Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Mampukah Kurikulum Merdeka Menghasilkan Generasi Berakhlak Mulia?


Mutiaraumat.com -- Peringatan hari pendidikan nasional pada tahun 2024 ini bertema "Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar", ditengah euforia kurikulum yang dicanangkan akan menjadi kurikulum nasional, bukankah harusnya kita lihat kembali sejauh mana perubahan positif yang dihasilkan dengan penerapan Kurikulum Merdeka dalam bidang pendidikan, bukan hanya sekedar kalkulasi angka tapi juga dalam pembentukan karakter dan akhlak yang mulia.

Memang selama 4 tahun kurikulum ini dijalankan dan diterapkan ada peningkatan nilai PISA dalam literasi dan numerasi siswa, namun seperti terlupakan oleh pemerintah, generasi kita saat ini sangat minim akhlak dan empati.

Ada begitu banyak kasus perundungan atau bullying yang terjadi, baik dalam lingkungan sekolah maupun di masyarakat, bahkan kasus kekerasan seksual, pelecehan, pornografi dan pornoaksi banyak terjadi dikalangan pelajar. Jadi apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah?

Dalam laman Detik.com 26/02/2024, ternyata tidak semua pihak setuju Kurikulum Merdeka dijadikan Kurikulum Nasional, seperti Badan Pengkaji Pendidikan (Bajik), Menurut Direktur Eksekutif Bajik, Dhita Puti Sarasvati, Kurikulum Merdeka masih compang-camping, banyak kelemahan yang harus diperbaiki, "sampai saat ini Kurikulum Merdeka belum ada naskah akademiknya, tanpa adanya naskah ini akan sulit mengetahui apa yang menjadi dasar pemikiran dari kurikulum" kata Puti 

Potret Buram Pendidikan Dalam Sistem Sekuler

Bagaimana Kurikulum Merdeka mampu mengatasi permasalah pelik yang saat ini dihadapi pendidikan? Bahkan saking bobroknya akhlak dan pergaulan, banyak pelajar yang hamil diluar nikah, bukankah ini sebuah kemunduran generasi? Sangat disayangkan jika tingginya prestasi dan nilai akademik tak mampu meningkatkan karakter dan akhlak pelajar menjadi mulia. Padahal sudah sebelas kali berganti kerangka kurikulum namun yang berubah hanyalah angka-angka semata.

Keadaan dunia pendidikan saat ini juga tidak baik-baik saja, banyak guru dan murid yang melupakan makna pendidikan, latah mengikuti tren viral, semua hal dijadikan bahan konten yang tentunya tidak bermanfaat, belum lagi beberapa oknum pengajar yang melakukan pelecehan sehingga tercorenglah nama guru di mata masyarakat, belum lagi permasalahan antar siswa yang berujung perkelahian dan bullying, bahkan ada orang tua yang melaporkan guru ke aparat kepolisian hanya karena tidak terima anaknya ditegur.

Sudah jelas bukan? Jika kehidupan dijauhkan dari agama maka akan menghasilkan sesuatu yang rusak, jika saat ini nilai pendidikan meningkatkan, sebaliknya akhlak dan moral justru rusak dan rendah. Sistem pendidikan yang hanya mengejar angka tanpa memperdulikan bagaimana akidah peserta didiknya tentu akan menciptakan sebuah pertandingan tanpa aturan sehingga siswa bebas melakukan apa saja asalkan nilainya tetap tinggi dan terjaga, meskipun harus menjatuhkan atau mengorbankan orang lain, bukankah ini sangat berbahaya?

Dalam bermasyarakat pun akan semakin bablas akibat kebebasan tanpa adanya aturan yang mengatur, wajar jika banyak perempuan yang hamil diluar nikah jika dari sekolah dasar saja mereka sudah melihat dan meniru betapa bebasnya pergaulan dalam lingkungannya. 

Negara pun menerapkan sistem sekuler yang juga memisahkan agama dari kehidupan, sehingga seluruh aspek kehidupan menjadi rusak sebab menuruti hawa nafsu manusia. Tidak adanya sanksi yang serius dan menjerakan juga menjadi penyebab terjadinya kasus berulang seperti bullying ataupun pelecehan.

Solusi Terbaik Hanya Kembali Ke Sistem Islam

Sudah terbukti sejak berabad-abad lamanya, Islam mampu menghasilkan generasi yang mulia dan bertaqwa, dalam Islam pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting, bahkan Islam mempersiapkan perempuan untuk menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak. Sebab kebangkitan berasal dari pemikiran dan kebangkitan hakiki hanya akan diperoleh dari pemikiran yang benar.

Kurikulum pendidikannya adalah akidah Islam, dicontohkan oleh pengajar yang memiliki akhlak dan kepribadian yang baik, sehingga akan ditiru oleh muridnya, sebab sejatinya guru bukan hanya penyampai ilmu namun juga pembimbing. Guru diberikan pelatihan agar bisa meningkatkan kompetensi, sarana dan prasarana yang dapat meningkatkan metode dan strategi belajar.

Agar pengajar melakukan tugasnya dengan baik dan dan profesional, negara menyediakan gaji yang sebanding dengan pengorbanannya, dan tentunya tidak ada berbagai potongan pajak.

Seluruh aspek pendidikan ini membutuhkan peran negara, sebab negara lah yang mengatur segala aspek pendidikan, mulai dari kurikulum, hingga hak mendapatkan pendidikan yang layak dan sama rata untuk setiap warga negara.

Sarana, prasarana, sekolah dan kesejahteraan guru merupakan tanggung jawab negara. Hal seperti ini tidak akan pernah ada dalam negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler sebagai ideologinya.

Khatimah

Kurikulum saat ini belum bisa menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dalam bidang pendidikan, pemerintah seakan kebingungan dalam membuat kebijakan, buktinya berbagai kurikulum telah berganti, namun kondisi generasi saat ini justru semakin mengiris hati. 

Sudah saatnya kita beralih kembali kepada sistem Islam yang telah membuktikan kegemilangan dengan lahirnya ilmuwan-ilmuwan Islam yang bukan hanya cerdas dalam ilmu dunia, namun mereka juga mampu mengimbangi nya dengan iman dan ketaqwaan yang luar biasa.

Hanya Islam solusi berbagai masalah dalam pendidikan saat ini, marilah kita campakkan sistem bobrok yang merusak generasi negeri. Dan kembali kepada sistem yang berasal dari sang pencipta diri. Wallahu a'lam bishshawwab.[]

Oleh: Audina Putri 
(Aktivis Muslimah Pekanbaru)

0 Komentar