Hijrah Kaffah, Jalan Menuju Umat Terbaik


MutiaraUmat.com -- Waktu demi waktu terus berjalan, dan kini kita telah memasuki tahun baru Islam 1447 Hijriah. Dalam satu tahun ke belakang berbagai peristiwa telah terjadi. Mulai dari problematika umat yang menimpa negeri ini yang tak kunjung terselesaikan, hingga persoalan-persoalan lainnya yang menimpa saudara sesama Muslim di luar negeri.

Muslim yang cerdas tentu tidak menyambut kehadiran tahun baru Hijriah ini dengan kegiatan seremonial belaka. Melainkan memperbanyak amalan lain yang patut dilakukan seperti muhasabah, sebagai usaha untuk melakukan refleksi dan evaluasi.

Siapa saja yang rasional dalam mengevaluasi keadaan umat saat ini, tentu akan menyaksikan betapa sangat terpuruknya kondisi umat. Jauh dari predikat 'umat terbaik'. Hampir dalam segala hal kaum Muslim tertindas, tertinggal, dan terbelakang dari umat-umat lain.

Di bidang ekonomi, 29 dari 57 negara Muslim termasuk dalam kategori negara berpendapatan rendah atau terkategori miskin, 16 berpendapatan menengah ke bawah, delapan berpendapatan menengah ke atas, dan sisanya hanya empat yang termasuk negara berpendapatan tinggi.

Di bidang pendidikan, umat Islam saat ini tertinggal sangat jauh dari negara-negara Barat. Banyak negara Muslim mengalami tingkat buta huruf yang tinggi, rendahnya akses pendidikan, terutama bagi perempuan dan kelompok miskin. Kurikulum sekuler yang jauh dari nilai-nilai Islam, hanya fokus pada materi duniawi, bukan membentuk pribadi bertakwa, minimnya riset dan inovasi, dan lain-lain. Padahal, dulu ilmuwan Muslim mendominasi dunia.

Di bidang kesehatan, kondisi umat juga tak kalah memprihatinkan. Minimnya fasilitas kesehatan, kurangnya jumlah tenaga medis, bahkan di beberapa daerah mayoritas Muslim mengalami kekurangan rumah sakit. Biaya kesehatan mahal, rakyat miskin sulit mendapatkan pengobatan dan pelayanan yang layak. Banyak negara Muslim masih mengimpor obat-obatan, alat kesehatan, bahkan vaksin, karena tidak mandiri di bidang ini. 

Krisis kesehatan terus menimpa umat Islam diberbagai tempat, termasuk konflik berkepanjangan di beberapa wilayah seperti Gaza, Suriah, dan Yaman. Bahkan di negara-negara kaya Muslim sekali pun, akses kesehatan masih timpang dan bergantung pada swasta.

Semua keterpurukan ini terjadi karena syariat Islam tidak diterapkan secara total. Sistem pendidikan dan kesehatan hari ini memakai standar kapitalis, yang berorientasi untung rugi, bukan pelayanan. Umat dijauhkan dari konsep pendidikan berbasis akidah Islam dan sistem kesehatan yang berbasis amanah dan tanggung jawab negara.

Yang paling memilukan melihat keadaan saudara kita di Palestina saat ini. Darah umat Islam seolah sangat murah untuk ditumpahkan oleh kaum kafir. Jumlah korban meninggal akibat genosida Zionis Yahudi sudah menembus angka 55 ribu jiwa, ratusan ribu anak-anak cacat, dan lebih dari dua juta penduduk terancam kelaparan akibat blokade yang dilakukan oleh kaum zionis. 

Genosida yang sampai saat ini masih berlangsung di Gaza, bukan sekadar tragedi kemanusiaan yang memilukan. Melainkan bukti nyata betapa lemahnya dunia Islam saat ini. Padahal jika dilihat dari segi kuantitas, jumlah umat Islam mencapai lebih dari 1,8 miliar jiwa. Pernahkah kita merenung, bahwa kaum Muslim dulu bukan umat yang tertindas seperti hari ini?

Dulu, saat Islam tegak secara kaffah, umat Islam memimpin peradaban dunia selama berabad-abad. Kekuasaan mereka membentang luas, dari Spanyol (Andalusia) hingga Cina, menguasai 2/3 dunia.

Dalam bidang pendidikan, umat Islam menjadi pelopor ilmu pengetahuan. Lahir ilmuwan besar seperti, Ibnu Sina (Bapak Kedokteran Modern), Al-Khawarizmi (Penemu Aljabar), Al-Biruni (Ahli Astronomi dan Geografi), Ibnu Haytham (Bapak Optik).
Perpustakaan besar berdiri megah, seperti Baitul Hikmah di Baghdad yang menampung jutaan buku dan menjadi pusat riset dunia.

Dalam bidang politik dan pemerintahan:
Negara Islam (khilafah) menjadi pusat keadilan dan keamanan. Hukum Islam ditegakkan, korupsi dan kezaliman ditekan. Pemimpin dihormati bukan karena kekayaan, tapi karena ketakwaannya.

Dalam bidang ekonomi, umat Islam hidup dalam kesejahteraan. Pajak tidak diwajibkan, zakat dikelola negara untuk memberantas kemiskinan. Sampai-sampai di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, nyaris tak ada lagi orang yang mau menerima zakat.

Mercusuar dunia, umat Islam menjadi mercusuar peradaban. Ilmu, teknologi, dan peradaban mereka menerangi dunia Barat yang saat itu masih berada dalam zaman kegelapan (dark ages).

Dulu, kaum Muslim adalah umat terbaik, bukan hanya dalam ibadah, tapi juga dalam memimpin dunia. Semua itu terjadi karena Islam diterapkan secara menyeluruh, sebagai aturan hidup, bukan sekadar ritual ibadah. Saatnya kita bercermin dan bertanya, mengapa dulu kita bisa mulia, tapi kini terpuruk? Jawabannya, karena kita meninggalkan syariat secara kaffah. Kitaengambil Islam setengah-setengah.


Hijrah dan Kekuasaan

Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah adalah peristiwa penting yang mengubah wajah umat Islam kala itu. Umat yang awalnya tertindas dan teraniaya selama 13 tahun di Makkah. Setelah hijrah ke Madinah dan menegakkan tatanan masyarakat yang Islami dalam sebuah institusi negara, mereka berevolusi menjadi umat yang mulia, kuat, dan disegani.

Hijrah bukan sekadar ganti kalender atau ganti penampilan. Hijrah bukan sekadar 'lebih baik secara pribadi'. Hijrah adalah perpindahan total, dari kehidupan yang dikendalikan sistem buatan manusia menuju kehidupan yang sepenuhnya tunduk pada aturan Allah. Hijrah itu wajib menyeluruh. Islam tidak bisa dipilih-pilih seperti prasmanan. Semua syariat-Nya adalah kewajiban, bukan opsi.

Saatnya umat Islam kembali berhijrah secara kaffah, menuju kehidupan yang mulia sebagai 'khairu ummah' di bawah naungan syariat Islam. Apakah kita masih belum menyadari bahwa musibah demi musibah yang menimpa umat terjadi akibat ketiadaan kekuasaan Islam?

Karena itu mari kita ikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Mereka menerapkan syariah Islam dalam institusi kekuasaan Islam. Allah SWT pun senantiasa memberikan kemuliaan dan pertolongan atas sikap mereka. Sebagaimana janji-Nya:

"Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang mereka perbuat itu." (QS. Al-A'raf: 961).

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Marissa Oktavioni, S.Tr.Bns.
Aktivis Muslimah

0 Komentar