Israel Membantai, Dunia Menyaksikan: Di Mana Umat Islam?
Mutiaraumat.com -- Kebrutalan Israel telah membantai lebih dari 58.000 warga sipil Palestina, dengan korban terbanyak dari kalangan perempuan dan anak-anak—sebuah genosida yang disiarkan langsung ke seluruh dunia. Dunia melihat, tapi bungkam. Para pemimpin hanya berhenti pada sikap mengutuk (www.tempo.co/14/07/2025).
Zionis Yahudi tak sekadar melanggar batas kemanusiaan—mereka memperlihatkan wajah asli penjajahan: bengis, biadab, dan haus darah. Ini bukan perang. Ini pembantaian. Dan diamnya umat adalah pengkhianatan.
Israel tidak cukup dengan membantai warga sipil namun menghancurkan Rumah Sakit dengan bom, sekolah-sekolah diratakan, tempat ibadah dihancurkan, kamp pengungsi dibumihanguskan. Bahkan masih tidak puas dengan semua itu, Israel melakukan blokade total yang menyebabkan kelaparan, kolera, dan kehancuran total infrastruktur sipil.
Zionis menjadikan Gaza sebagai ladang pembantaian, mengepungnya dari segala sisi—tak ada ruang aman, tak ada tempat lari.
Akar Masalah yang Harus Disadari
Peristiwa pembantaian yang terjadi di Gaza bukan “konflik” atau “perang antar dua kubu” – tapi penjajahan dan genosida struktural yang telah direncanakan.
Israel adalah proyek kolonial modern yang dilahirkan oleh Inggris, dibesarkan oleh AS, dan dilindungi oleh sistem global sekuler. Diawali semenjak kekalahan Turki Utsmani pada perang dunia pertama pada tahun 1914 masehi dan berlangsung hingga hari ini.
Solusi diplomatik telah gagal selama lebih dari 70 tahun, karena solusi yang ditawarkan hanya sekedar formalitas yang dijalankan oleh para penjaga Israel.
Palestina adalah tanah milik kaum Muslimin, yang berhasil ditaklukkan dari kekuasaan Romawi pada era Khalifah Umar bin Al-Khattab. Meskipun sempat jatuh ke tangan Pasukan Salib, namun Shalahuddin Al Ayyubi berhasil mengambil kembali dan mengembalikan ke pangkuan umat pada tahun 1187M. Sejak saat itu, Palestina kembali dalam kekuasaan kaum Muslim hingga pecah perang dunia pertama.
Kebiadaban Israel: Fakta Genosida Sistematis
Serangan yang dilakukan oleh Zionis Israel bukan hanya dilakukan ke militer atau pejuang, tapi serangan sengaja diarahkan ke penduduk sipil untuk memusnahkan populasi.
Dalam melakukan serangan, Israel menggunakan:
- White phosphorus (senjata kimia)
- Bunker buster (bom penghancur bangunan besar)
Serangan ke Rumah Sakit dan ambulans sebagai bagian dari melakukan strategi teror. Dalam melakukan serangan, zionis Isrel tidak lagi mengindahkan hukum perang internasional, bahkan hukum tersebut dilanggar secara terbuka.
Tapi faktanya dunia bungkam. Bahkan penguasa negeri-negeri Muslim sama sekali tidak ada yang bergerak, meskipun yang paling dekat dengan Gaza, seperti Mesir, Arab Saudi, dan Turki
Doa memang penting. Tapi Gaza tidak sedang butuh simpati kosong. Mereka butuh perisai. Butuh pasukan. Butuh pelindung sejati yang sanggup mengusir penjajah dari bumi para nabi.
Dunia Islam: Dibelenggu Nasionalisme, Mandul secara Politik
Gaza dibantai, namun tidak satupun negeri Muslim mengirimkan pasukan untuk membela Gaza. Parahnya lagi, sebagian dari mereka justru malah menormalisasi hubungan dengan penjajah Israel
Hari ini kekuatan umat lumpuh karena tercerai-berai oleh batas dan belenggu nasionalisme serta sistem sekular yang telah berhasil menghapus jihad dari kamus politik.
Selama umat Islam hanya diajarkan cukup "peduli" tanpa "berjuang", darah di Gaza akan terus tumpah. Gaza tak sedang kekurangan bantuan, tapi dikhianati oleh dunia yang menutup mata dari kejahatan sistemik bernama penjajahan. Memberi bantuan kemanusiaan tanpa mencabut penjajahan adalah ibarat menabur obat di luka yang terus ditusuk."
Racun nasionalisme telah berhasil memutilasi ummat, bahkan kehilangan jatidirinya. Padahal Rasulullah saw telah mengajarkan bahwa kaum Muslim dengan kaum Muslim yang lain diibaratkan seperti satu tubuh, dimana saat ada salah satu anggota tubuh yang terluka, meskipun hanya tertusuk duri, namun seluruh tubuh akan ikut merasakan demamnya.
Solusi untuk menyelesaikan permasalahan Palestina adalah kembali kepada sistem yang dulu telah mampu membebaskan Palestina dari tangan Romawi yaitu Daula Khilafah Islam.
Hanya institusi Islam global seperti Khilafah yang memiliki kemampuan untuk :
- Mengerahkan militer untuk membebaskan Palestina.
- Menghentikan seluruh bentuk kerja sama diplomatik dan ekonomi dengan pihak penjajah beserta negara-negara yang mendukungnya
- Menyatukan kekuatan umat dalam satu komando jihad.
Jika pembantaian lebih dari 58.000 jiwa tak bisa menyentakkan umat dari tidur panjangnya, lalu apa lagi yang bisa? Gaza tak butuh simpati, tapi perisai nyata dari umat yang satu tubuh.[]
Oleh: Erlis Agustiana
(Aktivis Muslimah)
0 Komentar