Akankah Moderasi Beragama Menjadi Solusi bagi Kerukunan Umat Beragama?


MutiaraUmat.com -- Forum Group Discussion (FGD) digelar oleh Forum Santri Jawa Barat (FSJB), bersama Forum Penggerak Moderasi Beragama dan Pemuda Sapu Bersih Hoaks, tentang Moderasi Beragama. 300 orang mahasiswa dan pelajar Kabupaten Bandung, menghadiri kolaborasi yang bertajuk Rotasi (Ruang Obrolan Asyik Di Bulan Ramadhan). "Penguatan Moderasi Beragama Sabagai Komitmen Menjaga Kerukunan, Toleransi dan Nilai Luhur Kebangsaan", menjadi tema dalam acara tersebut, yang diselenggarakan di kampus Unuversitas Bale Bandung, Kabupaten Bandung, pada selasa 19 Maret 2024.

Menurut Ketua Pelaksana, Resta Nugraha, bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk menjaga keharmonisan antara sesama pemeluk agama di Kabupaten Bandung, terutama di bulan suci Ramadhan, juga untuk menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama dan mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa. Beliau berharap melalui kegiatan tersebut bisa menguatkan moderasi beragama di Kabupaten Bandung. Pembuka acara, Rektor Universitas Bale Bandung Dr. Ir. H. Ibrahim Danuwikarsa, M.S., memberi sambutan, beliau mengatakan bahwa, pancasila merupakan anugerah yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Di dalam Pancasila dibahas tentang keberagaman budaya dan agama, dan pihak nya sedang merevitalisasi kurikulum, sehingga pelajaran agama wajib dilaksanakan di kampus. Dan dalam pelajaran agama dibahas tentang unsur-unsur moderasi agama, karena hal itu penting dilingkungan akademik khususnya bagi pelajar dan mahasiswa.

Semetara itu menurut, Kapolresta Bandung Kombespol Kusworo Wibowo, S.H., S.I.K., M.H., bahwa cara bersikap dan cara pandang atau prilaku beragama dan pihaknya meyakini bahwa agamanya yang benar, akan tetapi tidak memaksa orang lain untuk menganut agamanya, bahkan dalam Islam sudah diatur dalam surat Al- Kafirun, di dalam Pancasila pun sudah diatur pada butir ke-7, untuk tidak memaksakan agama lain. Adanya isu penolakan beribadah di Kabupaten Bandung, menurut Kapolresta, setelah diselidiki ternyata bukan penolakan beribadah, namun ternyata tempat ibadahnya tidak sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan.

Semua orang setuju bahwa kerukunan umat beragama harus terjalin, akan tetapi tidak harus memakai istilah moderasi beragama, karena sudah jelas dalam Islam, Islam sudah mengatur bagaimana cara bertoleransi terhadap agama lain. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Kafirun ayat 7, yang artinya "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku". Istilah moderasi beragama adalah, beragama secara moderat.

Faham ini muncul dari pemikiran sekuler dengan dalih toleransi beragama untuk menjaga kerukunan hidup beragama di Indonesia. Bahkan untuk saat ini mereka menyasar kepada pesantren-pesantren, pelajar dan mahasiswa, sehingga mereka diberikan pemahaman-pemahaman yang jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri dan mengikuti pemikiran sekularisme. Moderasi beragama selalu disandingkan dengan isu radikalisme, intoleransi, bahkan terorisme, yang terus digaungkan, padahal keduanya tidak sama dan tidak jelas maksudnya. Bahkan pemerintah makin serius untuk terwujudnya moderasi beragama. Pemerintah menganggap Istilah ini sebagai solusi permasalan bangsa, padahal sejatinya persoalan yang mendasar seperti persoalan, kemiskinan, stunting, kerusakan ahlak generasi, kerusakan moral, tidak pernah terselesaikan. Kalau ditelusuri hal ini menyasar ke dunia Islam, di mana kaum Muslim yang ingin menjalan kan syariat Islam dianggap bersikap radikal dan intoleran, dan tuduhan tersebut dijadikan alat untuk menyerang kaum Muslim yang ingin melaksanakan Islam secara kaffah. Sehingga jelas lah bahwa moderasi beragama adalah rival dari Islam radikal atau terhadap pemahaman Islam kaffah. 

Dari sini terlihat jelas bahwa istilah moderasi agama ini adalah berasal dari paham sekularisme yang diusung oleh para kafir barat untuk memecah belah umat Islam. Dan istilah moderasi agama ini adalah salah satu cara untuk membendung kekuatan Islam, apalagi dengan menyasar para pemuda dan pelajar supaya pemikiran mereka rusak jauh dari nilai-nilai Islam, karena mereka meyakini apabila umat Islam masih berpegang teguh pada agamanya pasti akan membahayakan para kafir Barat, sehingga mereka tidak leluasa mencengkram negri-negri Muslim dan mengeruk harta kekayaan alamnya. 

Islam agama yang sempurna, yang mengatur seluruh asfek kehidupan, termasuk bagaimana cara bertoleransi terhadap agama lain. Islam tidak hanya mengatur masalah akidah, ibadah dan akhlak, tetapi Islam juga mengatur seluruh aktivitas manusia. Jadi Islam tidak memerlukan yang lainnya, karena di dalam Islam semuanya sudah lengkap. Islam tidak perlu adanya moderasi beragama, karena ajaran Islam sudah lengkap menyangkut seluruh asfek kehidupan. Para pemuda muslim dan pada umumnya kaum muslim harus tau bahwa bahaya dalam moderasi beragama adalah toleransi kebablasan, yang akan merusak akidah kaum Muslim. 

Kaum Muslim juga harus tahu bahwa moderasi beragama ini diusung oleh negara imperialisme untuk melanggengkan penjajahan mereka di negeri-negeri Islam, dan untuk merubah sudut pandang kaum Muslim agar menerima pemikiran-pemikiran mereka. Dan sejatinya umat Islam harus tetap berpegang teguh pada syariat Islam, karena syariat Islam adalah standarisasi dalam seluruh perbuatan seorang Muslim. Inilah salah satu urgensi diterapkannya hukum-hukum Islam, agar dapat membendung paham-paham sekuler yang akan merusak akidah kaum Muslim.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Enung Sopiah
Aktivis Muslimah

0 Komentar