Cerai Bukan Tren: Jangan Jadi Korban Standar TikTok
MutiaraUmat.com -- Timeline medsos sekarang penuh fenomena bikin jidat berkerut. Bagaimana tidak?Perceraian kini dijadikan konten viral. Bayangin, momen yang seharusnya berat, sekarang dirayakan. Marak ibu muda keluar sidang, senyum lebar sambil angkat akta cerai, captionnya, “Akta cerai sedih? NO! Akta cerai happy? YES!” Serasa baru menang lomba maraton. Padahal, nikahnya baru seumur jagung.
Netizen ikut meramaikan, tepuk tangan virtual, komentar, bahkan “Aku juga nikah 6 bulan terus cerai. Welcome to the club, bestie.” Lah, perceraian kok kayak badge eksklusif?
Santai dulu, jangan salah sangka. Islam jelas membolehkan cerai bila rumah tangga sudah toxic, seperti KDRT, penganiayaan, perselingkuhan, penelantaran nafkah, judi online, utang riba, maka perceraian jadi jalan darurat. Itu hikmah syariat, yaitu memutus kezaliman.
Tapi yang ramai sekarang berbeda. Bukan rumah tangga puluhan tahun yang oleng karena konflik berat, tapi yang baru beberapa bulan kandas karena hal sepele, suami dianggap patriarkal karena minta diambilin kopi, pendiam dianggap silent treatment, atau komentar mertua bikin langsung cerai. Hello beb, kalau alasan segitu dijadikan dasar cerai, rumah tangga mana yang selamat tiap minggu?
Standar Medsos vs Realita Pernikahan
Fenomena ini dipicu standar baru dari medsos. TikTok, Instagram, influencer, drama, dan podcast menggambarkan pernikahan seperti dunia fantasi, honeymoon terus, rumah estetik, hidup manis ala drakor. Akibatnya, banyak orang mengira pernikahan harus selalu fun, romantis, tanpa masalah. Sedikit beda, langsung menyerah.
Allah SWT sudah memberi peringatan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 155, “Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.”
Hidup tidak selalu senyum ala filter TikTok. Ada tangis, cekcok, jatuh-bangun. Justru itu paket pernikahan yang asli. Pernikahan bukan mie instan yang langsung jadi sedap, tapi dia perlu adaptasi, penyesuaian, kedewasaan.
Bertengkar? Wajar. Salah paham? Normal. Konflik dengan mertua? Hampir semua orang ngalami. Uang habis sebelum gajian? Itu bab wajib kurikulum rumah tangga.
Rasulullah Saw pun menghadapi konflik yang sama, istri cemburu, protes nafkah, beda pendapat. Bedanya, beliau menyelesaikan dengan hikmah, doa, dan sabar, bukan pisah talak.
Imam al-Ghazali mengatakan,
“Pernikahan itu ladang ujian untuk menumbuhkan akhlak, bukan arena pelarian dari masalah.”
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan, rumah tangga adalah fondasi umat. Perceraian boleh, tapi hanya jalan terakhir bila syariat menuntut, bukan sekadar menghindari masalah kecil atau ego yang belum diuji.
Cerai Bukan Prestasi
Yang miris, perceraian diekspos seolah prestasi. Dalam Islam, cerai adalah halal yang paling dibenci Allah Swt.
“Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak.” (HR. Abu Dawud)
Kalau darurat, boleh. Tapi jangan dijadikan konten “Happy-happy”. Viral perceraian hanya menumbuhkan budaya “Cerai keren,” padahal harusnya introspeksi, bukan selebrasi.
Kapan Bertahan, Kapan Lepas
Kalau rumah tangga isinya kezaliman nyata, lepaskan. Itu syariat.
Tapi kalau masalahnya masih receh, seperti ego, miskomunikasi, kebiasaan kecil, uang belanja, maka jangan buru-buru tekan tombol talak.
Pernikahan bukan lomba cepat-cepatan bahagia. Penikahan itu ibadah terpanjang dimana kedua belah pihak wajib belajar sabar, ikhlas, menahan gengsi, mengutamakan ridha Allah.
Namun, cerai bukan dosa kalau darurat, tapi jangan dijadikan festival. Jangan jadi korban standar TikTok yang ngawur. Pernikahan diukur dari seberapa kuat kita menjemput ridha Allah, bukan seberapa estetik kontennya.
Kalau lagi goyah, pegang sabar, tingkatkan ilmu, minta pertolongan Allah. Karena ujungnya, pernikahan bukan cuma tentang “Aku dan kamu,” tapi perjalanan menuju surga-Nya.
Next time lihat akta cerai dengan caption “Happy,” kita bisa bilang dalam hati,
“Sedih memang. Bahagia sejati bukan di perceraian, tapi di rumah tangga yang dijaga karena Allah.” []
Nabila Zidane
Jurnalis
0 Komentar