Genosida Palestina, Perikemanusiaan Telah Mati


MutiaraUmat.com -- Perikemanusiaan telah mati. Ini bukan sekadar retorika emosional, bukan pula metafora hiperbolik. Ini adalah fakta yang nyata dan pahit, yang kami sampaikan sambil menangis darah, karena kami benar-benar hidup dalam rumah duka tanpa jenazah yang bisa dikuburkan, tanpa keluarga yang utuh, tanpa harapan yang tersisa dari umat manusia.

Sejak 7 Oktober 2023, entitas Yahudi, dengan sokongan Amerika dan aliansi kolonialnya, melancarkan genosida brutal terhadap rakyat Gaza. Dunia menyaksikan, tetapi diam. Para pemimpin negara-negara besar menghitung laba dari penjualan senjata, sementara darah anak-anak mengalir membasahi reruntuhan rumah dan masjid.

Setiap harapan kepada perikemanusiaan dunia telah musnah. Setiap kekejian baru yang kami saksikan justru ditanggapi dengan pasokan senjata dan sokongan dana yang lebih besar bagi para penjagal dari entitas Yahudi. Semua institusi mereka, mulai dari sipil hingga militer, dari media hingga sekolah-sekolah berkontribusi dalam mesin pembunuhan rakyat Palestina.

Sementara itu, rezim-rezim negeri Muslim justru menunjukkan wajah aslinya, pengkhianat yang membentangkan karpet merah bagi entitas Yahudi dan tuan mereka di Washington. Erdogan dari Turki terus mengekspor produk ke Israel. As-Sisi dari Mesir memblokade Rafah dan menjual bantuan kemanusiaan seperti komoditas pasar. Muhammad bin Salman dari Saudi mengirim buah dan sayur untuk konsumsi penjajah, bukan rakyat yang terkurung di Gaza.

Inilah saatnya mengatakan dengan lantang, "Perikemanusiaan telah mati, dan rezim-rezim Muslim telah menguburkannya hidup-hidup. Mereka telah menukar darah umat dengan restu Barat, menukar Al-Quds dengan normalisasi, dan menukar jihad dengan latihan militer palsu di bawah komando NATO."

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak…" (TQS. An-Nisa: 75).

Dan Rasulullah Saw. bersabda, "Siapa saja yang tidak pernah berperang atau tidak pernah berniat untuk berperang, maka ia mati dalam keadaan munafik." (HR. Muslim).

Namun, para tentara umat hanya sibuk dalam apel pagi dan parade kehormatan yang tidak memiliki makna di tengah ratapan kaum ibu di Gaza. Mereka dilatih bukan untuk membebaskan Al-Quds, tetapi untuk mengamankan batas buatan kolonial, dan menindas rakyat mereka sendiri bila berani menuntut pembebasan Palestina.

Tak kalah memilukan adalah sebagian besar ulama dan tokoh agama yang menenggelamkan kepala mereka dalam keheningan. Mereka tidak menyeru umat untuk berjihad, tapi hanya menyerukan doa dan zikir. Mereka berkata jihad itu penting, tetapi enggan menyatakan bahwa kewajiban jihad fi sabilillah kini telah menyapa tiap jengkal tanah Muslim yang diinjak oleh penjajah.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah dengan tegas menyatakan, "Palestina bukan semata masalah kemanusiaan, bukan pula isu bangsa Arab atau konflik teritorial. Ia adalah tanah Islam yang wajib dibebaskan dengan jihad oleh negara Khilafah, bukan dengan perundingan atau solusi dua negara."

Syekh ‘Ata bin Khalil Abu ar-Rasytah juga menegaskan, "Tidak akan pernah terwujud pertolongan hakiki bagi rakyat Palestina kecuali dengan tegaknya kembali Khilafah yang menggerakkan tentara kaum Muslimin untuk berjihad. Palestina tidak akan dibebaskan oleh LSM, orasi, atau fatwa setengah hati."

Lalu apa yang tersisa? Tidak ada, kecuali Allah. Hanya Allah tempat rakyat Gaza berharap. Hanya janji kemenangan dari-Nya yang menjadi cahaya dalam lorong gelap tanpa ujung ini. Dan janji itu nyata, sebagaimana firmanNya dalam Al-Qur'an surah Al-Hajj ayat 40 yang artinya, "Dan sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa."

Kini, saatnya umat Islam membuka mata. Bahwa solusi hakiki bagi Palestina dan seluruh penderitaan umat tidak akan datang dari PBB, bukan dari Uni Eropa, bukan dari Liga Arab, dan bukan dari perundingan meja bundar, namun solusi itu hanya satu, yaitu menegakkan Khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah, yang akan mengakhiri penjajahan dan memobilisasi kekuatan umat untuk membebaskan tanah-tanah suci. 

Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan menyatukan kaum Muslimin, mencabut pengaruh imperialis, dan memimpin jihad membebaskan Al-Quds dengan kekuatan sejati.

Inilah saatnya umat bersatu, mengembalikan kekuasaan kepada syariat Allah, menegakkan Daulah Islamiah, dan menunaikan kewajiban yang selama ini diabaikan, yaitu berjihad fi sabilillah dalam barisan satu komando khilafah.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Imam (khalifah) adalah perisai. Di belakangnya kaum Muslimin berperang dan dengannya mereka berlindung." (HR. Muslim).

Semoga Allah SWT segera menegakkan khilafah kedua sebagaimana janjiNya, dan menurunkan pertolonganNya bagi rakyat Gaza dan seluruh kaum tertindas di bumi ini.

Ùˆَاللهُ غَالِبٌ عَÙ„َÙ‰ Ø£َÙ…ْرِÙ‡ِ ÙˆَÙ„َٰÙƒِÙ†َّ Ø£َÙƒْØ«َرَ النَّاسِ Ù„َا ÙŠَعْÙ„َÙ…ُونَ

"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Yusuf: 21). []


Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar