Fenomena Duck Syndrome Kaum Muda vs Ketangguhan Generasi Gaza
MutiaraUmat.com -- Kalau boleh jujur, kadang suka malu sendiri lihat anak-anak Gaza. Bagaimana tidak? Di tengah suara bom yang meledak saban hari, di tengah hilangnya ayah, ibu, atau bahkan seluruh keluarga karena syahid dibom Zion*s, mereka tetap semangat belajar.
Ada yang menulis di atas serpihan puing. Ada yang hafalan Al-Qur’an di tenda pengungsian. Ada yang ujian sambil menggendong adik yatim dan ketika ditanya, mereka tetap ingin tinggal di Gaza. Tetap ingin membela Masjid Al-Aqsa. Tetap ingin jadi penjaga tanah suci umat Islam.
Sementara di sini? Kita punya kasur empuk, galon air, listrik 24 jam, dan wifi unlimited. Tapi kenapa ya, hati dan pikiran terasa seperti di medan perang?
Duck Syndrome: Tenang di Luar, Tenggelam di Dalam
Pernah dengar istilah duck syndrome?
Itu tuh istilah buat mahasiswa yang tampak tenang dan baik-baik saja dari luar, padahal sebenarnya lagi panik, stres, bahkan nyaris putus asa. Seperti bebek yang tampak kalem di permukaan air, padahal kakinya mendayung panik di bawah.
Fenomena ini makin banyak terjadi di kampus-kampus, termasuk di Indonesia. Mahasiswa harus tampil sempurna, seperti IPK bagus, aktif organisasi, punya relasi, berpenampilan kece, bisa bahasa Inggris, dan tetap tampil bahagia. Tapi dalamnya? Hancur, kacau, kosong.
Padahal mereka tidak sedang dikejar bom Zion*s seperti anak Gaza. Tapi tetap tertekan.
Kenapa bisa berbeda? Karena anak-anak Gaza dibesarkan dengan pemahaman Islam, kita dibesarkan oleh sistem kapitalis.
Anak-anak Gaza tahu siapa mereka dan untuk apa mereka hidup. Orang tuanya, gurunya, bahkan nenek-neneknya mendidik mereka jadi pejuang, bukan cuma pelajar. Mereka tahu perang itu berat, tapi hidup tanpa Islam jauh lebih berat. Mereka belajar bahwa hidup mulia dengan Islam lebih baik daripada nyaman tapi dijajah.
Kita? Dididik untuk jadi "Sukses" menurut standar dunia, kuliah tinggi, gaji besar, hidup mapan, dan dilike banyak orang. Tapi gak pernah diajarin, “Untuk apa kamu hidup?”
Kita dijejali standar sekuler kapitalis, tapi lupa diberi makna. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan, "Sistem kapitalisme telah merusak fitrah manusia. Ia mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah kenikmatan duniawi, bukan pengabdian kepada Allah. Maka jangan heran jika manusia kehilangan arah dan terjebak dalam krisis batin." (Nidham al-Islam)
Saatnya Menengok Gaza, dan Belajar Arah Hidup
Anak-anak Gaza itu bukan cuma korban perang. Mereka itu inspirasi. Mereka bukan generasi rebahan, tapi generasi pejuang. Bahkan tanpa ayah-ibu, mereka tetap belajar. Bahkan dengan sekolah yang dibom, mereka tetap hafalan Al-Qur’an. Bahkan dengan luka dan trauma, mereka tetap bercita-cita tinggi.
Lalu kita? Kampus lengkap. Fasilitas aman. Tapi stres karena takut gagal UTS. Panik karena orang lain sudah “Lebih dulu sukses”. Nangis karena ekspektasi tidak tercapai. Hancur karena patah hati di antara jadwal organisasi.
Ada yang salah dengan sistem yang membesarkan kita.
Kembalikan Tujuan Hidup, Temukan Jalan Perjuangan
Solusi duck syndrome bukan cuma ganti rutinitas, tapi ganti standar hidup.
Anak-anak Gaza kuat karena hidup mereka dibentuk oleh sistem Islam (meski belum sempurna) tapi mampu menancapkan nilai Islam dan semangat perjuangan.
Kita? Dibentuk oleh sistem sekuler kapitalis yang nilai manusianya cuma diukur dari produktivitas dan pencapaian materi. Maka solusinya,
Pertama, ngaji Islam kaffah, temukan hakikat diri.
Biar kita paham siapa kita di hadapan Allah. Biar tahu arah hidup kita harus ke mana. Biar gak gampang baper dan bandingin diri sama standar dunia. Karena Islam punya standar mulia, yaitu takwa, bukan pencitraan.
Kedua, sadari bahwa sistem kapitalisme membawa kerusakan dan butuh segera diganti.
Jangan cuma menyalahkan diri sendiri karena gak kuat hadapi tekanan. Faktanya, kita hidup dalam sistem yang memproduksi tekanan terus-menerus. Maka yang perlu disalahkan adalah sistemnya. Sistem kapitalisme ini udah waktunya diganti dengan sistem Islam.
Syaikh Taqiyuddin mengatakan,
“Khilafah bukan hanya kebutuhan syariat, tapi juga kebutuhan hidup manusia. Tanpa khilafah, hukum Allah akan hilang, dan manusia akan terjerumus dalam kesengsaraan buatan sistem buatan manusia.” (Nizham al-Hukm)
Ketiga, gabung dalam barisan perjuangan umat.
Gaza gak akan bebas cuma pakai tagar. Butuh khilafah. Dan khilafah butuh umat yang sadar dan siap memperjuangkannya. Termasuk kita, para mahasiswa. Bukan untuk jadi radikal. Tapi jadi rasional. Karena gak ada yang lebih masuk akal selain hidup untuk Islam, berjuang demi umat, dan mengakhiri penjajahan.
Dengan solusi seperti diatas, generasi Islam akan menjadi seperti anak-anak Gaza yang tau siapa dirinya, tau tujuan hidupnya, dan siap berjuang, bahkan di tengah perang. Tidakkah kita menginginkannya?
Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar