Cegah Kekerasan Anak di Bekasi, Efektifkah dengan Aplikasi?


MutiaraUmat.com -- Belum lama ini pemerintah Kota Bekasi mengeluarkan sebuah aplikasi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak. Aplikasi ini dibuat untuk sistem pelaporan siswa kepada guru, apabila siswa tersebut mendapatkan tindakan kekerasan, baik itu di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Aplikasi ini dinamakan SI GETAK (Sistem Cegah dan Tangani Kekerasan).

Seperti yang dikutip dari wartakota.com (3/5/2024), PJ Bupati Dani Ramdan menyampaikan bahwa sebenarnya aplikasi ini adalah sistem pelaporan, sehingga siswa, guru bahkan masyarakat dapat melaporkan tindakan kekerasan yang terjadi di sekolah maupun di luar sekolah.

Hal ini patut diapresiasi, namun melihat tindak kekerasan pada anak yang akhir-akhir ini meningkat tajam, apakah efektif jika hanya dengan meluncurkan sebuah aplikasi seperti Si GETAK ini?

Berbagai upaya pemerintah kota Bekasi untuk menuntaskan masalah ini terus bergulir. Seperti membuat kampanye “Menuju Zero Kekerasan Pada Anak”, pemerintah terus menggenjot kampanye-kampanye mencegah kekerasan pada anak. Mengadakan workshop Penguatan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan pada Satuan Pendidikan, di Mustikajaya, Senin 4 Maret 2024 yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kota Bekasi. (Megapolitan.id, 4/3/2024)

Kepala Dinas Kota Bekasi, Uu Saeful Mikdar mengatakan bahwa unsur pendidik dan tenaga pendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan aman di sekolah. Targetnya, untuk memerangi kekerasan terhadap anak didik. Ungkapnya pada Sabtu 27/4/2024. 
Hal ini guna mencapai tujuan zero kekerasan pada anak. Dengan memaksimalkan tupoksi pendidik dan tenaga kependidikan insyaallah akan lebih cepat tercapai, imbuhnya.

Namun apakah benar, dengan melakukan upaya-upaya tersebut, kekerasan pada anak di Kota Bekasi akan teratasi hingga ke akarnya? Perlu kita ketahui, tindak kekerasan banyak terjadi, bukan hanya karena takutnya korban untuk melapor. Tetapi, pasti banyak faktor yang melandasi mengapa hal itu bisa terjadi. Faktor tontonan, pergaulan, lingkungan, bahkan sistem yang memisahkan agama dengan pendidikan pun jelas menjadi penyebab utama semakin masifnya kekerasan terjadi.


Sistem Sekulerlah di Balik Rusaknya Generasi

Pada sistem pendidikan saat ini, yang menganut sekuler kapitalisme. Tentunya membuat anak didik dipisahkan dari agama. Pendidikan hanya sebagai formalitas yang akhirnya menghasilkan generasi yang hanya memikirkan keuntungan duniawi.

Dilihat dari fakta di atas, jika pemerintah hanya berupaya dengan mengajak guru atau tenaga pendidik sebagai pengawas bagi anak didik, tentunya itu tidak cukup. Tidak bisa hanya mengandalkan pendidik atau tenaga pendidik bahkan masyarakat untuk mengawasi tindakan kekerasan pada anak di Kota Bekasi. Tetapi, sangat dibutuhkan juga sistem untuk bisa mendidik generasi. Agar para pelajar, generasi negeri ini mampu memahami bagaimana mengenal jati diri. Juga mampu memahami peran sebagai seorang hamba apa yang seharusnya dipelajari dan ditekuni. Sebaliknya pada sistem saat ini, generasi masa kini hanya karena gengsi atau ingin unjuk gigi, tak segan melakukan hal yang merugikan orang lain dan diri mereka sendiri. 


Sistem Pendidikan Islam Satu-satunya Solusi

Karena sistem sekulerlah yang merusak setiap lini kehidupan, termasuk pada generasi. Sistem ini tidak mengenalkan mereka akan konsep pribadi berakhlakul karimah pada anak, maupun remaja. Sehingga banyak anak tega melakukan kekerasan pada teman seusia mereka. Saatnya pemerintah Kota Bekasi jeli untuk bisa menangani hal ini. Di negara yang mayoritas Muslim ini tentu sangat perlu mengikutsertakan agama (Islam). Mengganti sistem pendidikan sekuler dengan sistem pendidikan Islam. Sistem yang akan melahirkan generasi beradab, berakhlakul karimah, serta menjalankan syariat-Nya yang diperlukan oleh bangsa ini.

Dalam Islam, pendidikan dimaknai juga sebagai proses menghamba pada Allah SWT. Sebagai Muslim harus mengetahui tujuan hidup di dunia ini. Dan untuk mengetahui itu semua, dalam Islam terdapat sosok sebagai panutan, yaitu Rasulullah SAW. Akhlak Rasulullah sangat mulia, seperti firman Allah SWT berikut :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sungguh engkau memiliki akhlak yang sangat agung.” (QS Al-Qalam [68]: 4).

Allah SWT pun berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh pada diri Rasulullah SAW itu terdapat suri teladan yang baik.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Adanya sosok yang menjadi panutan (role mode) dalam pendidikan Islam inilah yang menjadi pembeda dengan sistem pendidikan lainnya. Pendidikan Islam bertujuan menanamkan akidah yang kuat bagi individu sehingga menghasilkan “buah” yang baik. Baik dari segi prilaku maupun kemampuan menguasai ilmu-ilmu pengetahuan seperti matematika, sains , teknologi, bahasa, dll.

Hasil belajar pendidikan Islam, melahirkan pribadi yang kuat imannya, mendalam pemikirannya, serta berdampak akan menjalankan syariat Islam. Sehingga, akan terbentuk masyarakat yang bertakwa, berakhlakul karimah serta saling mengingatkan (amar makruf nahi mungkar).

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Ayu Lusfita A.
Aktivis Muslimah

0 Komentar