Sulitnya Berjuang Mencari Pekerjaan dalam Sistem Kapitalis
MutiaraUmat.com -- Lebih dari 1.000 orang mengantre untuk melamar kerja di salah satu minimarket di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Fenomena ini menunjukkan melambatnya perekonomian di daerah yang menjadi salah satu pemicu tingginya angka pengangguran.
Antrean tersebut menyebabkan kepadatan arus lalu lintas dari arah Terminal Jebrod hingga menuju Alun-alun Cianjur. Kondisi ini di luar ekspetasi Khaira Store karena mereka hanya membuka 50 lowongan kerja.
Ribuan pencari kerja rela berdesak-desakan dan berdiri selama berjam-jam pagi itu. Mereka ingin mendapatkan salah satu dari 50 lowongan kerja yang tersedia.(kompas.id, 17/7/2025)
Semakin miris memang, hari ini jutaan anak muda Indonesia berjuang bukan hanya untuk mencari kerja, tetapi untuk mencari harapan. Mereka yang dulu berderet di wisuda mengenakan toga kini berderet di jalan jadi tukang ojek online, kurir paket, atau menyapu jalan. Bukan karena mereka malas. Tapi karena sistem yang bobrok.
Negara gagal menciptakan ekosistem kerja yang layak bagi warganya. Padahal, orang tua mereka sudah habis-habisan. Tanah warisan dijual, sawah digadaikan, demi satu harapan, yaitu anaknya kuliah dan punya masa depan. Tapi kenyataannya, setelah lulus, gelar akademik itu cuma jadi pajangan. Tak sesuai bidang, tak sesuai ekspektasi. Tak jarang para sarjana justru kalah bersaing dengan teknologi AI yang pintar tapi tak perlu makan, gaji, apalagi harapan.
Apa masalah utamanya? Sistem kapitalismelah jawabannya.
Sistem kapitalisme hanya melihat manusia sebagai angka dan mesin produksi. Pendidikan bukan jalan mencetak manusia berkualitas, tapi ladang bisnis. Makanya, kuliah mahal. Lulusan pun diarahkan bukan sesuai bakat atau kebutuhan umat, tapi sesuai permintaan pasar. Hari ini dibutuhkan jurusan A, besok berubah jadi B. Akhirnya anak muda tumbuh tanpa visi, hidup tanpa arah. Pandai, tapi kosong makna.
Ini tidak akan terjadi dalam Daulah Khilafah. Dalam khilafah, pendidikan adalah hak rakyat dan tanggung jawab negara. Gratis dari dasar hingga perguruan tinggi. Tujuannya bukan sekadar kerja, tapi membentuk pribadi beriman, bertakwa, dan ahli dalam bidang yang dibutuhkan umat.
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).
Pendidikan dalam Islam menyeimbangkan aspek ruhiyah (spiritual), aqliyah (intelektual), dan nafsiyah (kepribadian). Negara tidak berbisnis di sektor pendidikan, tapi menjadikannya instrumen membangun peradaban.
Lalu soal pekerjaan? Khilafah akan mengelola sumber daya alam secara adil dan langsung dinikmati rakyat. Tanah, tambang, laut, hutan, semua dikelola negara, bukan dikavling korporasi asing. Maka terbuka lapangan kerja melimpah, dan pengangguran bisa ditekan seminimal mungkin. Bahkan negara akan pro-aktif mencarikan kerja bagi rakyat yang mampu bekerja.
Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya seseorang di antara kalian mengambil tali, lalu membawa kayu bakar di punggungnya dan menjualnya, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain." (HR. Bukhari)
Bahkan yang tidak mampu bekerja pun tetap dijamin kebutuhan pokoknya, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan. Inilah bentuk tanggung jawab negara yang hakiki, bukan lempar tangan ke rakyat.
Jadi jelas, solusi bagi krisis pendidikan, pengangguran, dan kegagalan ekonomi bukan tambal sulam kurikulum, bukan menambahkan startup atau AI, tapi mengganti sistem dari akar-akarnya.
Sudah saatnya kita hentikan ilusi bahwa kapitalisme akan memperbaiki nasib kita. Karena faktanya, ia hanya memperkaya yang sudah kaya, dan menindas yang sudah lemah.
Solusinya? Kembali pada aturan Ilahi. Tegaknya Khilafah Islamiyah adalah solusi ideologis, bukan utopia. Karena hanya dengan sistem yang lahir dari wahyu, manusia dimuliakan bukan hanya sebagai tenaga kerja, tapi sebagai khalifah di muka bumi. []
Nabila Zidane
(Jurnalis)
0 Komentar