Meneropong Potret Generasi dari Lensa Kurikulum Merdeka


MutiaraUmat.com -- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2024, diwarnai dengan pidato emosional Mas Menteri. Menceritakan tentang perjalanan Merdeka Belajar yang digagas dan digawanginya selama lima tahun terakhir ini. Tahun 2024 ini adalah tahun terakhir masa jabatannya sebagai Mendikbudristek. Ia pun berpesan agar melanjutkan Merdeka Belajar.

Pesan bukan sekadar pesan namun sudah diterbitkan dalam sebuah peraturan. Mas Menteri sudah mengesahkan Permendikbudristek No. 12 tahun 2024 tentang Kurikulum pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar dan Jenjang Pendidikan Menengah. Artinya, setiap sekolah wajib mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.


Klaim Keberhasilan 

Penetapan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional tak lepas dari klaim keberhasilan yang diwacanakan oleh Kemendikbudristek. Berbekal data dari Asesmen Nasional tahun 2021-2023 dan Rapor Pendidikan tahun 2023. Disimpulkan bahwa kurikulum Merdeka membawa dampak positif pada 300.000 sekolah yang sudah menerapkannya, terjadi peningkatan literasi, numerasi, karakter, inklusivitas dan kualitas pembelajaran.

Disebut klaim karena para warga sekolah, khususnya guru, tak merasakan peningkatan tersebut. Yang ada, justru sebaliknya, penurunan di berbagai aspek. Terutama pada minat belajar dan moral peserta didik.

Kurikulum Merdeka juga membingungkan semua orang. Banyak istilah-istilah yang tak bisa didefinisikan serta dideskripsikan dengan jelas. Yang efeknya justru berimbas pada pelalaian tugas utamanya. Misal: Guru Penggerak, Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, Guru Fasilitator, Platform Merdeka Mengajar (PMM), dll.

Guru disibukkan dengan tuntutan administrasi lewat PMM (Platform Merdeka Mengajar). Sibuk di depan laptop, tak sempat mengajar. Dengan manis Mas Menteri mengatakan tak wajib mengisi PMM. Namun nyatanya, PMM berkelindan dengan raport sekolah yang berbanding lurus dengan raport pendidikan. Sia-sia guru berusaha cuek dengan PMM jika akhirnya ditekan atasan untuk mengisinya.

Adalagi yang namanya Guru Penggerak. Gurunya sibuk mengisi materi kemana-mana, istilah sekarang adalah sharing praktik baik. Apa yang terjadi dengan kelasnya? Bisa ditebak, siswa ditinggal dengan tugas dan tugas. Searching google menjadi solusi untuk menuntaskan tugas, sisanya menyalin jawaban dari teman. Jadi, dimana meningkatnya?


Potret Generasi Makin Buram

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum kesekian yang diterapkan di negeri ini. Tak ada perubahan berarti dari output pendidikan. Bahkan potret generasi semakin buram. 

Sebanyak 82,4% pengguna narkoba berasal dari kalangan remaja (bnn.go.id, 07/09/2022). Tak kalah dengan narkoba, berdasarkan data dari BKKBN, 80% remaja melakukan hubungan seksual pranikah, dengan rincian 60% remaja usia 16-17 dan 20% usia 14-15 tahun (solopos.com, 04/09/2023). PPATK menemukan 2,7 juta orang Indonesia terlibat judi online, sebanyak 2,1 juta di antaranya adalah ibu rumah tangga dan pelajar (bbc.com, 27/11/2023). 

Data dari Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, kasus anak yang berkonflik dengan hukum menunjukkan trend peningkatan dari tahun 2020-2023. Per 26 Agustus 2023, sebanyak 2.000 anak berkonflik dengan hukum. Jenis tindakan kriminal yang paling banyak dilakukan oleh anak adalah kekerasan fisik dan kekerasan seksual (kompas.com, 29/08/2023). Dan masih banyak lagi catatan kelam remaja hari ini yang notabene dididik dengan kurikulum Merdeka.


Akar Penyebab Buramnya Potret Generasi

Apapun kurikulumnya jika masih dalam sistem kehidupan kapitalisme seperti ini maka potret generasi akan terus memburam. Mengapa seperti itu?

Pertama, asas sekularisme mencetak generasi yang split kepribadian dan dangkal akidahnya. Agama hanya dipakai saat beribadah, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari menggunakan aturan sendiri. 

Kedua, orientasi materi. Sistem kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Sistem pendidikan yang diselenggarakan pun dengan tujuan yang sama. Indikator berhasil adalah terserapnya lulusan dalam dunia kerja yang akan memutar roda ekonomi. 

Ketiga, disfungsi negara. Kapitalisme membuat negara kehilangan fungsinya sebagai pelayan rakyat. Mengakomodir kepentingan para kapital dengan menyiapkan tenaga kerja melalui sistem pendidikan.

Keempat, lemahnya sistem sanksi. Terus meningkatnya angka kriminalitas memberikan bukti bahwa sistem sanksi saat ini tak memberi efek jera. Apalagi jika pelakunya masih berusia di bawah 18 tahun, hukuman akan jauh lebih ringan. 


Islam Jernihkan Potret Generasi

Generasi cemerlang hanya hadir di sistem yang shahih yaitu Islam. Sistem yang aturannya bersumber dari Allah SWT. Implementasi syariat Islam secara kaffah dalam bentuk negara khilafah.

Negara khilafah memiliki sistem pendidikan Islam yang berasaskan akidah Islam. Tujuan sistem pendidikan Islam adalah mencetak individu berkepribadian Islam. Individu tersebut akan menyesuaikan pola pikir dan pola sikapnya dengan aturan Allah SWT. dan menjadikan ridho Allah SWT. sebagai tujuan hidup.

Dengan memiliki kepribadian Islam, setiap individu akan memahami jati dirinya sebagai hamba Allah SWT dengan segala perannya. Ia akan memberikan yang terbaik dengan bekal ilmu dan tsaqofah di sistem pendidikan Islam. 

Di sisi lain, masyarakat Islam memiliki corak yang khas. Tak ada perlombaan memperkaya diri sendiri, yang ada hanyalah fastabiqul khoirot yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan. Budaya amar makruf nahi munkar dalam masyarakat Islam akan mencegah individu melakukan kemaksiatan.

Sistem sanksi Islam yang tegas, memberikan efek jera pada pelaku dan mencegah tumbuh suburnya kemaksiatan. Demikian komprehensif sistem Islam kaffah dalam mencetak generasi hingga menjadi uyunul ummah, permata umat.

Tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban manusia, ada banyak ulama dan ilmuwan output sistem pendidikan Islam. Para imam mazhab yang hingga saat ini menjadi rujukan fikih kaum Muslim. Di bidang matematika, ada Al-Khwarizmi sang penemu angka nol. Di bidang kedokteran ada Al-Zahrawi, ahli bedah dan fisiologis. Wallahu a'lam. []


Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd.
Praktisi Pendidikan

0 Komentar