Darurat Mental Remaja, Alarm Visi Hidup Bangsa Kacau
MutiaraUmat.com -- Coba deh tengok berita akhir-akhir ini. Masalah mental remaja lagi booming. Dilansir dari bbc.com (23/7/2025), Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) bikin kaget, satu dari tiga anak usia 10–17 tahun punya masalah kesehatan mental. Sementara satu dari 20 remaja sudah resmi didiagnosis gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Itu berarti lebih dari 15 juta anak dan 2,45 juta remaja sekarang lagi jungkir balik menghadapi masalah psikologis serius.
Bentar, ini bukan angka buat lomba matematika ya. Ini alarm keras! Artinya, ada yang salah di sistem kita, bukan cuma di anak-anaknya.
Penyebabnya? Banyak! Survei bilang yang paling sering adalah gangguan kecemasan, seperti fobia sosial, overthinking parah, dan rasa cemas tanpa sebab. Lalu ada depresi mayor, gangguan perilaku, PTSD, sampai ADHD.
Faktor pemicunya? Lengkap, seperti bullying, tekanan akademik, toxic friendship, masalah keluarga, perceraian orang tua, kecanduan gadget, trauma masa kecil, sampai ekonomi seret yang bikin orang tua stres lalu bawa-bawa anak jadi sasaran marah. Bahkan urusan pergaulan bebas dan online games juga masuk daftar penyebab.
Psikolog Najeela Shihab pernah bilang, “Kesehatan mental anak itu hasil kombinasi pola asuh, metode pembelajaran, dan relasi sosial.” Sementara Dian Sudiono Putri (Himpunan Psikologi Indonesia) nambahin, “Anak miskin lebih rentan stres karena banyak jadi korban kekerasan akibat tekanan ekonomi.” (bbc.com, 23/7/2025)
Jadi masalahnya kompleks, bukan sekadar anaknya yang rapuh, tapi lingkungan dan sistem yang bikin rapuh. Ingat, kita hidup di sistem kapitalis yang bikin kepala pusing.
Coba jujur, hari ini kita hidup di dunia yang ngajarin kita ngejar ranking, ngejar likes, ngejar cuan, tapi lupa ngajarin buat apa hidup ini. Sistem sekuler kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan.
Ngaji? Boleh. Tapi jangan dibawa ke politik, ekonomi, pendidikan. Akhirnya, semua aspek hidup diukur dari materi.
Sekolah? Fokusnya nilai rapor. Kerja? Fokusnya gaji. Nikah? Fokusnya pesta mewah dan cincin kilau. Akhirat? Kadang cuma diingat pas melayat tetangga.
Padahal manusia butuh jawaban eksistensial, “Siapa aku? Buat apa aku hidup? Mau ke mana setelah mati?” Kalau ini nggak kejawab, wajar aja anak-anak gampang panik, kosong, dan gampang ambruk pas gagal.
Islam sejak awal sudah kasih jawaban paling jernih bahwa hidup itu ibadah, tujuan hidup itu ridha Allah, akhirat itu kampung sebenarnya.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Rasulullah Saw juga bersabda, “Barang siapa yang dunia menjadi niat terbesarnya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran selalu di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekadar yang ditakdirkan. Dan barang siapa yang niat terbesarnya adalah akhirat, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kaya hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.” (HR Ibnu Majah).
MasyaAllah, jelas banget kan kalau motivasi utama kita akhirat, hati jadi ringan. Kalau motivasi dunia, kita bakal ngos-ngosan ngejar standar palsu.
Pandangan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah beliau mengatakan bahwa kepribadian Islam itu kombinasi pola pikir dan pola sikap yang terikat syariat. Artinya, cara kita mikir harus Islam, cara kita bersikap juga Islam. Baru deh lahir generasi tangguh.
Krisis mental hari ini bukan cuma masalah individu, tapi masalah sistemik. Solusinya bukan sekadar konseling atau healing trip, tapi mengubah cara pandang hidup. Harus dibangun sistem yang bikin remaja paham visi hidupnya, yaitu taat Allah, raih surga, dan siap memimpin peradaban mulia.
Kenapa Sistem Islam Bisa Bikin Mental Sehat?
Pertama, sistem pendidikan Islam fokus membina akidah, bukan cuma angka.
Sekolah Islam (versi syariah, bukan cuma nama) ngajarin tujuan hidup, adab, tanggung jawab, dan rasa cinta sama ilmu. Anak nggak cuma disuruh hafal rumus, tapi juga ngerti buat apa belajar. Sehingga dari penerapan sistem pendidikan Islam ini akan terlahir generasi yang berkepribadian Islam.
Kedua, keluarga jadi benteng pertama. Orang tua diarahkan jadi teladan iman dan akhlak, bukan cuma jadi ATM berjalan. Rasulullah Saw bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga, negara wajib menjadi pengurus, bukan penonton. Negara dalam Islam (khilafah) wajib jamin pendidikan gratis, layanan kesehatan mental berkualitas, dan kontrol media biar nggak jadi racun. Negara juga harus mengelola kekayaan alam buat rakyat, bukan buat konglomerat.
Keempat, kontrol sosial yang kuat. Masyarakat saling menasihati dalam kebaikan. Kalau ada yang salah arah, diingatkan dengan cara baik. Bukan malah di-bully.
Remaja yang ngerti hidupnya buat Allah akan beda cara mikirnya. PR numpuk? Disyukuri sambil dikerjain. Gagal ujian? Anggap ujian sabar. Nggak punya HP baru? Bukan masalah, yang penting punya amal buat dibawa ke akhirat.
Gaya hidup ini bukan bikin remaja kuper, malah bikin mereka tenang, fokus, dan berani. Soalnya mereka nggak diombang-ambing standar dunia. Kalau sistemnya nggak diubah? Ya siap-siap aja lihat berita makin horor, anak bunuh orang tua gara-gara HP, pelajar tawuran sambil live TikTok, remaja depresi karena nggak masuk kampus idaman. Tambah pula tren “Mager hidup” alias nggak punya gairah hidup.
Lalu, mau sampai kapan tambal sulam pakai seminar mental health tapi nggak ubah sistem yang bikin stres? Darurat mental remaja bukan masalah remeh. Ini alarm kalau visi hidup bangsa kita kacau. Selama kita masih memisahkan agama dari urusan publik, remaja akan terus bingung.
Islam ngajarin hidup sementara, akhirat selamanya. Anak yang paham ini akan santai tapi serius. Santai karena dunia cuma sebentar, serius karena akhirat taruhannya kekal.
Yuk, kita ubah cara pandang hidup. Didik anak dengan tujuan akhirat, dorong mereka beramal jariyah, dan perjuangkan sistem Islam kaffah yang memayungi generasi. Itulah satu-satunya cara melahirkan generasi kuat mental, cerdas, dan siap memimpin peradaban. []
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar