirikan khilafah merupakan suatu hal yang sangat mendesak.
Selain itu, kesadaran di kalangan umat juga perlu terus ditingkatkan seiring dengan berbagai bukti yang menunjukkan kejahatan Zionis sampai saat ini. Umat harus menyadari bahwa ketidakadilan yang dialami oleh umat Islam di seluruh dunia terjadi karena tidak ada perlindungan, yaitu seorang khalifah. Para jamaah dakwah ideologis harus terus memimpin umat untuk mengembangkan kesadaran Islam dan mengembalikan penghormatan terhadap Islam yang akan terwujud ketika khilafah berdiri kembali. Selain itu, mereka yang mengemban dakwah perlu meningkatkan keterampilan dan menemukan beragam cara untuk berinteraksi dengan umat agar dapat menyentuh perasaan dan pemikiran mereka dengan pesan Islam. Di samping itu, para pengemban dakwah juga harus memperkuat keyakinan dan konsistensi pada jalur dakwah yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, serta selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT sambil membenahi diri agar layak menjadi hamba Allah yang diterima pertolongannya untuk menegakkan khilafah dan membebaskan Palestina. []
Oleh: Kanti Rahayu
(Aliansi Penulis Rindu Islam)
0 Komentar