Habib Keluarga Nabi Belum Perlu Tes DNA, Pakar Jelaskan Begini


MutiaraUmat.com -- Terkait polemik nasab dan relevansi perlunya tes DNA bagi para habib atau keturunan Nabi SAW, Pakar Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph.D. menyatakan belum perlu.

“Kalau saya, kata Pak Ahmad (menunjuk dirinya sendiri) apakah perlu tes DNA? Jawaban saya, belum perlu,” tegasnya dalam video Polemik Tes DNA Habib, Jumat (3/5/2024) di kanal YouTube Justice Monitor.

DNA (deoxyribo nucleic acid) merupakan molekul yang memuat seluruh instruksi genetik yang dibutuhkan oleh semua organisme dalam seluruh siklus hidupnya. 

Informasi genetik yang terdapat dalam DNA diturunkan oleh orang tua atau induk ke generasi berikutnya melalui reproduksi.
Menurutnya, penting melihat terlebih dahulu mengenai fakta dan keterbatasan dari tes DNA dimaksud.

Secara fakta, meski saat ini terdapat nextgen sequencing (NGS) yang secara mandiri mudah memvalidasi, tetapi ketika melakukan tes ini tetap memerlukan metadata untuk interpretasi.

NGS sendiri adalah teknologi untuk menentukan urutan DNA atau RNA dalam hal mempelajari variasi genetik yang terkait dengan penyakit atau fenomena biologis lainnya yang secara mandiri mudah memvalidasi.

Bahkan Kementerian Kesehatan RI, kata Ahmad Rusdan memisalkan, sudah mulai melakukan itu sejak tahun lalu memetakan profil warga Indonesia. “Targetnya sepuluh ribu genom,” cetusnya.

Dengan kata lain, betapa penting menggunakan metadata secara tepat pula. “Yang menjadi pertanyaan bukan dari si keakuratan bacaannya tetapi bagaimana nanti interpretasinya dan bagaimana kita menggunakan informasi secara tepat, makanya perlu metadata ini,” ulasnya.

Adapun keterbatasan dari tes DNA ini, menurut Ahmad Rusdan, tidak bisa kemudian serta-merta memperoleh DNA yang sangat bagus sebagai sampel pembanding. Apalagi dari orang sudah meninggal sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu.

“Kita juga enggak bisa mengakses DNA yang sangat bagus dari jenazah apalagi yang sudah meninggal, ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu,” sebutnya.

Belum lagi potensi terjadinya fragmentasi sampel. “Kalau nanti DNA-nya tidak berkualitas, sudah fragmented misalnya, itu nanti kita kembali ke masalah yang sama lagi, kita enggak bisa membuatkan kesimpulan juga,” ungkapnya.

Di samping itu, pembongkaran sebuah makam untuk kemudian diambil sampel, misalnya, bisa dipastikan bakal menjadi isu yang lebih heboh di tengah masyarakat. “Itu pasti akan menjadi isu yang heboh lagi itu nanti,” tuturnya, pula berharap masyarakat tidak lagi terlalu simplistik terhadap perkara ini.

“Untuk estimasi iya (bisa), tapi kalau harus menetapkan sampai ke sosok tertentu (Hasan atau Husein), nah itu menjadi sangat sensitif,” sambungnya.

Untuk itu ia menekankan bahwa ilmu yang mempelajari DNA memang adalah sebuah ilmu. Tetapi untuk mengetahui garis keturunan/nasab, pun ada ilmu maupun metodologinya.

“Memang ilmu DNA itu adalah ilmu. (Sedangkan) ilmu nasab saya yakin juga ada ilmunya, ada metodologi juga,” tandasnya.

Artinya seiring berkembangnya ilmu dan teknologi, adalah suatu keharusan menghormati ilmu-ilmu yang lain. Syukur-syukur bisa menarjih di antara keduanya untuk kemudian mengompromikan dan menjelaskan.

“Jadi kita juga harus hati-hati dalam menetapkan atau menafikan,” pungkasnya. [] Zainul Krian

0 Komentar