Rupiah Melemah, Islam Solusinya

Mutiaraumat.com -- Nilai tukar Rupiah atas dolar Amerika Serikat menembus 16.000 sejak Selasa 16 April. Nilai tukar rupiah terus mengalami depresiasi hingga menyentuh 16.280 pada Jumat 19 April.  Ini adalah pertama kalinya nilai tukar Rupiah mencapai 16. 000 per Dollar Amerika Serikat dalam 4 tahun terakhir pada April 2020, angkanya sempat menyentuh 16. 741 karena situasi serba tak pasti yang dipicu pandemi covid-19.

Hal ini dikatakan oleh Joshua Pardede kepada ekonomi Bank Permata selama suku bunga investor global akan lebih tertarik menaruh uangnya di pasar Amerika Serikat sehingga memicu arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang seperti Indonesia (BCC News.com, 21/04/24).

Kemudian harga berbagai jenis barang di pasaran berpotensi meningkat seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah, yang saat ini telah menembus level Rp 16.200 per dollar AS. Hal ini seiring dengan adanya potensi kenaikan biaya produksi.

Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, jika pelemahan nilai tukar rupiah terjadi dalam kurun waktu yang panjang, maka harga barang impor akan meningkat. Sementara itu, sebagian industri Tanah Air masih berkegantungan terhadap bahan baku impor (Kompas.com, 19/4/2024)

Perubahan rupiah makin kuat memang dipengaruhi oleh banyak faktor namun sejatinya penyebab paling utama adalah ketergantungan pada dolar sebagai mata uang dunia hal tersebut terjadi karena dunia secara keseluruhan saat ini di bawah imperialisme negara kapitalisme Amerika Serikat. 

Imperialisme Amerika Serikat terhadap dunia Global melalui dollar diawali dari perjanjian returnwoods di tahun 1944, sebelum tahun itu mata uang dunia berbasis emas ketika Perang Dunia Pertama pecah di tahun 1914 banyak negara yang meninggalkan standar emas mereka beralih menggunakan mata uang kertas untuk membayar belanja militer Amerika Serikat pun menjadi debitur dari banyak negara yang ingin membeli obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat. 

Kemudian beberapa negara bertemu di Brighton Woods new hamster untuk mematok nilai tukar mereka kepada dolar Amerika Serikat lantaran Amerika Serikat adalah negara yang memegang cadangan emas terbesar di masa itu perjanjian baittonwoods mengizinkan negara-negara untuk mematok nilai tukar mereka dengan dolar Amerika Serikat ketimbang emas.

Dengan begitu dollar berlaku dalam perdagangan dunia internasional hingga saat ini perjanjian ini sangat menguntungkan Amerika Serikat karena mereka dapat mengatur kondisi ekonomi dunia. Selain itu secara langsung Amerika dapat dengan mudah menguasai negeri seluruh dunia namun kekuatan imperialisme ini sejatinya kekuatan semu karena berdasarkan perjanjian. 

Sementara itu, kelemahan rupiah terhadap dolar berpotensi membuat harga barang-barang impor melonjak termasuk bahan baku industri serta memicu in lasi yang akhirnya melemahkan daya beli masyarakat dengan demikian kelemahan rupiah sebenarnya adalah bentuk kezaliman akibat imperialisme Amerika Serikat. 

Berbeda dengan sistem Islam bahwa Islam menetapkan sistem mata uang berbasis emas dan perak atau yang dikenal dengan sebutan Dinar dan dirham. Syariat tersebut dapat dipahami dari kebijakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika beliau menjadi kepala negara Islam di Madinah pasca hijrah beliau menyetujui penggunaan mata uang Dinar dan dirham sebagai mata uang resmi negara.

Ukuran 1 Dinar setara dengan 4, 25 gram emas dan satu dirham setara dengan 2, 975 gram perak. Dinar dirham memang telah lama digunakan oleh masyarakat saat itu. Rasulullah Saw lalu menyetujui timbangan kaum Quraisy sebagai standar timbangan Dinar dirham sebagaimana hadits:

"timbangan yang berlaku adalah timbangan penduduk Mekah dan takaran yang berlaku adalah takaran Penduduk Madinah." (H.R Abu Dawud) 

Sistem mata uang ini lebih stabil dan adil sehingga secara ekonomi akan aman dan rakyat akan sejahtera, hal tersebut dikarenakan mata uang dinar dirham memiliki basis riil berupa emas dan perak maka nilai nominal yang tertera setara dengan nilai intrinsiknya.

Ketika negara ingin mencetak uang maka mereka harus memiliki sejumlah emas dan perak sebaliknya, ketika negara tidak memiliki emas dan perak maka negara tidak bisa mencetak uang jaminan mata uang dengan emas dan perak membuat perekonomian tidak mudah inflasi.

Selain itu, dinar dan dirham memiliki aspek penerimaan yang tinggi termasuk dalam pertukaran antar mata uang atau dalam perdagangan internasional. Kestabilan mata uang dinar dan dirham telah terbukti sepanjang sejarah bahkan ketika dunia saat ini dikendalikan oleh Dolar. 

Pada tahun 1800 harga emas per 1 Troy ons setara dengan 19, 39 Dollar Amerika Serikat. Pada tahun 2004 satu Troy Once emas senilai 455, 757 dolar Amerika Serikat dengan kata lain selama dua abad berlalu emas mengalami apresiasi yang luar biasa sebesar 2. 250 % terhadap dolar.

Fakta tersebut menunjukkan bukti keunggulan mata uang Dinar dan dirham bahkan banyak pihak yang mengakui keunggulan mata uang ini. Peraih Nobel ekonomi Robert Mendel dalam hal ini tahun 2007 memperkirakan emas akan kembali menjadi bagian sistem keuangan internasional pada abad ke-21 dengan sistem ekonomi negara dan rakyat akan stabil dan membuat rakyat hidup tenang.

Hanya saja, penerapan sistem mata uang dinar dirham tidak bisa dilakukan individu atau kelompok tertentu agar kemaslahatan mata uang dinar dirham bisa dirasakan umat membutuhkan institusi negara yang menerapkan sistem ekonomi Islam beserta syariat Islam lainnya secara Kaffah yakni Daulah Khilafah. Wallahu'alam bishshawwab.[]

Oleh: Febriani Safitri, S.T.P
(Pemerhati Masalah Sosial) 

0 Komentar