Mahasiswa di AS Ramai Dukung Palestina, Hasbi Aswar: Ada Peningkatan Daya Kritis Pemuda

MutiaraUmat.com -- Merespons aksi pemuda di Amerika Serikat dari berbagai kampus ternama, Pakar Hubungan Internasional Hasbi Aswar, Ph.D., mengatakan ada peningkatan daya kritis pemuda yang didorong oleh banyaknya media alternatif.

"Ada peningkatan daya kritis pemuda dalam konteks ini yang itu didorong oleh banyaknya media alternatif (sosial media)," tuturnya dalam video Kampus-Kampus di AS Demo Mendukung Palestina, Fenomena Apakah? - Catatan Peradaban, di kanal YouTube Peradaban Islam Id, Kamis (2/5/2024).

Ia menjelaskan banyak generasi saat ini yang mulai kritis terhadap isu Palestina dikarenakan beberapa faktor. "Menurut saya salah satu yang membuat anak-anak muda di AS lebih kritis karena perkembangan sosial media yang luar biasa. Kalau dulu AS mindset-nya sangat dipengaruhi oleh media-media masa utama mainstream seperti CNN, Fox News, New York Time media-media yang dimiliki olehnya, nah sekarang tidak begitu kondisinya, sekarang ada banyak media alternatif khususnya media sosial," terangnya.

"Menurut lembaga penelitian, mereka (generasi hari ini) lebih independent secara politik, mereka tidak terjebak dalam politik partisan antara republik dan demokrat," ungkapnya.

Selain itu, ia menambahkan, ada fakta menarik, jika berbicara boikot, ternyata ada akademik boikot. 

"Ternyata selama invasi ke Gaza itu terjadi yang disebut sebagai akademik boikot yang dilakukan oleh kampus-kampus di berbagai negara terhadap akademisi Israel, jadi kabarnya banyak akademisi Israel yang akan melakukan kunjungan akademik, akan melakukan riset dengan lembaga-lembaga tertentu di Eropa, ternyata dibatalkan, ini bagian dari boikot akademik atau aksi-aksi kritik yang dilakukan oleh para akademisi terhadap Israel, terhadap apa yang mereka lakukan di Gaza," paparnya.

Kemudian ia mengatakan, apa yang terjadi pada mahasiswa AS memberikan harapan yang positif terhadap sikap dunia, bukan hanya publik dunia tetapi publik AS terkhusus terkait isu Palestina. 

"Walaupun selama ini di Eropa termasuk AS merupakan propaganda utama di media adalah bahwa Hamas yang menjadi penyebab utama kemudian Israel punya hak untuk berdiri, tetapi ternyata anak-anak muda itu bisa mengambil sikap yang jelas bahwa mana yang patut didukung, hal positif yang bisa dilihat," paparnya.

Ia menegaskan, kira-kira dua tahun terakhir sejak serangan Israel ke Gaza 2021 sampai sekarang kecenderungannya perlawanan-perlawanan publik atau daya kritis publik lebih meningkat. 

"Serangan 2021 saat Raamadan dan pada era saat ini, ini lebih besar lagi, kenapa? Karena ada postingan-postingan yang luas yang dilakukan oleh para pewarta, para jurnalis, baik yang sifatnya jurnalis legal maupun warga-warga yang ada di situ itu yang membuat akhirnya menjadi alternatif opini atau alternatif gagasan terhadap narasi-narasi yang dibuat oleh Barat termasuk negara-negara yang mendukung zionis," jelasnya.

Akhirnya, ia mengatakan, membuat anak-anak muda di Barat khususnya di AS bisa membedakan yang mana sejatinya diikuti. "Anak-anak muda ini memilih tidak terjebak dalam narasi-narasi media mainstream, tetapi mereka malah banyak mendapatkan asupan dari media-media non mainstream termasuk media sosial dan dari situ akhirnya mereka berani bersikap," terangnya.

"Pelajaran bagi kita semua upaya kita merepost memposting share berita-berita di media sosial isu Palestina itu, sebenarnya pasti akan bermanfaat bagi menyebarkan edukasi atau gagasan global terhadap Palestina," imbuhnya.

"Walaupun kita melakukan reshare repost di Indonesia, tetapi kalau kita memakai istilah algoritma makin dilihat makin repost banyak muncul di time line media social, itu yang membuat akhirnya baik di AS story-story atau time line media social akhirnya yang muncul isu-isu tentang Palestina, menurut saya bagus untuk selalu dipertahankan," pungkasnya. [] Alfia Purwanti

0 Komentar