Sedotan Minyak dan Pompa Kolam Lele, Mana Lebih Kencang?


Mutiaraumat.com -- Negara kita sekarang sedang resah. Penyebabnya adalah produksi minyak mentah nasional yang makin merosot. Setiap tahun tidak bertambah satu tetespun. Walaupun sudah menambah investasi, eksplorasi, dan sumur sumur baru. Ada apa?

Tahun 2001 produksi minyak mentah nasional 1,4 juta barel sehari. Sekarang hanya 600 ribu barel sehari. Turun lebih dari separuh. Tahun 2004 kontribusi sektor migas pada APBN sebesar 21 persen, sekarang hanya sisa 4,6 persen. Sektor migas makin tidak berarti dalam memberikan pendapatan negara. Apa sebab?


Coba kita pelajari dan kita itung itu secara cermat. Kita belajar dari blok migas yang secara historis sangat hebat yakni blok rokan. Untuk membuktikan apakah minyak memang sudah kering, atau kemampuan sedot nya yang melemah, atau dua duanya.

Blok ini dibeli oleh pertamina senilai 750 juta dolar. Dulunya blok ini dikuasai oleh Chevron. Sejak pindah tangan produksi turun separoh. Walaupun ditambah puluhan bahkan ratusan sumur, tetap saja laporan produksinya merosot dan amat sangat kecil dibandingkan jumlah sumur minyak blok ini.

Padahal saat ini Blok Rokan milik Pertamina ini memiliki 12 ribu sumur tetapi hanya mampu memproduksi minyak hanya 160 barel per hari. Berarti setiap sumur menghasilkan 13,3 barel sehari? Kacau!

Mengapa dikatalan kacau? Hal ini berarti bahwa setiap jam satu sumur hanya mengahsilkan 0,55 barel atau hanya sebesar 87 liter minyak mentah setiap jam. Gawat!

Dengan demikian setiap menit satu sumur hanya mengeluarkan minyak 1,4 liter semenit. Itu sumur macam apa? Lubangnya sebesar apa? Pompa kolam lele saya saja bisa memompa air satu ember semenit. Padahal pompa saya adalah pompa kolam lele yang bisa, yang murah. Kalau beli merek bagus tendangan airnya lebih kencang.

Kalau pompa kolam ikan koi saya memang kecil sekali pipa nya, hanya sebesar sedotan teh manis. Jadi setiap menit mungkin hanya sebesar 1,4 liter yang muncrat. Tapi kan tidak mungkin mesin atau alat penyedot minyak di Blok Rokan berukuran sama dengan pipa penyedot teh manis ? Ada apa gerangan sebabnya? Apakah memang ter-nya sudah siap transisi energi secara progressif revolusioner?

Oleh: Salamuddin Daeng
(Ketua Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia)

0 Komentar