Bebaskan Palestina dengan Militer


MutiaraUmat.com -- Perdana menteri Pernyataan Israel Benyamin Netanyahu tentang full occupation adalah bentuk untuk menggiring opini bahwa selama ini Zionis tidak ingin mengambil alih Gaza. Pernyataan ini sedikit banyak mempengaruhi berjalannya opini tentang pembebasan Palestina yang sudah berjalan
 
Pernyataan ini muncul menjelang pertemuan terbatas, kabinet keamanan Israel yang akan membahas strategi militer terbaru di Gaza. Menurut dua sumber pemerintah yang dikutip Reuters, salah satu yang dibahas adalah pengambilan alihan bertahap wilayah Gaza yang masih di luar kendali militer Israel, diawali dengan peringatan evakuasi kepada warga sipil. (CNBC Indonesia, 8 Agustus 2025)

Langkah ini bertentangan dengan mahkamah internasional yang menyerukan agar Israel mengakhiri pendudukan secepat mungkin. Demi terwujudnya two state solution, dan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri. Dalam pernyataan resmi kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, pada Jum'at, 8 Agustus 2025. (Beritasatu.com)

Kecaman juga datang dari Kementerian Luar Negeri Turki, yang menyebut langkah Zionis ini adalah genosida yang menjadi ancaman serius bagi perdamaian serta keamanan global.

Selain itu, Australia turut menyeruarakan kekhawatiran. Menteri Luar Negeri Penny Wong menyatakan pemindahan paksa secara permanen melanggar hukum internasional. Wong menegaskan kembali seruan gencatan senjata, aliran bantuan tanpa hambatan dan pembebasan para sandera yang ditahan sejak 2023. Tak ketinggalan juga Indonesia, China ikut mengecam pernyataan full occupation yang dinyatakan Benyamin Netanyahu ini.

Dengan adanya kendali militer terhadap Gaza, otomatis Gaza berada di bawah bayang-bayang korporat Zionis. Kelaparan akut Gaza makin menunjukkan krisis kemanusiaan yang menimpa dunia.

Blokade berkepanjangan mengakibatkan pelaparan sistematis. WHO mencatat adanya 63 kasus malnutrisi pada juli 2025. Organisasi dokter untuk kemanusiaan israel, Physicians for Human Rights Israel (PHRI) memuat laporan tentang praktik genosida di Gaza sebagai kebrutalan Israel yang disengaja. Dengan laporan tersebut ditemukan 92 persen balita (usia 6 bulan - 2 tahun) mengalami malnutrisi, 85 anak telah meninggal karena kelaparan, 95 persen rumah rusak, dan layanan penting kesehatan.Dan angka ini masih berkelanjutan entah sampai kapan akan berakhir. (Tirto.id, 1 Agustus 2025)

Umat harus sadar bahwa Palestina telah dijajah sejak 75 tahun lalu. Gaza menjadi wilayah perluasan jajahan Zionis. Umat harus memahami dan mengembalikan pemahaman yang benar tentang penjajahan. Yaitu penjajahan harus dilawan sampai penjajah disingkirkan. Militer harus dilawan dengan militer, agar perang ini imbang. Bukan hanya sekadar kecaman. Bukan hanya sekadar deklarasi two state solution. Bukan dengan gencatan senjata.

Semua perundingan tidak akan terwujud sebelum dilakukan. Karena sejatinya two state solution, gencatan senjata dan lain lainnya hanya menambah eksistensi pendudukan terhadap Gaza dan Palestina. Gaza dan Palestina hanya bisa dibebaskan dengan kekuatan militer dan aktivitas jihad fii sabilillah. 

Jihad fii sabilillah hanya bisa dilakukan secara sempurna dengan adanya komandan dari khalifah. Seorang khalifah yang melaksanakan kewajiban jihad dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Umat harus bersatu mewujudkan adanya khilafah sebagai institusi yang mengomando jihad fii sabilillah dalam satu kepemimpinan khalifah. Jadi hanya dengan militer, Gaza bisa dibebaskan. 

Allahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Endang Mustikasari
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar