TPPO Berkedok Mahasiswa Magang, PAKTA: Kejahatan Luar Biasa


MutiaraUmat.com -- Terungkapnya kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) melalui program kerja paruh waktu (part-time) ferienjob berkedok magang mahasiswa di Jerman, mengundang keprihatinan banyak kalangan. Direktur PAKTA (Pusat Analisis Kebijakan Strategis) Dr. Erwin Permana menilai kasus dengan korban 1.047 mahasiswa itu sebagai sebuah kejahatan yang luar biasa.

"Ini merupakan sebuah kejahatan luar biasa yang harus segera dicegah. Pelaku-pelakunya ini harus diperiksa," tuturnya kepada Mutiara Umat, Sabtu (30 Maret 2024).

Erwin prihatin karena menurutnya, sebagai generasi muda yang akan melanjutkan masa depan negeri ini, mahasiswa harusnya dididik dengan cara baik yang membentuk akal dan kepribadiannya.

"Dididik dengan cara baik, dengan prosedur-prosedur yang jelas, spesifik. Dibentuk akalnya, dibentuk kepribadiannya, sehingga kemudian terbentuk generasi muda yang berkepribadian yang tidak mudah terombang-ambing oleh buruknya peradaban sekarang ini," ujarnya.

Misleading Universitas 

Sementara itu, menanggapi banyaknya perguruan tinggi yang terlibat, sebagaimana diungkap Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri setidaknya ada 33 kampus yang terseret dugaan perdagangan orang berkedok mahasiswa magang ini, Erwin menilai telah ada misleading pada universitas.

"Sekarang itu ada semacam fenomena, dimana perguruan tinggi itu berlomba-lomba dalam hal perangkingan, baik Nasional maupun Internasional. Jadi menurut saya, ada semacam misleading, ya, kekeliruan dalam hal memandang universitas itu dikatakan berprestasi," ungkapnya.

Menurutnya, saat ini muncul pandangan bahwa universitas dikatakan berprestasi ketika memiliki WordPress University, tetapi dengan indikator yang kuantitatif semata, seperti berapa jumlah mahasiswa yang magang di luar negeri, jumlah dosen luar negeri yang mengajar, serta jumlah dosen yang mengabdi di luar negeri.

"Oke sekarang mereka magang di luar negeri. Apa indikator keberhasilannya? Apakah dengan magang seminggu, dua minggu itu, kemudian begitu pulang langsung canggih, gitu? Enggak. Jadi sangat kuantitatif, bukan proses yang bersifat kualitatif. Jadi itu masalah kita. Kita disibukkan dengan hal yang sifatnya administratif universitas, dokumen-dokumen gitu, tanpa memperhatikan aspek pembentukan kepribadian tadi itu," terangnya.

Karena itu ia menyayangkan, saat ini terdapat fenomena perguruan tinggi memiliki rangking tinggi, banyak guru besarnya, profesornya, tetapi kurang berpengaruh positif terhadap peningkatan nilai-nilai (kebaikan) si masyarakat.

"Kalau kita perhatikan, justru kontribusinya terhadap kebaikan nilai-nilai di tengah masyarakat ini kan makin merosot? Kita perhatikan sekarang, di tengah-tengah masyarakat kita, kan makin merosot kehidupan masyarakat sekarang kualitasnya? Kriminalitasnya tinggi, makin tidak mengerti ada etika, moral, gitu. Ini jadi problem di kita. Oleh karena itu, perlu diperbaiki," imbuhnya.

Konsep Harus Jelas

Sekalipun Dirjen Diktiristek Kemendikbudristek telah menegaskan kasus magang ferienjob ini tidak memenuhi kriteria kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), tetapi, Erwin menilai, MBKM itu sendiri belum jelas konsepnya.

"Merdeka belajar kampus merdeka itu juga tidak jelas konsep apa yang ingin dibangun di situ. Mahasiswa bisa mengabdi di luar? ya, terus kemudian setelah mengabdi di luar itu, arahnya mau dibentuk ke mana finishnya itu? Kalau hanya sebatas mengabdi di luar, ngabdi di dunia industri, katakanlah begitu, kalau begitu akhirnya mahasiswa itu jadi pekerja, kan?" ujarnya.

Ia menyayangkan, MBKM itu justru berpotensi membuat mahasiswa hanya menjadi pekerja (buruh) yang hanya akan menopang peradaban materialistis-kapitalis.

"MBKM ini justru membuat mahasiswa itu tuh menjadi pekerja, menjadi buruh, ya. Bukan menjadi intelektual yang akan membangun peradaban mereka. Akhirnya kalaupun ada adalah menjadi penopang peradaban materialistis, peradaban kapitalistis," pungkasnya. [] Saptaningtyas

0 Komentar