Menderita di Tanah Surga

MutiaraUmat.com -- Banyak pepatah mengatakan bahwa tanah ini adalah tanah surga. Tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman.

Namum kenyataannya tidak demikian, nasib rakyat sangat memprihatinkan. Jangankan hidup enak berkecukupan, untuk sekedar makan pun rakyat nyaris mati kepayahan.

Bahan makanan pokok terus melambung tinggi jelang bulan suci Ramadhan, beras dan telur ayam asyik kejar-kejaran harga di pasaran.

Gambaran Indonesia tanah surga itu kini hanya jadi isapan jempol belaka. Pepatah tinggallah pepatah yang memang hanya terdengar indah di lidah.

Bahan pokok serba mahal, BBM dan tarif dasar listrik kian mencekik. Banyak lelaki jadi pengangguran sebab lapangan pekerjaan yang sulit didapatkan.

Biaya kesehatan mahal, rakyat kecil tidak boleh sakit jika tak sanggup menebus biaya konsultasi dan resep obat.

Anak-anak banyak yang tak  bisa mengenyam bangku pendidikan. Walhasil banyak diantara mereka memilih hidup di jalanan.

Itu hanya sedikit potret kepayahan yang dirasakan rakyat yang hidup di negeri tanah surga. Padahal negeri ini sangat kaya raya. Gunung emas ada di Jayapura, Pulau Laut yang berada di Kalimantan Selatan menyimpan gunungan batu bara terbesar, Blok Rokan di Riau menjadi daerah penyumbang minyak bumi terbesar. Itu semua adalah bagian dari negeri Indonesia yang dikatakan sebagai tanah surga.

Katanya negara ini negara agraris, namun mengapa beras berada dititik kritis?

Memang benar adanya, Indonesia ini bak surga dunia dimana segala kekayaan alam ada di sini. Namun anehnya, kenapa rakyat malah menderita?

Apakah sebutan negeri tanah surga itu keliru? Tidak! Itu semua benar, namun pengelolaannya lah yang salah.

Bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya seharusnya dikelola dan dikembangkan oleh negara. Hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat.

Tapi di Indonesia semua kekayaan alam itu diserahkan kepada segelintir orang yang punya duit. Wajar jika rakyat tidak sedikitpun merasakan hasil maha karya Tuhan yang Maha Kuasa ini.

Semua ini terjadi karena sistem yang ada di Indonesia yang menyebabkan para konglomerat bebas menguasai tambang-tambang. Asing dan Aseng saling berlomba mengeruk kandungan bumi Ibu Pertiwi.

Kapitalisme menyebabkan negeri ini tak berdaya yang mengakibatkan rakyat penuh penderitaan. Kapitalisme memiliki prinsip siapa yang punya harta maka dialah yang berhak berkuasa, termasuk menguasai negara bahkan dunia.

Inilah sumber masalah rakyat Indonesia yang tinggal di tanah surga namun hidup penuh dengan penderitaan.

Sudah saatnya kita mengembalikan predikat Indonesia sebagai tanah surga yang mampu mengidupi rakyatnya dengan kekayaan alam yang kita puya.

Itu semua bisa menjadi nyata saat sistem yang selama ini menjerat negara diganti dengan sebuah sistem yang mampu berjalan bersama mensejahterakan rakyat.

Khilafah Islamiyah sistem pemerintahan warisan baginda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang kelak akan mampu hapuskan kekejaman Kapitalisme, mengembalikan hak-hak rakyat, dan mensejahterakan umat.

Dalam sistem Khilafah kekayaan alam wajib dikelola dan dikembangkan oleh negara. Hasilnya diberikan kepada seluruh warga negara tanpa kecuali, iman atau kafir, tua atau muda selama mereka taat kepada Khalifah dan ada di wilayah negara Khilafah maka semua berhak merasakan hasil kekayaan alam Indonesia. Ini sangat berbeda jauh dengan negara yang menganut sistem Demokrasi Kapitalisme. 

Maka hanya dibawah panji Islamlah harkat martabat kaum Muslim berada. Dibawah komando Khalifah lah kesejahteraan rakyat Indonesia terjaga.


Oleh: Cecep Riyansyah
Aktivis Muslim

0 Komentar