Melihat Kondisi Politik Negeri Ini, UIY Beberkan Dua Poin Penting Dijadikan Perhatian

MutiaraUmat.com -- Memperhatikan kondisi perpolitikan yang terjadi di negeri ini (Indonesia) sekarang ini, Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto beberkan dua poin penting yang harus dijadikan titik perhatikan. "Apa yang sudah dan tengah terjadi dengan perpolitikan di negeri ini, saya melihat ada dua poin penting yang bisa kita jadikan titik perhatian kita," ungkapnya di kanal YouTube Media Umat, Dagang Sapi Calon Menteri, Kabinet Bagi-Bagi, Ahad (12/05/2024). 

Pertama, sunah say'iyah. Yaitu, ketika kecurangan itu dilegitimasi oleh keputusan lembaga tinggi negara yang selama ini disebut sebagai state guardian atau constitution guardian. Kemudian diamini oleh sekian banyak partai politik dengan tokoh-tokohnya. Di dalamnya juga ada ulama, akademisi mungkin juga ada aktivis, kaum cerdik pandai dari berbagai kampus, kemudian mereka-mereka yang berkerja secara profesional di dalam lembaga-lembaga survey dan sebagainya. 

Menurut dia sunnah sayyiah di negara ini sudah sangat mengerikan sekali. "Jadi begini, orang bisa melakukan segala cara untuk meraih kekuasaan dan itu dibenarkan. Saya kira ini akan menjadi preseden yang sangat buruk, akhirnya bisa diikuti oleh mereka-mereka di waktu mendatang," ujar dia. 

Dia menyinggung peristiwa pemilu yang 58 persen pemilih dari rakyat itu. Apakah betulkah itu adalah suara tuhan? Betulkah Tuhan merestui kecurangan, merestui kejahatan, merestui segala tindak keculasan yang luar biasa," imbuhnya. 

Kemudian, UIY sapaan akrabnya membeberkan pemilihan presiden yang disahkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), dinyatakan tidak terbukti dengan alasan kecurangan hanya soal angka. Padahal, ada tiga disenting opinion. Hal itu menunjukkan bahwa kecurangan secara substansial itu ada. 

"Pilihan kita itu cuman menolak adanya kecurangan. Artinya menegaskan tiga disenting opinion itu ataukah kita mengakui itu ada. Pilihannya cuman ada dua. Ketika tidak mengakui atau mengabaikan, itu tidak mungkin, karena fakta. Artinya, ketika kecurangan itu hanya dianggap soal angka, padahal faktanya sudah sedemikian rupa ada. Itu kemudian dianggap tidak ada," ujarnya. 

Kedua, orang makin abai terhadap etika. Orang yang punya etika tetap kalah. Kita mengabaikan etika, kita bisa menang. Anda pilih mana? Pegang etika tapi kalah atau menang meskipun mengabaikan etika. Bos hari ini, tuh zaman yang penting menang," cetusnya. 

UIY menilai situasi saat ini sangat berbahaya buat masa depan negara. Moral attitude itu menjadi tidak relevan. Jadi etika moralitas itu nomor ke sekian di dalam politik, ekonomi dan dalam bidang-bidang yang lain. Seperti yang hari ini terjadi. Sesuatu yang sudah lama dilanggar akhirnya tidak ada lagi kepekaan. 

"Bagaimana mungkin Menteri Kesehatannya itu seorang bankir! Bagaimana bisa menteri pendidikannya itu seorang bisnisman. Wakil presiden anak kemarin sore, itu sudah tidak ada kepekaan, rasa risih itu sudah enggak ada. Kalau orang Jawa bilang ngono yo ngono ning ojo ngono itu sudah tidak ada lagi. Yang penting gua bisa elu mau apa. Jadi morality itu menjadi irrelevan," imbuhnya. 

Makin jauh, ia khawatir negara ini akan menjadi negara bar bar. Yang kuat itu yang benar. Bukan yang benar itu benar. Tetapi yang kuat itu yang benar. Yang kuat menguasai lembaga-lembaga negara, yang kuat secara finansial, yang kuat memegang opini, yang kuat memegang media masa, yang kuat memegang ormas, yang kuat memegang aparat itulah yang menang. 

"Nah karena itu, jelas ini situasi yang tidak boleh dibiarkan. Jadi politik dagang sapi itu hanya fenomena luar saja dari seluruh kecenderungan yang saya sampaikan. Hal ini tidak boleh dibiarkan sebab kalau ini dibiarkan ini akan membawa pengaruh yang sangat besar buat negara kita. Dan memang tidak mudah untuk menghentikannya karena kekuatan yang menggerakkan semua ini sudah menjadi kekuatan yang berkelindan dengan berbagai aspek. Aspek ekonomi, aspek bisnis, aspek hukum," pungkasnya.[] Heni

0 Komentar