Menawarkan Kegelapan sebagai Agama Alternatif: Catatan Kritis untuk Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa


MutiaraUmat.com -- Pengantar Tahun 2024

Tuhan, Izinkan Aku Berdosa (Inggris: Harlots Prayer) adalah sebuah film drama Indonesia yang digarap oleh Hanung Bramantyo. Film tersebut diadaptasi dari novel berjudul Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan.

Film tersebut tayang perdana di Jogja Netpac Asia Film Festival (JAFF) di Empire XXI Yogyakarta pada 1 Desember 2023.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/_Tuhan,Izinkan_Aku_Berdosa._

Saya (M. Shiddiq Al Jawi) pernah membedah buku tersebut, langsung dengan penulisnya, Muhidin M. Dahlan, bulan Desember 2003, di Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta.

Saya waktu itu mengkritik keras penulis buku itu, yang saya anggap hanya menawarkan kegelapan sebagai agama. Kritik ini alhamdulillah masih tersimpan di dunia maya, dan saya upload ulang di situs saya www.shiddiqaljawi.com hari Rabu 1 Mei 2024.

Saya hari ini, tetap dalam posisi mengkritik penulisnya dengan keras. Dan sekarang, saya juga mengkritik Hanung Brahmantyo, yang mengadaptasi buku sampah itu menjadi film. Hasilnya, tentu juga sampah, tak mungkin jadi emas atau berlian. Tidak akan menawarkan apa-apa kecuali kegelapan dan kenihilan. Kosong. Hampa. Dan jelas, nyinyir dan benci kepada Islam, umatnya, dan perjuangan suci untuk menegakkan Islam secara kaffah.

Kritikan saya untuk buku Muhidin M. Dahlan, dapat dibaca dan dinikmati berikut di bawah ini.

Semoga kita bisa menarik hikmah dari buku itu, dan film adaptasinya, bahwa ternyata ada manusia-manusia berkualitas kumuh yang sedemikian najis pikirannya dan sedemikian dalam kebenciannya terhadap Islam. (Banda Aceh, 1 Mei 2024).

 
Pendahuluan: Sinopsis Buku

Buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan ini mengisahkan ulang perjalanan hidup seorang muslimah yang menjadi pelacur.

Awalnya, Nidah Kirani, seorang mahasiswi dan aktivis jemaah Islam yang mencita-citakan tegaknya Islam kaffah dalam Daulah Islamiyah Indonesia, mengalami kekecewaan yang dalam.

Hal itu karena spiritualitas kawan sepergerakannya, menurutnya, ternyata biasa-biasa saja, dan di samping itu dia merasa dibodohi karena tidak tahu program dan arah gerak jemaah Islam yang diikutinya.

Pemikiran jemaah dinilainya sebagai dogma-dogma yang tak masuk akal. Maka, Nidah Kirani memberontak dan lari dari jemaah dan mulai mencoba hidup baru secara bebas.

Dia lalu bergaul dengan kehidupan malam, seks, dan narkoba. Lalu menjadi perempuan penganut free-sex yang liar dan akhirnya menjadi pelacur profesional, di bawah seorang germo yang juga dosennya sendiri, sekaligus anggota DPRD dari sebuah fraksi yang sering meneriakkan tegaknya Syariat Islam.

Semua perilakunya ini dilakukannya karena kekecewaannya yang dalam, di samping untuk memberontak kepada Tuhan yang dianggapnya telah menghancurkan dirinya.

Pada akhirnya, dia melakukan perenungan, dan sampailah dia pada suatu kemantapan untuk menjadi seorang pelacur, sebagai upaya untuk memaknai eksistensi dirinya, sekaligus untuk menunjukkan bahwa menjadi pelacur berarti menguasai dan menundukkan laki-laki, bukan dikuasai dan ditundukkan laki-laki seperti halnya dalam sebuah lembaga pernikahan.


Beberapa Catatan Kritis

A. Stigma Negatif Terhadap Gerakan Islam

Buku ini menarik untuk dibaca dan menantang. Terutama bagi para aktivis gerakan Islam. Sebab yang dikisahkan adalah perjalanan seorang aktivis gerakan Islam.

Tapi, yang lebih penting adalah, apa sebenarnya tujuan penulis buku dengan bukunya ini?

