Maraknya Kasus Bullying karena Marak Budaya Kekerasan

MutiaraUmat.com -- Merespons makin maraknya kasus perundungan di kalangan pelajar, bahkan hingga berujung kematian, Cendikiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto mengatakan kasus perundungan ini dipengaruhi banyak faktor. 

Pertama, marak budaya kekerasan, baik kekerasan secara verbal seperti caci-maki dan kekerasan secara fisikal berupa faktual dan artifisial. 

"Artifisial itu misalnya tampak pada games, memang sekadar permainan, tetapi ketika permainan itu berwujud kekerasan saling hantam, pukul, tembak pada satu kadar tertentu saya kira itu akan memberikan pengaruh alam berpikir anak bahwa kekerasan itu sebuah kebiasaan. Sering saya sebut lumrahisasi kekerasan, saya kira ini satu hal yang hampir tak terkontrol karena games itu menyebar melalui media sosial, aplikasi, internet yang bahkan orang tua sendiri tidak bisa mengontrol," paparnya dalam Program Fokus to The Point: Penting! Begini Cara Babat Habis Bullying! di YouTube UIY Channel. 

Menurutnya, ketika seseorang telah kecanduan games akan mendorongnya untuk mencapai level yang lebih tinggi dan level yang lebih besar yang tantangannya pun lebih besar. 

"Misalnya kalau membunuh, membunuh lebih banyak, melukai, melukai lebih besar dan ini jelas sekali berpengaruh kepada anak-anak yang sedang tumbuh. Yang mestinya pikiran, perasaan mereka itu dipenuhi dengan hal kebaikan, kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, penghargaan terhadap jiwa dan segala macamnya itu, yang terjadi malah sebaliknya, diracuni hal-hal tadi itu," ujarnya.

Kedua, kekerasan faktual dari tontonan fiksi seperti tayangan kekerasan di film-film action maupun akses informasi tentang tawuran, perkelahian dan lain sebagainya. 

"Itulah yang disebut violence culture (budaya kekerasan) itu hinggap kepada anak anak. Ketika anak-anak itu punya persoalan, sedikit-sedikit kemudian dia akan terdorong, dan itu bukan hanya terjadi pada siswa santri, tetapi juga pada pembina atau pada senior itu bisa terjadi. Bisa terlihat pada beberapa kasus yang pelakunya senior yang mestinya ia punya kedewasaan dalam berpikir, tetapi pada faktanya kan tidak. Kenapa itu bisa terjadi? itulah budaya kekerasan itu membuat tangan itu seperti seolah-olah dengan mudah melayang, memukul dan konon katanya  merasa belum selesai kalau belum memukul ditambah dengan kemarahan. Nah ini yang saya kira berpengaruh besar kepada anak-anak yang sedang tumbuh di sekolah atau di pesantren sedemikian rupa.  Akhirnya berulang terjadi aksi perundungan di beberapa sekolah dan pesantren," jelasnya. 

Selain budaya kekerasan, tambahnya, hari ini kita tengah digempur juga dengan budaya materialisme, yang menjadikan hiburan itu sekadar memenuhi hasrat kesenangan. 

"Nah yang terjadi ini hari adalah bahwa dalam peradaban materialisme, hiburan itu betul-betul mengeksploitasi. Mengekpoloitasi apa? Mengeksploitasi seksualitas, kekerasan, kekuatan, kemudian penghancuran dan sebagainya," ungkapnya. 

Ia mengungkapkan, bahwa persoalan perundungan ini hanya bisa diatasi oleh Islam. 

"Harus muncul peradaban alternatif, peradaban yang tumbuh dari sebuah kasih sayang dari kesadaran ibadah, intinya gitu.
Ketika ibadah maka semuanya diukur dengan ketentuan syariah, halal dan haram, baik dan buruk, kemudian yang paling utama adalah penghargaan terhadap jiwa atau nyawa. Betapa pentingnya jiwa atau nyawa di dalam Al-Al-Quran dikatakan kita ini tidak boleh membunuh siapa pun without any legal reason istilahnya tanpa alasan yang dibenarkan syariah. Maka kalau orang membunuh tanpa alasan yang dibenarkan syariat maka dia bagaikan membunuh  seluruh umat manusia," jelasnya. 

Ia juga membeberkan ketika hukum Islam diterapkan ada sanksi diyat (denda) terkait membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, ini membuktikan begitu berharganya nyawa manusia, Islam menetapkan satu nyawa atau seluruh tubuh diyatnya 1000 dinar (4,25 gram emas) atau setara lebih dari empat miliar.

"Itu menunjukkan bahwa tubuh ini juga harus dijaga, harus dihormati. Jika peradaban ini yang dominan dan ketika Islam memimpin. Maka peradaban yang tidak seperti itu akan menjadi minor, hilang sama sekali mungkin tidak, karena yang fujur dan taqwa tetap aja ada. Tapi orang lebih tertarik kepada hal yang lebih baik, itu peradaban Islam yang Rahmatan Lil Alamin," pungkasnya. []Tenira

0 Komentar