Anak Pelaku Kriminal Makin Marak, Saatnya Negara Bergerak

Mutairaumat.com -- Maraknya kasus kriminal yang dilakukan oleh anak akhir-akhirnya menambah suram kualitas pendidikan di Indonesia. Berbagai pendapat dilontarkan oleh para ahli pendidikan dari mulai mengusulkan agar meningkatkan pengawasan orang tua hingga meminta pemerintah untuk memberikan cuti untuk ayah agar lebih fokus lagi dalam mendampingi anak-anaknya?

Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah cukup dengan hanya menyerahkan pada orang tua dan memberikan cuti bagi para ayah kasus kriminal pada anak akan terurai? Sementara faktor eksternal seperti tontonan yang banyak beredar di media sosial tidak ada pengawasan dan pembatasan dari negara berikut sanksi yang tegas bagi para pelaku kriminal.

Belum lagi akan terjadi konsekuensi turunannya yaitu ketika menuntut orang tua untuk mengawasi dan fokus mendidik anak-anaknya apakah secara ekonomi juga sudah dipenuhi oleh negara?

Karena logikanya bagaimana para orangtua akan konsen mendidik anak-anaknya jika secara ekonomi mereka kekurangan. Sungguh mengharapkan tercapainya generasi yang berkualitas  bagai panggang jauh dari api. 

Oleh karena itu, berbicara kualitas pendidikan anak tidak cukup hanya memfokuskan pada satu faktor saja misalkan pada pengawasan orangtua tapi juga semua komponen harus ikut terlibat di dalamnya.

Artinya, ada 3 komponen yang harus terlibat dalam menghasilkan generasi yang berkualitas,

Pertama, adanya peran orangtua sebagai garda terdepan dalam mendidik anak-anaknya.

Kedua, peran masyarakat yang saling mengawasi dalam mencapai generasi yang kualitas tersebut.

Ketiga, peran negara yang memiliki peran strategis yang akan menyiapkan  individu dan masyarakat yang akan melahirkan generasi penerus yang berkualitas. Untuk mendukung itu negara harus memfasilitasi pendidikan yang berkualitas, penerapan sistem kehidupan yang menghantarkan pada pembentukan kepribadian generasi yang berakhlak dan bertakwa.

Oleh karena itu, tidak boleh hanya memfokuskan pada satu komponen saja tapi harus saling bersinergi antara komponen yang satu dengan komponen yang lain.

Kurang tepat jika hanya memfokuskan hanya pada peran orangtua saja sementara negara tetap menerapkan sistem kehidupan yang bebas tanpa ada aturan yang tegas sehingga rakyatnya dibiarkan berperilaku sesuai kehendaknya karena tidak adanya edukasi dan sanksi yang menertibkan dari negara.

Negara wajib membuat sebuah sistem pendidikan yang menghasilkan generasi yang berkepribadian dan berkarakter dan bersandar pada ideologi yang benar.

Islam Memiliki Sistem yang Mampu Melahirkan Generasi Berkualitas

Islam memiliki sistem kehidupan komprehensif yang melibatkan semua komponen untuk terlibat dalam proses pembentukan generasi yang berkualitas.

Terutama negara yang akan memberlakukan sebuah sistem kehidupan yang tidak hanya berorientasi dunia tapi juga akhirat. Negara dalam Islam akan membuat sebuah sistem yang membuat individu dan masyarakat bertakwa kepada Allah SWT sehingga akan dibentuk pilar-pilar untuk mencapai hal tersebut di antaranya,

Pertama, pendidikan. Pendidikan dalam Islam berlandaskan pada aqidah Islam dan bertujuan membentuk syakhsiyah Islam pada para peserta didiknya. Pendidikan dalam Islam tidak hanya sekadar transfer ilmu tapi harus terjadi talqiyan fikriyan yaitu ada proses mengikat ilmu sehingga dipahami oleh peserta didik hingga berbuah perilaku yang beradab dan jauh dari perilaku kriminal.

Salah satu tokoh dunia hasil dari peradaban Islam adalah Ibnu Sina yang terbukti pada usia 10 tahun ia sudah hafal Al-Quran, kemudian di usia 18 tahun sudah mampu menguasai semua ilmu yang ada pada waktu itu.

Kedua, ekonomi. Ekonomi dalam Islam berprinsip pada kesejahteraan sehingga wajib mencukupi kebutuhan pokok rakyatnya individu perindividu, sehingga akan menutup peluang bagi rakyat termasuk anak untuk melakukan tindak kriminal. Karena kebanyakan yang melakukan tindak kriminal itu terpacu dari masalah ekonomi.

Penjaminan ini tidak hanya terbatas pada rakyat yang  memiliki kemampuan untuk menghasilkan materi saja tapi pada semua individu rakyatnya hatta terlahir dalam keadaan yang tak sempurna maka negara yang akan menanggungnya.

Dengan demikian berbicara terkait maraknya anak yang melakukan tindak kriminal tidak cukup hanya memandang satu sisi saja misal kurangnya peran orang tua atau sistem pendidikannya saja tapi harus menyeluruh karena keadaan tersebut dipengaruhi oleh sistem kehidupan apa yang dijadikan ajuan oleh negara.

Jika landasan bernegaranya saja mengacu pada sistem demokrasi yang melahirkan sekularisme maka menjadi keniscayaan segala bentuk kejahatan terjadi karena sistem ini mengharuskan penganutnya memisahkan agama dari kehidupan termasuk bernegara.

Sehingga bisa dibayangkan jika negara tidak lagi menjadikan agama sebagai landasan bernegara maka segala sesuatu didasarkan atas hawa nafsu manusia, siapa yang berkuasa dia-lah yang akan memegang wewenang dan akan mengatur rakyatnya sesuai hawa nafsunya.

Undang-undang yang sudah ditetapkan pun bisa diubah sesuka hati penguasa tanpa memperdulikan keadaan rakyatnya, seperti apa yang disaksikan saat ini.

Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia sebagai negara dengan mayoritas berpenduduk muslim untuk menerapkan sistem Islam sebagai pedoman hidup, karena sudah terbukti selama 13 abad mampu menghadirkan generasi yang berkualitas dan cemerlang.[]

Oleh: Emmy Emmalya 
(Analis Mutiara Umat Institute)


0 Komentar