Makan Siang Gratis Pelajar untuk Manusia Otot Kawat Balung Besi


MutiaraUmat.com -- Ini bukan maunya Prabowo Gibran, ini maunya Bung Karno yang menggambarkan manusia Indonesia sebagai manusia otot kawat tulang besi, cukup kalori, banyak protein yang membuat isi kepala cemerlang, kalsium yang membentuk tulang tulang bagai besi. Manusia Indonesia yang kuat berfikir, kuat kerja, dan kuat ibadah.

Mamang sejak era kolonial sampai saat ini terjadi penurunan kualitas makanan manusia Indonesia. Kita tidak perlu bersedih hati akan sejarah itu. Jaman kakek nenek saya mereka terpaksa membungkuk untuk memasuki pintu rumah karena badannya tinggi. Walaupun begitu generasi saya masih sempat mengkonsumsi susu satu ember sehari. Sekarang tidak banyak kerbau lagi yang bisa diperah susunya. Kerbau dan sapi dijual buat biaya sekolah anak.

Dalam soal makan Indonesia ini sebenarnya sudah darurat, konsumsi daging perkapita masyarakat indonesia hanya 2,6 kg setahun, jadi orang manusia Indonesia rata rata hanya memakan daging kurang dari 1 sendok teh sehari. Masalahnya tidak ada uang buat beli daging, lalu menjadi terbiasa tidak memakan daging. Lama lama tidak doyan daging lagi.

Hanya dua daerah di Indonesia yang mengkonsumsi daging mendekati ukuran dunia yakni DKI Jakarta dan NTB, mereka mengkosmusi antara 5-7 kg setahun. Yang lain rata rata di 2,6 kg setahun. Mungkin ini makan dagingnya cuma saat lebaran saja.

Berapa kebutuhan kita akan konsumsi daging? Manusia membutuhkan setidaknya 2100 kilokalori dan 65 gram protein per hari, dan itu bisa kita dapat dari 200 gram daging sehari. Bukan satu sendok teh seperti selama berpuluh puluh tahun di Indonesia.

Elite Politik Harus Mengerti

Hambatan satu satu satunya dari program makan siang gratis akan datang dari kalangan elite. Mengapa? Program ini akan sedikit menyita pendapatan mereka dari proyek proyek belanja negara yang selama dinikmati. Mengingat makan siang gratis akan langsung diberikan kepada pelajar sehingga sangat sulit untuk nyangkut di kantong kantong elite.

Mungkin ada juga segelitir elite politik yang hanya sekedar ingin mempermalukan Prabowo Gibran dengan mengatakan bahwa program makan siang gratis bagi pelajar tidak layak, tidak properly, boros APBN dan berbagai argumentasi lainnya. Intinya mereka ingin program ini tidak dapat dijalankan. Jangan lah demikian. Ini demi bangsa kita.

Banyak cara bagi elite politik untuk menjegal pelaksaan program ini terutama karena mereka tidak diajak masuk dalam koalisi pemerintahan. Bisa dengan menjegal dalam pembahasan UU APBN 2025, membangun narasi dan kampanye negatif tentang program ini, bahkan ada yang menyebar berita isue bahwa orang kementerian keuangan tidak setuju dengan program ini. Jika benar.. lah apa haknya orang orang birokrasi keuangan itu bicara demikian?

Birokrasi negara sekarang ini dalam masa transisi lima bulan lagi Prabowo Gibran dilantik mereka harus sudah menyipakan strategic planning untuk menjalankan semua program presiden terpilih. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) harus segera membagikan buku panduan pelaksanaan program presiden terpilih sebelum mereka MPR melantik presiden dan wakil presiden nanti di bulan Oktober 2024. Supaya nanti tidak ujug ujug.

Nah, ada satu lagi buat anggota MPR kalau bisa segera menysahkan program makan siang gratis untuk pelajar ini melalui ketatapan MPR. Hanya dengan TAP MPR maka program ini dapat dijalankan secara pasti dan berkelanjutan. Ini akan membuat MPR mendapat dukungan penuh dari rakyat. Disinilah MPR membuktikan dirinya kembali sebagai daulat rakyat, sebagai pelaksana amanat penderitaan rakyat.[]

Oleh. Salamuddin Daeng
Ketua Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia

0 Komentar