Kerusakan Moral Generasi Tak Terkendali, Bagaimana Islam Mengatasi?


MutiaraUmat.com -- Jika kita melihat pemberitaan kejahatan di media sosial seolah tak ada habisnya. Mirisnya semakin kesini pelakunya maupun korban masih belia alias di bawah umur. Seperti yang baru-baru ini terjadi seorang siswi SMP di Lampung Utara diperkosa dan disekap selama 3 hari di sebuah gubuk. Pemerkosaan ini dilakukan oleh 10 orang pelaku, 6 di antaranya di bawah umur dan 4 orangnya adalah orang dewasa namun berhasil kabur dari kejaran kepolisian. N (15 Tahun) ini ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan dan tidak diberi makan selama 3 hari hanya dicekoki dengan miras (regional.kompas.com, 15/3/2024).

Di Bekasi juga terjadi "perang sarung" yang berhasil memakan korban hingga tewas. Kejadian serupa terjadi di Pangkal Pinang dalam waktu 3 hari berturut-turut polisi mengamankan 22 orang yang mayoritas pelakunya adalah pelajar SMP dan SMA.

Di Kendari, Sulawesi Tenggara (22/3/2024), 2 orang siswi SMP melakukan pengeroyokan kepada temannya hingga pingsan. Dalam video beredar, I (pelaku) tega menendang korban hingga pingsan. Akibat perbuatannya ini pelaku diancam 5 tahun penjara.

Sungguh kian hari kita menyaksikan potret kehidupan generasi muda hari ini mengerikan. Generasi muda harapan bangsa justru membuat negara ini pupus harapan dengan segala kebejatan dan tindak kriminal yang dilakukan.


Potret Generasi Masa Kini

"Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia". Penggalan kalimat dari Bapak proklamator Ir. Soekarno ini menyiratkan arti bahwa pemuda adalah tumpuan harapan bangsa yang akan mengubah masa depan bangsa. Berkualitasnya suatu bangsa salah satunya adalah bagaimana peran pemuda dalam membangun bangsa. Namun, apa jadinya jika pemuda kita seperti kasus diatas?

Maraknya pelajar menjadi pelaku kejahatan mencerminkan bobroknya kualitas generasi hari ini. Generasi muda hari ini adalah lahir dari peradaban sekuler dan liberal. Di mana mereka hidup dengan nilai-nilai bebas yang berkembang di masyarakat. Mereka tidak lagi terikat dengan nilai dan norma bahkan nilai agama jauh dari kepribadian mereka. Inilah hasil didikan pendidikan sekuler yang memisahkan antara agama dengan kehidupan.

Ditambah generasi muda hari ini dijejali dengan konten dan tontonan yang memperlihatkan kekerasan seksual yang dengan mudahnya didapatkan dikarenakan gadget yang menyediakan suguhan informasi yang beragam tanpa adanya filter individu maupun negara.

Di sisi lain, banyaknya pelajar yang menjadi pelaku kejahatan mempertanyakan akan sejauh mana peran kurikulum dalam membentuk karakter yang berkualitas bagi generasi muda.


Sistem Pendidikan dalam Islam

Dalam Islam pendidikan dianggap sebagai salah satu pilar pembentukan pribadi yang baik. Maka penting untuk melihat asas yang menjadi pilar penentu baik atau tidaknya sistem tersebut. Pendidikan Islam berasakan akidah Islam yakni menjadi Al Khaliq sebagai pengatur kehidupan kita. Aturan kehidupan lahir dari Sang Pencipta. Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Sehingga tak salah bahwa yang menjadikan Islam sebagai pedoman Allah menjamin kehidupan terbaik di dunia maupun di akhirat.

Jika dalam sistem sekuler proses pengajaran belum berhasil membentuk pola sikap yang baik bagi peserta didiknya. Terbukti pergantian kurikulum dari waktu ke waktu nyatanya belum menemukan pola yang ideal. Alhasil generasi justru terbebani dengan berbagai macam metode belajar yang didapatkannya. Alih-alih revolusi mental yang ada justru penyakit mental yang banyak menimpa generasi muda.

Lain halnya dalam Islam pendidikan adalah upaya sadar dan terstruktur untuk melahirkan insan-insan terbaik dan bermanfaat bagi sesama. Salah satu metode pengajaran yang digunakan adalah metode talqiyan fikriyyan atau dikenal dengan metode rasional yaitu proses pemindahan ilmu kepada orang lain dengan cara mentransfer hasil penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak kemudian dihubungkan dengan kejadian atau informasi sebelumnya untuk menginterpretasi fakta tersebut.

Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk manusia yang bersyakhsiyah Islam, pola pikir dan sikapnya adalah berdasarkan tuntunan wahyu dan sunah Rasulullah SAW yang dimana dalam perjalanan hidupnya manusia secara sadar perbuatannya harus terikat dengan aturan Sang Pencipta.

Maka untuk mendapatkan generasi berkualitas butuh peran berbagai macam pihak mulai dari orangtua yang mendidik dan menanamkan nilai-nilai dasar Islam, sekolah yang memiliki kurikulum Islam yang tak kalah penting adalah negara yang memberikan kebijakan yang harusnya sesuai dengan fitrah manusia yakni berasal dari Sang Pencipta Allah SWT, maka amalnya pun harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah Ta'ala.

"Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya." (Hadis Shahih).

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Nurhayati, S.S.T.
Aktivis Muslimah

0 Komentar