Dengan melihat maraknya seruan menerapkan Syariat Islam belakangan ini, maka buku ini dapat dipahami posisinya. Yaitu secara tidak langsung ingin membentuk citra negatif bagi gerakan Islam yang ingin menegakkan Syariat Islam.

Caranya adalah mengekspos perilaku oknum mantan anggota gerakan yang justru kontradiktif dengan Syariat Islam itu sendiri, seperti mengkonsumsi narkoba dan seks bebas. Juga dengan mengekspos perilaku bejat oknum anggota DPRD yang konon dari fraksi yang memperjuangkan Syariat Islam. Semua ini bertujuan agar masyarakat tidak mempercayai lagi perjuangan untuk menegakkan Syariat Islam, karena toh perilaku para aktivisnya sangat munafik, bejat, dan amat jauh dari Syariat Islam.

Seharusnya, kita bisa melihat secara dewasa fenomena tersebut. Ide-ide (sebagian) gerakan Islam yang dirasakan sebagai dogma, memang faktual adanya. Tapi itu tentu tidak bisa digeneralisir. Apakah semua gerakan Islam mendogma para aktivisnya? Apakah semua gerakan Islam memperlakukan aktivisnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya tanpa boleh berpikir dan mendiskusikan ide-ide gerakan?

Begitu pula perilaku menyimpang dari Syariat Islam, juga faktual adanya pada sebagian aktivis. Tapi apakah itu berarti Syariat Islam yang salah? Apakah ide Negara Islam yang salah? Apakah Tuhan yang salah? Mengapa kita tidak menyalahkan sistem sosial sekuler yang menciptakan ruang-ruang bagi perliaku liberal yang bejat? Mengapa kita tidak menolehkan perhatian kita pada struktur masyarakat kapitalis sekarang, yang melahirkan ketidakadilan dan ketimpangan, sehingga lahir orang-orang termarjinalkan seperti anak jalanan dan pelacur? Mengapa semua keburukan ini mesti dialamatkan kepada Tuhan? Mengapa?


B. Menyisipkan Pandangan Kufur

Hubungan pandangan hidup (filsafat) dan sastra sangatlah erat.

Sastra seringkali meruapkan ekspresi dari pandangan hidup atau filsafat yang dianut penulisnya. Wellek dan Waren dalam bukunya Theory of Literature (1956:110) mengatakan, “Frequently literature is thought of as a philosophy, as ideas wrapped in form, and it is analyzed to yield leading ideas.”

Maka, buku karya Muhidin M. Dahlan ini juga dapat dianggap sebagai pengungkapan ideologi atau pandangan-pandangan hidup penulisnya.

Sayangnya, bukan ide Islam yang menjadi substansi atau roh dari karyanya, melainkan ide-ide kafir.

Misalkan saja, pandangan penulis bahwa agama adalah candu masyarakat, yang menipu manusia dari hakikat kehidupan, benar-benar sejalan dengan pandangan Karl Marx. Perhatikan ungkapan Muhidin M. Dahlan di halaman 236-237:

“Kuberitahukan kepada kalian semua. Hai semuanya: masyarakat bumi adalah masyarakat pecandu yang sudah sangat jauh lari dari esensi mereka hidup. Mereka bisa bertahan hidup hanya dengan candu. Kulihat mereka sekarang dalam kondisi mabuk. Hidup mereka menjadi stagnan, mandek. Bagaimana tidak, inti hidup sendiri, yang memandu kehidupan mereka, ialah keyakinan tentang Tuhan yang tak pernah jelas dan sesungguhnya rapuh.”

Bandingkan khotbah Muhidin itu dengan ungkapan Karl Marx (w. 1883):

Religion is the sigh of the oppressed creature, the hearth of a hearthless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people.’

(Agama adalah keluh-kesah dari makhluk tertindas, kalbu dari suatu dunia yang tak berkalbu, dan jiwa dari suatu situasi yang tak berjiwa. Agama adalah candu bagi rakyat). (Lihat Karl Marx, ‘Contributin to The Critique of Hegels Philosophy of Right’, dalam On Religion, hal. 41-42)

Jadi, apakah Muhidin M. Dahlan seorang Marxis? Wallahu a’lam. Yang jelas, dalam karyanya bisa ditemukan serat-serat pemberontakan dan pelecehan terhadap agama, sebuah ciri khas Marxisme.

Ide-ide kafir lainnya yang cukup kental dan bisa dirasakan, adalah kebebasan (liberalisme), dalam arti tidak adanya keterikatan dengan sebuah norma yang baku. Norma agama dianggap sebagai dogma yang HARUS dihancurkan. Ini juga khas filsafat Barat, khususnya filsafat eksistensialisme yang sangat menuhankan kebebasan (Lihat, Eksistensialisme: Keberadaan Manusia, dalam Ide-Ide Besar Sejarah Intelektual Amerika, Suparman dan Malian, 2003, hal. 9).

Maka ketika penulis mempropagandakan kebebasan dengan melukiskan Nidah Kirani yang menikmati eksistensi dirinya sebagai pelacur, yang begitu melecehkan pernikahan, yang mempersetankan agama dan Tuhan, semua itu jelas adalah ekspresi dari kebebasan. Kebebasan yang kufur, liar, dan tidak bertanggung jawab.


C. Bahasa Vulgar

Jika kita hendak mencari karya sastra dengan bahasa yang vulgar, kasar, buku Muhidin M. Dahlan dapat diambil sebagai sampelnya. Bahkan saking vulgarnya, ada dua halaman dalam buku itu yang disensor dengan tinta hitam, sehingga beberapa kata atau sebaris kalimat tidak bisa dibaca (hal. 102-103).

Diksi (pilihan kata) yang disajikan terkadang mengesankan, bahwa penulis adalah orang yang tidak punya tata-krama dan tidak berpendidikan. Dengan permohonan maaf, kami sajikan contohnya di halaman 194 :

‘Hubunganku dengannya tak kurang dan tak lebih semata hanya seksnya saja untuk pelampiasan kekosonganku. Lain tidak. Cinta? Taik.’

Mungkin saja, buku ini bagi orang dewasa hanya sebagai entertainment saja. Tapi bagi orang muda yang sedang mencari jatidiri, yang belum matang, pilihan kata penulis buku akan menjadi semacam ‘ayat suci’ yang akan menentukan sikapnya kelak. Maka, kekasaran jiwa, kevulgaran yang telanjang, sikap tak mengenal kehalusan bahasa dan kesantunan kata, akan berpotensi semakin merusak mental bangsa kita (yang sudah rusak ini) untuk jangka panjang. Muhidin M. Dahlan akan turut bertanggung jawab untuk hal ini.


D. Menawarkan Kegelapan

Hal yang paling mendasar yang ditawarkan penulis, adalah kegelapan. Betapa Nidah Kirani digambarkan mengalami kekosongan jiwa dan pikiran setelah melalui petualangannya yang hancur-hancuran (hal. 243).

Tidak ada tawaran secercah sinar yang bisa membimbing. Buku ini menawarkan kehampaan, kekosongan, ketiadaan. Nihil.

Dalam dunia filsafat, kekosongan dan kegelapan adalah ciri khas dari sastra yang beraliran eksitensialisme. Dan itu, sebenarnya bukan lagi pemberontakan terhadap agama, tetapi malah sebuah agama alternatif yang sengaja dibuat oleh para eksistensialis, untuk menjadi pembimbing kehidupan dalam situasi modern yang chaos.

McElroy (1972:36) seorang penulis eksistensialis, ketika menggambarkan siapa itu kaum eksistensialis, dia mengatakan, “a group of thinkers who are attempting to develop an alternative religious discipline as a guide for living in the chaos of modern world.”

Maka dari itu, tawaran Muhidin M. Dahlan sebenarnya adalah suatu agama alternatif. Dia bikin agama baru. Tuhannya adalah hawa nafsu manusia. Mungkin Muhidin M. Dahlan adalah nabinya, yang sedang giat menggembar-gemborkan ajaran yang kafir kepada umat manusia, agar umat manusia bertaklid buta dan mengekor kepadanya menuju kegelapan yang abadi. Mengerikan. []


Oleh: KH. M. Shiddiq Al-Jawi
Pakar Fikih Kontemporer

= = =

*Tulisan ini dipresentasikan dalam diskusi buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! 18 Desember 2003, di Fakultas Hukum, UGM. Pembicara lain yang hadir : Muhidin M. Dahlan (Penulis Buku) dan Dr. Abdul Munir Mulkan (Dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta).

0 Komentar