Hentikan Kelaparan di Gaza
MutiaraUmat.com -- Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk secara resmi menegaskan bahwa tindakan kelaparan terhadap warga sipil Gaza merupakan bentuk kejahatan perang dan potensi ethnic cleansing. Ia mencatat bahwa akses bantuan dihentikan secara sistematis, warga sipil terus menyerbu pos distribusi yang berlebihan militer, dan distribusi yang dijuluki “Humanitarian” sering memakan korban nyawa di titik-titik GHF .
Laporan IPC (Integrated Food Security Phase Classification) pada 29 Juli 2025 menyatakan bahwa Gaza telah memasuki kondisi hampir kelaparan (phases 5) di sebagian besar wilayahnya, termasuk Gaza City. Konsumsi makanan telah memburuk dengan satu dari tiga orang tidak makan selama berhari-hari. Antara Mei–Juli 2025, jumlah rumah tangga yang mengalami kelaparan ekstrem meningkat dua kali lipat. Lebih dari 20.000 anak telah dirawat karena malnutrisi akut (lebih dari 3.000 kasus parah), dan rumah sakit telah melaporkan banyak kematian terkait kelaparan sejak pertengahan Juli .
Menurut WHO, dari 74 kematian akibat malnutrisi yang terjadi sepanjang tahun 2025, 63 terjadi hanya di bulan Juli—termasuk 24 anak balita, satu anak lebih tua, dan 38 orang dewasa. Ini menunjukkan lonjakan tajam dan tragis dalam risiko malnutrisi sejak perang bergulir.(kompas.id, 31/7/2025)
Bahkan dunia ramai memberitakan jika sekitar 320.000 anak di bawah lima tahun di Gaza kini menghadapi risiko serius malnutrisi akut. Di Gaza City sendiri lebih dari 16,5 % balita mengalami malnutrisi akut empat kali lipat dalam dua bulan terakhir. Infrastruktur medis telah ambruk, dengan < 15 persen fasilitas nutrisi yang masih berfungsi. Dampaknya, angka kematian anak sangat meningkat .
Meskipun solidaritas dunia semakin lantang, termasuk airdrop bantuan oleh negara-negara Eropa, akses tetap terbatas, distribusi kacau, dan tempat pengambilan bantuan sering berujung maut. Data terbaru mencatat bahwa sekitar 1.000 warga sipil telah tewas saat mencoba mengambil bantuan dari fasilitas GHF dan jalur konvoi sejak akhir Mei hingga Juli 2025 .
Volker Türk dan lembaga PBB lainnya telah menyerukan penghapusan hambatan birokrasi dan pembukaan penuh jalur bantuan kemanusiaan. Namun kecaman dan ancaman tidak mampu meredakan blokade Isra3l, justru Isra3l terus bersikap arogan karena dukungan penuh dari sekutu utama seperti Amerika Serikat.
Akar Masalah
Kelaparan dan krisis kemanusiaan Gaza harus dipahami sebagai dua masalah berlapis,
Pertama, masalah utama, yaitu pendudukan Zion*s yang menanam sistem penjara terbuka, pembatasan total terhadap makanan, air, listrik, obat, sejak 2 Maret 2025.
Kedua, masalah cabang, yaitu krisis pangan, kesehatan, pengungsian, malnutrisi massal, yang muncul sejak itu.
Memang donasi dan evakuasi itu perlu, namun hanya menangani masalah cabang. Selama pendudukan problem akar tak tersentuh, korban akan terus bermunculan.
Syaikh Taqiyuddin an‑Nabhani dalam karya beliau Syakhsiyah Islamiyah menegaskan bahwa jihad bukan sekadar aktivitas rohani, tetapi upaya kolektif bawah kepemimpinan negara Khilafah Islamiah untuk menegakkan hukum Islam, membebaskan tanah umat, dan menegakkan keadilan.
Tanpa Khilafah, umat Islam terpecah, politik bergantung pada nasionalisme yang menyejajarkan kepentingan sendiri, bukan kepentingan umat .
Di bawah Khilafah Islamiyah, umat Muslim dapat,
Pertama, mengelola sumber daya finansial, militer, logistik.
Kedua, mengomando pasukan untuk membebaskan Palestina dari Zion*s.
Ketiga, menaikkan kalimat Allah lewat jihad strategis, bukan sekadar simbolik.
Keempat, menjamin akses bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi pasca-perang berdasarkan syariat.
Khilafah bukan nostalgia sejarah, melainkan kebutuhan strategis, agar umat Islam mampu bersolidaritas nyata bukan simpul syukur donor, tapi perisai umat yang kuat.
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan mereka berlindung kepadanya.” (HR. Bhukari dan Muslim)
Tanpa khilafah, dunia hanya bisa mengecam internasional, namun tetap tak menyurutkan blokade. Solusi sementara jatuh hanya pada logistik bantuan. Solusi tuntas hanya datang dari jihad kolektif di bawah naungan Khilafah Islamiah, yang dipimpin negara Islam sebagai kekuatan nyata menghadapi sekutu Zion*s. Dengan demikian, khilafah bukan saja membebaskan tanah Palestina, tapi juga mengakhiri penderitaan kelaparan mereka.
Semoga Allah membukakan kesadaran umat, memecah sekat-sekat pembungkam, dan menguatkan barisan dakwah untuk menghadirkan solusi Islam yang nyata, bukan sekadar retorika. Aamiin.
Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar