Dari Krisis Gaza Menuju Kebangkitan Umat Islam


MutiaraUmat.com -- Systematic Starvation di Gaza, Cermin Lemahnya Umat Islam

Saat ini saudara Muslim kita yang di Gaza menghadapi pelaparan sistemis (systematic starvation) ulah kebiadaban blokade Zionis Israel. Betapa lemahnya umat Islam hari ini, suara miliaran umatnya tak menembus jantung dunia. Sungguh hina para pemimpin dunia, matanya buta telinganya tuli, pemimpin negeri kafir mungkin sudah wataknya, ironisnya itu melanda pemimpin negeri-negeri Muslim dunia. Seakan mereka sepakat duduk diam mengamankan kursinya demi menjilat Amerika dan antek-anteknya.

Gaza bukan sekadar titik kecil di peta yang tak memiliki arti atau makna. Gaza adalah luka terbuka umat Islam dunia, yang setiap tetes darahnya menjadi saksi bisu kelalaian kita, iya kita karena itu termasuk saya dan anda. Pemimpin negeri Muslim itu pasti akan ditanya pertanggungjawabannya, tapi kita juga tak akan luput dari tanya-Nya. Di mana suara kita? Apa upaya kita?

Pelaparan sistemis (systematic starvation) sebagai strategi perang modern seharusnya jelas melanggar hukum internasional. Namun mereka sibuk berdebat, enggan bertindak, padahal ini terjadi di depan mata dunia.

Korban tewas mencapai lebih dari 60.000 jiwa, meninggal akibat kelaparan hingga 180 jiwa (termasuk 93 anak). Bahkan korban meninggal saat mencari bantuan lebih dari 1.000 orang sejak Mei 2025. Berbagai infrastruktur pun tak luput dari kebengisan Zionis, mencapai 94% rumah sakit rusak/hancur (hanya 16–19 beroperasi parsial). Serangan juga dimasifkan terhadap fasilitas medis, tenaga kesehatan, ambulans, sekolah-sekolah, masjid, dan bahkan kamp-kamp pengungsi pun diserang. (Buletin Kaffah edisi 405)

Gaza adalah cermin lemahnya umat Islam dunia. Di sana kita melihat refleksi kehinaan dan kemuliaan umat sekaligus—kehinaan karena lemahnya umat ini, kemuliaan karena masih ada mereka yang berdiri tegak mempertahankan hak mereka.


Akar Masalah: Perselisihan Kepentingan Geopolitik dan Palestina sebagai Kartu Tawar Politik

Pertama, faktor geopolitik.

Bila kita mau mencermati krisis Gaza bukan peristiwa kebetulan. Ini lahir dari persilangan kepentingan geopolitik yang rumit di mana negara-negara besar memanfaatkan isu Palestina sebagai kartu tawar politik. Sementara itu, sebagian negeri-negeri Muslim terjebak dalam diplomasi yang setengah hati.

Lihatlah posisi strategis Palestina di peta dunia yang berada di persimpangan tiga benua (Asia, Afrika, Eropa) dan menghadap Laut Mediterania. Letaknya dekat Terusan Suez yang merupakan jalur vital perdagangan dunia dan di jantung Timur Tengah yang kaya akan minyak dan gas. Oleh karena itu, siapa yang mengendalikan Palestina, akan punya akses strategis ke perdagangan, energi, dan jalur militer.

Sedangkan, di sini peran Israel sebagai “proxy” kekuatan Barat. Kita tahu setelah Perang Dunia II, Barat (terutama AS dan Inggris) mendukung berdirinya Israel pada 1948, ini bukanlah sekadar demi Yahudi, tapi untuk memiliki pos militer permanen di kawasan yang sensitif ini. Israel menjadi sekutu strategis AS di Timur Tengah, menerima bantuan militer, intelijen, dan ekonomi besar-besaran. Dalam geopolitik, Israel berfungsi sebagai “mata, telinga, dan tangan” Barat di wilayah yang mayoritas Muslim.

Kedua, faktor internal umat.

Keberadaan umat Islam yang berjumlah milyaran, serta wilayah yang kaya akan sumber daya alam ternyata tak membuat umat ini menjadi kuat, tidak dapat dielakkan umat ini lemah. Lemahnya persatuan politik dan ekonomi umat Islam membuat suara kita terfragmentasi. Bahkan di tengah penderitaan rakyat Palestina, ada pihak yang memilih diam atau bahkan menormalisasi hubungan dengan penjajah.

Ini karena memang sejak awal, kekuatan besar mencegah dan merintangi terbentuknya persatuan politik dunia Islam. Perjanjian-perjanjian seperti Sykes–Picot Agreement (1916) memecah wilayah kekhalifahan Utsmani menjadi negara-negara kecil. Hasilnya? Negeri-negeri Muslim terpecah dan mudah ditekan secara bilateral.

Krisis Gaza yang terus berlanjut adalah bagian dari menjadikan Palestina sebagai “kartu tawar” politik. Isu Palestina sering dimainkan dalam negosiasi politik internasional. Contohnya, normalisasi hubungan (Abraham Accords, 2020) di mana beberapa negara Arab membuka hubungan dengan Israel dengan imbalan dukungan ekonomi atau keamanan dari AS. Perdagangan senjata dengan menjadikan dukungan atau penolakan terhadap Palestina dijadikan syarat dalam kesepakatan militer. Serta dalam resolusi PBB di mana negara-negara besar menggunakan hak veto untuk menahan keputusan yang menguntungkan Palestina, sebagai alat barter untuk isu lain.

Ditambah lagi adanya kepentingan energi dan ekonomi. Cadangan gas di lepas pantai Gaza (Gaza Marine) menjadi target yang diincar. Kontrol atas jalur pipa minyak dan gas dari Timur Tengah ke Eropa bisa dipengaruhi jika wilayah ini stabil atau jatuh ke pihak tertentu. Bagi kekuatan besar seperti AS dan antek-anteknya, menjaga Israel kuat berarti mengamankan kepentingan energi.

Ketiga, faktor narasi.

Media informasi memegang peranan yang tak kalah penting. Di medan informasi, perang narasi berlangsung sengit. Media arus utama dunia kerap membingkai perlawanan Palestina sebagai terorisme, menutupi fakta bahwa yang sebenarnya terjadi adalah genosida yang sistematis.

Bahkan negara-negara Barat kerap menjadikan dukungan terhadap Israel dijadikan senjata politik domestik untuk mendapatkan suara dari kelompok lobi tertentu (misalnya lobi pro-Israel di AS). Sedangkan di negari-negeri Muslim, isu Palestina kadang hanya dipakai untuk menaikkan citra politik saat kampanye, tapi minim aksi nyata.

Nyata! Isu Palestina bukan hanya soal kemanusiaan, tapi arena pertarungan geopolitik di mana kekuatan besar ingin menjaga dominasi di Timur Tengah. Sedangkan pendudukan Israel akan terus digunakan sebagai “benteng” politik dan militer. Negara Muslim dipecah dan sering menjadikan Palestina sekadar bahan negosiasi, bukan prioritas aksi.


Dampak Strategis Krisis Gaza terhadap Umat

Krisis Gaza yang terus berkwlanjutan ini menggoreskan tiga dampak utama terhadap umat, di antaranya:

Pertama, psikologis. Krisis Gaza seharusnya mampu membangkitkan kesadaran umat Islam di seluruh dunia. Kita lihat, generasi muda Muslim yang dulu apatis kini mulai menelusuri sejarah Palestina dan memahami bahwa penderitaan Gaza adalah penderitaan bersama.

Kedua, ekonomi. Munculnya gerakan boikot internasional mulai merugikan perusahaan-perusahaan pendukung penjajahan. Umat belajar bahwa kekuatan dompet dapat menjadi senjata yang efektif, meskipun gerakan ini bukan kunci utama keberhasilan umat.

Ketiga, politik. Tekanan publik terkadang mampu memaksa sebagian pemerintah Muslim untuk bersikap lebih tegas, walau hanya berbuah kecaman semata. Dan bahkan ini dapat membuka mata publik keberadaan para pemimpin negeri Muslim tanpa aksi nyata terhadap Palestina adalah wujud pengkhianatan mereka terhadap umat ini.


Momentum Kebangkitan: Peluang di Balik Luka

Ironisnya, penderitaan Gaza justru menjadi pemantik kebangkitan umat. Kita lihat di jalanan dunia Barat, protes demi protes membanjiri kota besar, menuntut keadilan bagi Palestina. Mereka berjuang atas nama kemanusiaan. Tak ketinggalan di media sosial, gelombang konten pro-Palestina mematahkan dominasi narasi propaganda. Dan di berbagai negara, umat Islam mulai menghidupkan kembali rasa persaudaraan global yang lama terkubur oleh sekat nasionalisme sempit yang mematikan ukhuwah islamiah.


Strategi Nyata Menuju Kebangkitan Umat

Membangun kesadaran dan pendidikan. Kebangkitan dimulai dari pemahaman. Sejarah Palestina dipahamkan kepada umat hingga mereka memahami geopolitik, agar tidak mudah dikelabui diplomasi semu. Dari sini diserukan solusi hakiki bagi Palestina hanya dapat diselesaikan dengan penerapan Islam secara kaffah.

Menguasai perang narasi dengan memasifkan isu dan solusi hakiki Palestina. Membuka mata umat urgensitas kebangkitan umat untuk bersatu dalam satu naungan. Mengumpulkan kekuatan besar di bawah panji Rasulullah Saw.

Gaza adalah “tes litmus” kepedulian dan persatuan umat Islam. Krisis Gaza menguji keimanan kita, di mana kita berpijak. Krisis Gaza memperlihatkan secara jelas apakah umat Islam benar-benar bersatu ataukah tidak. Di sini tidak ada lagi “abu-abu”, sikap kita terhadap Gaza menunjukkan warna sejati kita. Menguji sejauh mana kita benar-benar memaknai kata “ukhuwah islamiah”. Sungguh, kebangkitan umat Islam bukanlah mimpi kosong. Ini adalah keniscayaan!

Kemuliaan umat harus diperjuangkan Kembali. Umat harus dibangun kesadarannya akan janji Allah, dan didorong untuk mewujudlkannya kembali. Upaya itu membutuhkan kepemimpinan sebuah jamaah dakwah ideologis yang tulus mengajak umat untuk berjuang.  
Dengan rahmat Allah, jalan dakwah akan mendapatkan hasil sepanjang menapaki thariqah Rasulullah, sebagaimana yang diemban oleh jamaah dakwah ideologis yang tulus menerapkan Islam kaffah. 

Demikian juga perjuangan pembebasan Palestina akan terwujud ketika Khilafah tegak dan menyerukan jihad sebagai solusi tuntas. Umat harus memanfaatkan momentum ini –krisis Gaza- untuk membangkitkan umat dan mewujudlkan kemuliaan Islam. []


Oleh: Dewi Srimurtiningsih
Aktivis Muslimah Ideologis

0 Komentar