Nasionalisme Itu Penyakit

MutiaraUmat.com -- Nasionalisme adalah penyakit yang membuat kaum Muslim di suatu negeri memandang penderitaan kaum Muslim di negeri lain sebagai masalah asing. Masalah yang tidak ada kaitannya dengan mereka. Nasionalisme merupakan penyakit yang melucuti bangsa dan negara dari kemanusiaan. Nasionalisme membuat mereka lumpuh tak berdaya dan diam seribu bahasa atas genosida yang terjadi di depan mata tanpa kemauan politik untuk bertindak kecuali untuk kepentingan nasional mereka. Penyakit yang menyebabkan rezim Muslim tega mengusir Muslim yang putus asa mencari perlindungan di tanah mereka. Menolak mereka dengan pandangan sebagai orang asing yang berbeda kebangsaan atau etnis.

Dengan nasionalisme ini pula, penguasa Muslim mengkhianati kaum Muslim yang lain. Mereka tidak merasa bersalah saat membiarkan Muslim yang lain menderita. Tidak merasa berdosa saat Muslim lain teraniaya. Kekuasaan dalam genggaman mereka hanya digunakan untuk negaranya sendiri. Racun ini merata hampir di seluruh negeri-negeri muslim. Barat sukses menanamkan paham ini baik di level elite kekuasaan hingga rakyatnya. Bahkan secara politik para penguasa Muslim itu dikendalikan oleh Barat dan kahilangan kemandirian dalam mengelola negaranya.

Sejarah mencatat proses ini berlangsung cukup lama. Barat merencanakan melalui berbagai cara untuk memecahbelah kaum Muslim sejak khilafah masih ada. Barat mendesain pemecahbelahan dunia Islam dan menentukan penguasa-penguasa di negara bentukan Barat tersebut. Kemudian ideologi kapitalisme dicangkokkan ke dalam negara bangsa bentukan tersebut. Barat tidak mempersoalkan bentuk negara, mau bentuk kerajaan atau bentuk demokrasi, selama masih sejalan dengan kepentingan mereka, bukan sebuah masalah. Inilah yang terjadi saat ini.

Dampak dari ideologi kapitalisme ini menjadikan dunia Islam kian terpuruk. Sama seperti induk semangnya ideologi kapitalisme yang saat ini mengalami kehancuran. Barat yang gagal mengatasi permasalahan kemanusiaan di negaranya, menular ke dunia Islam. Umat Islam pun ikut rusak. Alih alih membawa kebaikan bagi dunia, gaya hidup sekuler-liberal yang menjadi ciri khas gaya hidup kapitalisme ini menimbulkan kerusakan yang parah. Manusia semakin jauh dari fitrah penciptaannya sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Bahkan perilakunya lebih buruk dari binatang.

Agama yang semestinya jadi tuntunan dalam mengatur kehidupan secara menyeluruh dijauhkan dari pengaturan urusan umat. Agama hanya diperbolehkan mengatur ibadah dan urusan pribadi penganutnya. Sementara urusan lain diserahkan pada hawa nafsu manusia. Hal ini yang menimpa dunia islam saat ini sama persis dengan yang terjadi di Barat. Tidak dapat dipungkiri, sesungguhnya kekuatan sebuah negara ada pada ideologi (akidah)-nya. Saat kaum Muslim melepaskan Islam sebagai ideologinya kemudian mengambil ideologi lain selain islam, inilah awal kelemahan itu terjadi. Menanggalkan Islam sebagai ideologi berarti menanggalkan kekuatan yang selama ini membersamai mereka
Lihatlah bagaimana dulu Rasulullah saw  menantang dua negara adidaya saat itu, Romawi dan Persia. Padahal saat itu madinah sebagai negara Islam adalah sebuah negara kecil. Kekuatan militer yang mereka miliki tidak sebanding dengan kekuatan militer Romawi ataupun Persia kala itu. Bahkan jika dibandingkan dengan kekuatan militer bangsa Arab pun masih jauh. Rahasia kekuatannya tentu ada pada ideologi (akidah) Islam, yang bertumpu pada kalimat tauhid: laa ilaaha illallah, Muhammad Rasuulullaah. Inilah kalimat yang akan mampu membangkitkan kekuatan pada diri umat Islam. Dengan kalimat ini kaum Muslim mempunyai kehormatan dan kemuliaan di hadapan manusia yang lain.

Dengan kalimat ini pula kaum Muslimin akan memiliki persatuan yang kokoh bahkan memiliki institusi negara adidaya yang hebat. Institusi yang akan menyelamatkan umat Islam dari penderitaan dan keterpurukan, membebaskan mereka dari penjajahan dan pembantaian serta mengantarkan mereka menuju kemuliaan. Institusi yang akan melenyapkan sekat pembatas dan penghalang kaum Muslim atas Muslim yang lain. Institusi yang akan melenyapkan sekat nasionalisme dari tubuh umat. Institusi pemersatu umat itu tidak lain adalah khilafah. Allahu akbar!


Oleh: Cicin Suhendi
Pengajar Hagia Sophia IBS Sumedang

0 Komentar