Inilah Agama yang Memiliki Kemampuan Paling Tinggi dalam Menyatukan Umat Manusia

MutiaraUmat.com -- Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto menjawab bagaimana bisa Islam menyatukan umat, tetapi sekaligus juga agama yang sangat mungkin terjadi perbedaan-perbedaan?

“Inilah agama Islam yang memiliki kemampuan paling tinggi dalam menyatukan umat manusia,” tegasnya di YouTube UIY Official: Tentang Qunut Saja Berbeda, Bagaimana Bersatu di Bawah Khilafah? Kamis, 2 Mei 2024.
 
Namun juga, sekaligus agama sangat mungkin terjadi perbedaan-perbedaan, karena itulah maka perbedaan itu harus dipilah dan dipilih. “Ada perbedaan yang bisa diterima, ada perbedaan yang tidak bisa diterima. Seolah persoalan-persoalan ushuliyah dan furu’iyah,” tegasnya.

Kemudian Ismail menjelaskan, persoalan  furu'iyah ini bisa terjadi seperti adanya fiqih, dibacanya qunut dan tidak qunut, kemudian soal bagaimana tata cara wudu dsb. "Nah, kalau kita datang ke tanah suci itu kita akan melihat semacam pertunjukan bagaimana keberagaman itu terjadi. Ini masih bisa ditolelir,” katanya.

Yang tidak adalah, sampai kepada misalnya ushuliyah. Misalnya menyangkut Al-Qur'an, Al-Qur'an ini ini adalah kalam Allah tidak boleh ada yang mengatakan bahwa ini bukan kalamullah. Menurutnya, shalat itu wajib tidak boleh ada yang mengatakan bahwa itu tidak wajib dan tidak boleh ada yang mengatakan shalat itu urusan pribadi, padahal shalat menyangkut akidah dan bagian dari syariah. 

“Nah, karena itu maka persatuan yang dicita-citakan itu harus dipahami bentuknya itu seperti apa,” lontarnya. Kemudian ia menyebut bentuknya, "Saya kira, kita bisa merever kepada sejarah. Bukankah lahirnya mazhab itu justru ketika umat Islam itu hidup dalam persatuan,” bidiknya. 

Ada yang dikenal dari Mazhab Hanafi, Hambali, Maliki, Syafi'i. Ia menunjuk, itu kan bukan lahir dari keterpecahan seperti ini? Dan itu dimungkinkan terjadi. Artinya perbedaan mazhab itu sejak masa Khilafah itu sudah ada. Dan itu biasa, tetapi umat Islam tetap bersatu. Tetap memiliki negara Khilafah. 

Kemudian suku, bahasa itu juga banyak. Dari Khilafah Umayyah, kemudian Abbasiyah itu masih ada di sekitar Arablah. Khilafah utsmaniyah itu sudah di Turk, itu sudah berbeda sama sekali. Dari bahasanya sudah berbeda, tapi kan tetap bisa bersatu. 

Menanggapi pertanyaan, bagaimana jika ketidakmungkinan didapat, sedangkan secara  de facto umat Islam sekarang ini sudah hidup di bawah nation state. Di berbagai bangsa yang beragam. Ustaz Ismail menyatakan, “Ya itu fakta yang ada, tetapi kita mesti juga menyadari bahwa fakta ini sebenarnya bukanlah fakta lama. Artinya bukan fakta yang muncul dari awal fakta baru atau relatif baru yang muncul selepas runtuhnya Khilafah Utsmani 1924. Coba saja dicermati negara-negara itu kan muncul di tahun 30, 40, 50, bahkan ada yang tahun 60 seperti Aljazair. Karena baru merdeka tahun 63. Ini fenomena baru sebenarnya bukan fenomena lama,” jelasnya 

Lalu, mana bisa persatuan umat yang itu merupakan kewajiban dan itu telah pernah terwujud dalam bentangan waktu yang sangat lama, kalau para sejarawan menyebutnya 700 tahun golden age itu, kemudian harus ditolak oleh fenomena baru yang baru muncul pada abad ke-20? “Itu pun bukan muncul dari kaum muslimin itu sendiri,” sanggahnya.

Kemudian ia mengambil contoh seperti, kalau di Timur Tengah itu ada perjanjian Sykes-picot, di mana wilayah kaum muslimin di garis-garis kemudian dipecah. 

“Jadi itu fenomena yang sebenarnya merupakan perpaduan antara faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternalnya memang mereka tahu bahwa inilah cara yang paling bagus untuk mencegah munculnya kembali persatuan Khilafah tadi yaitu dibelah-belah wilayah Khilafah itu. Di antaranya melalui perjanjian Sykes Picot itu. Kemudian ada sebagian dari umat Islam yang mau diajak untuk melakukan strategi pecah belah itu,” tegasnya

“Dan jelas seperti sekarang ini karena itu kalau jika kita ini hari  menggunakan dalil itu maka tidak memungkinkan adanya persatuan. Maka, sadar atau tidak kita sudah ikut di dalam skenario penjajah yang memang mereka bangun,” tandasnya. [] Titin Hanggasari

0 Komentar